Anak adalah karunia yang besar bagi setiap orang tua. Segenap cinta kasih akan ditumpahkan kepada sang buah hati. Begitu juga dalam mengasuh anak, orang tua pasti memilih cara yang terbaik dalam pengasuhan itu.

Cara yang terbaik dalam mengasuh tak jarang banyak perbedaan antar orang tua. Baik karena keragaman budaya maupun karena pengalaman dan pengetahuan yang berbeda.

Pengalaman ayah ibu ketika diasuh oleh orang tuanya dulu paling berpengaruh, dan menjadi tradisi turun temurun. Namun, seiring perkembangan pengetahuan, sedikit banyak juga turut menggeser paradigma lama.

Seringkali perbedaan dalam mengasuh anak itu menjadi perdebatan, mana yang paling baik? Tentu semisal keduanya sama-sama ada unsur kebaikan tidaklah perlu dibenturkan.

Namun, jika ada indikasi kesalahan yang berakibat buruk pada anak, alangkah lebih baik untuk dihindari. Untuk lebih jauhnya mari simak perbedaan cara mengasuh anak yang sering menjadi perdebatan.

1Menghukum Anak dengan Fisik

ummi-online.com

Metode pengajaran anak ini sangat akrab masyarakat Indonesia zaman dulu. Orang tua memukul anak karena bandel, guru memukul tangan siswa karena tidak memotong kuku, dan contoh lainnya.

Metode ini dianggap ampuh untuk membuat anak jera dan takut untuk mengulanginya lagi. Namun, dalam penelitian psikologi, ternyata cara ini malah lebih banyak efek buruknya ketimbang manfaat untuk anak.

Anak pada kekerasan dari orang tua yang intens akan mengalami masalah psikologis, yakni mengulangi kekerasan kepada lingkungannya nanti. Entah kepada rekan atau pasangannya, atau bahkan kepada anaknya kelak.

abiummi.com
abiummi.com

Anggapan bahwa menghukum anak dengan fisik akan membuatnya jera dan takut mengulanginya juga keliru. Yang terjadi anak hanya jera dan tidak mengulangi karena dipantau orang tuanya.

Jika tidak ada orang tua, maka perbuatan salah terus saja diulang. Jadi anak dibuat takut dengan orang tua, padahal seharusnya anak dibuat takut dengan kesalahan yang berdampak buruk baginya.

2Membiarkan Bayi Menangis Sampai Lelah

ummi-online.com

Seorang dokter yang juga pakar anak Dr. Richard Feber menyampaikan ini dalam buku karangannya. Membiarkan bayi menangis saat ia terbangun di malam hari tidak ada apa-apa bahkan membuatnya tidak menjadi manja.

Namun, ini tentu menjadi pro kontra karena dinilai terlalu kejam pada anak yang masih balita. Membiarkan bayi menangis juga berakibat buruk bagi perkembangan emosionalnya karena ia merasa diacuhkan dan ditolak.

Walau dinilai tak baik, tapi metode ini banyak juga diterapkan orang tua bayi, terutama bagi orangtua yang kelelahan setelah seharian bekerja dan mengasuh anak.

3Tidur Bersama Bayi

tokopedia.com

Ini metode yang sering dilakukan oleh orangtua di Indonesia. Rasa sayang yang selalu ingin di dekat bayi, juga agar mempererat ikatan dengan bayi menjadi alasannya.

Berbeda dengan pengasuhan di barat yang lebih sering memisahkan bayi dengan orang tuanya. Bisanya diletakkan di boks bayi kamar yang sama atau kamar yang lain.

Alasannya agar anak tidak manja dalam pertumbuhannya dan terbiasa tidur sendiri. Alasan yang paling penting yakni agar bayi terhindar SIDS (Sudden Infant Death Syndrome / sindrom kematian bayi mendadak) karena tertindih tubuh ibunya.

Cara yang kedua mungkin lebih aman, namun tidur bersama bayi juga tidak masalah asal tidak terlalu sering dan saat kondisi ibu masih terjaga.

4Akhir Masa Menyusui

sehatdanfit.com

Ini juga sangat fleksibel antar masyarakat dan bahkan antar ibu di kultur yang sama. Kadang-kadang juga tergantung perkembangan anak, apakah ASI sudah mencukupi atau belum.

Secara medis, akhir masa menyusui dianjurkan pada usia bayi 2 tahun. Namun, di Indonesia sendiri lebih sering menghentikan ASI pada anak pada usia 12 bulan.

Dalam Kitab Suci Umat Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, menganjurkan untuk membatasi ASI sampai dengan dua tahun, yang berarti sesuai dengan anjuran medis.

5Toilet Training Pada Anak

intelligentnest.com

Walau bukan hal terlalu primer bamun para orangtua sering sekali mendebatkan masalah ini. Kapan waktu yang paling tepat untuk melatih balita buang air kecil sendiri (toilet training).

Sebagian berpendapat pada usia 2 tahun, ada juga yang meyakini usia 3 tahun paling tepat untuk toilet training. Karena tidak ada anjuran medis tertentu, semuanya kembali pada kondisi orang tua dan anak itu sendiri.