Makassar boleh berbangga, terlebih bangsa Indonesia, pun umat Muslim di seluruh dunia. Lahirnya seorang anak bernama Mashita Putri Nashira merupakan sebuah anugerah tak terkira bagi kedua orangtuanya bahkan untuk Islam.

Gadis cilik yang kini berusia 8 tahun ini merupakan salah satu finalis acara Hafiz Indonesia 2016 yang tayang sejak 8 Maret di stasiun televisi RCTI ini.

Tak hanya semangat dan keceriaannya yang mencuri perhatian banyak orang, namun hafalan Qur’annya yang luar biasa membuatnya menjadi salah satu sosok cilik yang layak dijadikan teladan bagi siapapun.

Yang mengharukan, kondisi fisik Mashita berbeda dari anak sebayanya. Dimana saat pertumbuhan ini adalah mereka harusnya bahagia bermain bersama teman, namun Mashita mengalami keterbatasan.

Mashita adalah anak tuna netra dengan keadaan fisik yang tidak normal pada matanya. Namun bukan Mashita namanya jika gadis ini tak ceria. Dia selalu ceria bahkan semangat dalam menjalani hari-harinya.

Lahir Dengan Kondisi Fisik yang Tidak Normal

Inkubator-1-1080x500
codziennik.tv

Mashita lahir pada tanggal 1 Juli 2008, dengan kondisi tubuh yang tak sewajarnya seperti bayi baru lahir kebanyakan.

Pada saat lahir berat Mashita jauh di bawah normal, yaitu hanya seberat 1 kg. Sehingga hal itu membuat gadis cilik luar biasa anak pasangan Nasruddin dan Irawati harus di masukkan ke dalam inkubator.

Allah menunjukkan kasih sayangNya yang luar biasa pada calon penghafal Qur’an masa depan ini, Mashita bertahan hidup dan terus tumbuh sehat serta lincah, walau memiliki kekurangan pada kedua matanya.

Mashita Masuk SLB

maxresdefault
youtube.com

Karena keterbatasan fisiknya tersebut, orangtua Mashita memasukkannya ke Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan berharap Mashita bisa belajar walau tak semaksimal teman-temannya yang memiliki fisik normal.

Bukan malu atau minder, Mashita ternyata sangat tekun dan tumbuh menjadi anak cerdas. Tak hanya itu, yang mengagetkan adalah karena dalam kondisi keterbatasan tersebut Mashita mampu menghafal tuntas juz 30 Al Qur’an.

Bahkan Nasruddin, sang Ayah, sendiri kaget. Karena selama ini dia dan istrinya, Irawati, tak terlalu sering mengajarinya Al Qur’an karena kasihan dengan kondisi puterinya tersebut.

Ternyata, Mashita gemar mempelajari Al Qur’an dengan metode pendengaran, mengingat kondisi fisik di matanya yang mengalami kekurangan dalam melihat tersebut.

Asma’ul Husna Selalu Terlantun dari Mulutnya

tuna-netra-penghafal-al-quran_20160306_180448
makassar.tribunnews.com

Benarlah sebuah perkataan bahwa siapapun yang menghafalkan dan mempelajari Al Qur’an maka akhlaqnya akan terbentuk menjadi akhlaq yang Qur’ani.

Begitupun dengan Mashita ini. Semangatnya dalam menghafalkan Al Qur’an menjadikan sosoknya memiliki akhlaq Qur’ani yang patut ditiru.

Dari mulutnya selalu terlantun asma’ul husna, nama-nama agung Allah, “Ya Rahmaan, Ya Rahiim, Ya Rabbi..”.

Dalam keadaan sedih, senang, dan bagaimanapun, Mashita fasih melafalkan nama-nama agung Allah tersebut, seakan tak ada yang lebih layak dia cintai selain Tuhannya, Allah SWT.

Begitulah sekilas kisah tentang si cilik Mashita yang pada setiap penampilannya di acara Hafiz Indonesia selalu mengundang haru dan kagum siapapun yang melihat.

Semoga dengan kisah Mashita yang masih berusia dini dengan semangat belajar Al Qur’an luar biasa walau memiliki kekurangan fisik ini dapat menampar kita semua untuk mau lebih semangat lagi dalam mempelajari Al Qur’an.