82wildlifephotography.wordpress.com

Sejarah dan Keunikan Burung Jalak Bali yang Dilindungi

Posted on

Memiliki nama latin Leucopsar rothschildi, burung ini di Indonesia lebih dikenal dengan Burung Jalak Bali. Ukurannya sedang karena memiliki panjang hanya sekitar 25 centimeter. Burung pengicau yang hanya bisa ditemukan di Indonesia ini juga memiliki beberapa cirri khusus.

Diantaranya seperti bulu putih di seluruh bagian tubuhnya serta warna hitam pada ujung ekor dan sayap. Selain itu, pada sisi kepala di dekat daerah mata tidak ditemukan adanya bulu dengan warna biru cerah. Berbentuk lancip seperti memakai celak a la manusia. Pada kaki terdapat warna keabu-abuan.

Antara burung jantan dengan burung betina tidak ada perbedaan ciri fisik yang begitu mencolok.

Menurut sejarah, pada tahun 1912, seorang berkebangsaan Inggris bernama Walter Rothschild pertama kali mendeskripsikan burung endemik spesies ini dalam dokumentasi ilmu pengetahuan. Yaitu 2 tahun setelah penemuan pertamanya di tahun 1910.

Saking khas endemiknya, burung ini bahkan tidak dapat ditemui di seluruh Pulau Bali. Hanya di kawasan hutan bagian barat pulau dewata inilah Burung Jalak Bali dapat ditemukan. Sehingga burung jenis kicauan ini menjadi maskot atau simbol fauna Pulau Bali.

Kini pun pemerintah telah mengatur dan melindungi keberadaan Burung Jalak Bali karena telah berada di ambang kepunahan. Karena di alamnya sendiri, burung ini memiliki musim kawin hanya dari Bulan September hingga Bulan Maret. Di mana bertelur hanya dalam jumlah 2-4 butir dengan keberhasilan tetas 50% saja.

Bagi siapa saja yang hendak menjadikan fauna cantik ini hewan peliharaannya, maka terlebih dahulu harus mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATDN).

Di habitat aslinya, Burung Jalak Bali memiliki kebiasaan mengonsumsi berbagai macam buah-buahan, ulat serta serangga. Karenanya burung ini masuk dalam kategori hewan omnivora. Sedangkan untuk tempat tinggal, burung ini suka memilih lubang-lubang di pohon besar untuk dijadikan sarang.

Sayangnya, walaupun pemerintah telah membuat regulasi dan pengawasan bagi peredaran Burung Jalak Bali ini. Namun aktifitas perburuan liar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab masih saja marak. Jika ini tidak segera dihentikan, bisa saja suatu saat nanti burung ini hanya tinggal cerita.

Dan anak cucu kita pun hanya bisa menemukannya di museum-museum flora dan fauna saja. Menyedihkan bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *