Cukup banyak pemuda dan pemudi sekarang ini yang sangat enggan untuk membahas urusan pernikahan. Jika membahasnya saja sudah enggan, apalagi menjalaninya. Padahal, dalam agama Islam, jelas-jelas Allah sampaikan bahwa kebaikan dalam menikah begitu luar biasa.

Sebagian dari mereka yang enggan untuk menikah ini umumnya mengatakan bahwa mereka takut untuk menikah. Alasan paling besar karena urusan material. Karena mereka merasa masih sangat jauh dengan status mapan. Mencukupi diri sendiri saja masih susah, apalagi merawat orang lain.

Lalu, apakah benar alasan material seperti itu pantas dijadikan dasar sehingga sah-sah saja seseorang menunda untuk menikah, bahkan hingga di usia yang tidak muda lagi? Beberapa renungan ini mungkin bisa menjawabnya.

1Kekhawatiran dan Keoptimisan Haruslah Berimbang

maxmanroe.com

Seringkali para pemuda yang enggan menikah karena kekhawatirannya terlalu besar daripada keoptimisannya. Bahkan ada yang tidak memiliki keoptimisan sama sekali.

Pikirannya melulu soal berapa biaya yang harus dikeluarkannya untuk mahar dan resepsi, kebutuhan sehari-hari dengan gaya hidup mewah, membeli rumah, membeli mobil dan sebagainya. Belum lagi kalau ada anak, muncul biaya-biaya seperti menyekolahkan anak, uang saku, les dan seterusnya.

Lalu melihat pendapatan bulanan sekarang bilamana dihitung-hitung tidak cukup untuk kebutuhan pasca pernikahan.

Padahal, bagi orang-orang yang menikah, Allah akan sempurnakan agamanya. Tercipta pula potensi-potensi kebaikan yang hanya bisa diperoleh ketika berumah tangga. Misalnya untuk pahala sholat saja, orang yang sudah menikah dengan yang belum menikah juga berbeda.

Allah menjamin orang-orang yang menikah semata-mata karena-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

2Janji Allah Itu Pasti

gudangnews.info

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. An Nur ayat 32)

Cukup dengan belajar pada orang-orang dengan kondisi perekonomian di bawahmu. Mereka juga berkeluarga, dengan istri dan anak-anak yang hidup tidak kekurangan.

Kuncinya ada pada rasa syukur atas setiap nikmat yang mereka dapatkan. Karena Allah telah berjanji menjamin rezeki atas setiap makhluk-Nya.

3Motivasi Bekerja Bertambah Kuat

sayaderi.blogspot.com

Pasca menikah, tanggung jawab yang kamu emban pun bertambah. Jika sebelumnya mungkin kamu hanya bertanggung jawab atas dirimu, namun kini ada seorang istri yang juga menjadi tanggunganmu. Dan sebentar lagi ada anak yang menjadi tanggung jawabmu.

Maka, yang biasanya kamu bisa santai bekerja di kantor, menolak banyak lembur, menyepelekan kepuasan klien atau menunda pekerjaan. Kini, itu semua tidak dapat kamu teruskan menjadi kebiasaan. Haruslah memulai kebiasaan baru agar lebih produktif lagi dalam bekerja.

4Anak Membawa Rezeki Masing-masing

sigambar.com

Hidup tidak bisa selalu dihitung dengan kalkulasi matematika. Mungkin kalimat ini sangat pas untuk memperkuat sebuah filosofi orang Indonesia jaman dahulu yang kini sudah banyak yang menentangnya. Yaitu filosofi banyak anak, banyak rezeki.

Banyak kejadian yang dirasakan oleh orang-orang yang baru saja mendapat momongan. Tanpa diketahui apa alasannya, tiba-tiba seorang karyawan mendapat tunjangan dari kantor tempatnya bekerja. Atau jika seorang pengusaha, tiba-tiba pelanggan bertambah dan omset melejit.

Semua itu tidak akan terjadi tanpa ada kehendak dari Allah kepada para makhluk-Nya.