Bersatunya dua insan dalam satu rumah tangga bukan berarti meleburkan dua pribadi yang berbeda menjadi satu. Tidak akan pernah identik antara suami-istri walaupun punya banyak kesamaan sifat.

Dari jenis kelamin sudah berbeda, latar belakang keluarga, pendidikan, karakter semuanya dipertemukan karena cinta, dan cinta yang merubah perbedaan menjadi saling pengertian.

Ketika saling pengertian ini mulai luntur karena berbagai masalah, maka pertengkaran adalah bom waktu yang bisa datang kapan saja. Rumah tangga adalah hubungan dinamis yang tidak jarang banyak masalah yang menimpa.

Masalah-masalah ini akan bergulir menjadi konflik karena satu pihak menyalahkan pasangannya atas masalah yang mendera. Perlu diingat konflik bukanlah cela, tapi keniscayaan dalam rumah tangga.

Konflik itu bukan berarti pertengkaran, konflik justru akan menguatkan hubungan jika dapat dikelola dengan baik.

Marie Hartwell Ed.d, psikolog dan konselor pernikahan dari University of Massachusetts, Amherst, AS memberikan tips menghadapi konflik.

Dia mengatakan, pasangan dalam pernikahan sehat harus menguasai teknik fair fighting saat menghadapi konflik dan mencari solusi guna menjembatani perbedaan.

Tujuannya agar konflik tidak sampai merusak atau meninggalkan luka batin serta kebencian.

Apa saja teknik fair fighting yang diangkat Marie? ini dia 7 teknik tersebut.

1Fokus Terhadap Masalah

7twist.com

Saat ada konflik apalagi sampai bertengkar, pasangan sering ngelantur dan keluar dari hal yang dipermasalahkan. Jika emosi sudah menguasai diri, hinaan, cacian, makian, sumpah serapah keluar dengan mudahnya.

Padahal nantinya masalah bisa diselesaikan, tapi kata-kata kasar akan terus diingat dan menggumpal menjadi kebencian. Sekali dua kali pasangan masih bisa menolelir, namun jika terus-menerus terulang tentu pasangan akan menjadi ilfil.

Bahas satu-persatu permasalahan dengan sabar, jangan berganti topik permasalahan kalau belum ada kata sepakat diantara kedua pasangan.

2To the Point Pada Pokok Persoalan

ummi-online.com

Bicaralah to the point kepada pasangan, apa yang kamu tuntut dan inginkan dari dia. Sering kali orang bicara terlalu luas dan tidak dapat dimengerti. Contohnya perkataan, “Saya sakit hati karena kamu tidak respek pada saya.”

Makna “tidak respek” itu terlalu luas, bisa saja pasangan salah tebak sehingga mengulangi perbuatannya.” Sampaikan secara lugas, misal, “Saya tidak suka tidak dilibatkan dalam memutuskan hal sepenting itu,”

Kata di atas lebih mudah dimengerti ketimbang menggunakan kata respek.

3Tidak Saling Menyalahkan

yukcurhatyuk.com

Jika ada konflik jangan terbawa emosi. Kalau dalam pikiran terlalu panas, tentu yang ada hanya saling menyalahkan dan ingin benar sendiri. Tenangkanlah pikiran terlebih dulu, setelah cooling down sempatkan untuk introspeksi diri.

Apakah saya sepenuhnya benar dan pasangan saya sepenuhnya salah? Apakah saya ada jadi sumber pemicu atau menambah konflik? Itu yang yang harus kamu tekankan. Rumusnya do not fight to win, but to fight for your relationship.

4Hindari Kata “Selalu” dan “Tidak Pernah”

Ini kata yang ‘lebay’ kalau lagi dalam pertengkaran. Kamu selalu begini dan begitu, seakan-akan pasangannya ditempatkan dalam posisi selalu salah dalam satu hal.

Begitu juga dengan kata tidak pernah, misal, “kamu nggak pernah membahagiakan aku.” Itu kalimat yang benar-benar ‘lebay’, bagaimana mungkin pasangan suami istri nggak pernah saling membahagiakan. Padahal awal pengantin saja sudah bahagia.

Hindari dua perkataan itu jika tidak ingin menyakiti pasanganmu.

5Demi Masa Depan, Jangan Ungkit Masa Lalu

ummi-online.com

Jangan pernah mengungkit-ungkit masa lalu pasangan kamu, kalau ingin perkawinan tidak retak. Biasanya dalam pertengkaran agar melemahkan pasangan, lantas diungkit-ungkit masa lalunya yang negatif agar dia selalu dalam posisi bersalah.

Menurut terapis pernikahan Dr Gail Gross, Ph.D, pria paling muak dan bisa nekad jika terus dibombardir dan diingatkan kembali akan dosa masa lampau. Cobalah untuk mengubur dendam dan move on.

6Terbuka Menerima Kritikan

muslimahcorner.com

Butuh sikap dewasa untuk menerima kritikan tentang kekurangan dan kesalahan kita. Tapi kritikan dari pasangan itu sangat penting agar terjalin saling pengertian.

Cara terbaik menyelesaikan konflik tanpa pertengkaran juga dengan jalan salin memberi dan menerima kritikan dengan ikhlas. Kalaupun ternyata kritikan itu tidak benar, nggak masalah melakukan pembelaan asal dengan tenang dan argumentatif.

7Ambil Jeda dan Lakukan Pendingingan

ummi-online.com

Tidak semua konflik dapat diselesaikan dengan sekali waktu. Jika otak sudah memanas, omongan akan ngelantur dan tidak lagi bisa berpikir logis. Ambillah jeda untuk sementara dan lakukan pendinginan (cooling down).