news.asiaone.com

Mengenal Kelompok Abu Sayyaf, Militan Garis Keras Filipina

Posted on

Nama kelompok Abu Sayyaf kembali nampak di beberapa berita di Indonesia. Ihwalnya, satu kapal dengan nama Brahma 12 serta satu kapal tongkang berbendera Indonesia mereka bajak. Sepuluh orang yang ada di kapal itu disandera. Kapal Brahma 12 telah dilepaskan dan kini berada di tangan otoritas Filipina. Sedang kapal tongkang yang berisi tujuh ribu ton batu bara, turut dibawa pembajak.

Kementerian Luar Negeri menyebutkan telah menelusuri berita ini serta berkomunikasi dengan yang memiliki kapal. Menurut Juru Bicara Kementerian Arrmanatha, Belum di ketahui kapan persisnya kapal itu dibajak. Yang memiliki kapal, baru tahu pada Sabtu (26/3), waktu seorang menelpon, mengakui dari kelompok Abu Sayyaf. Pembajak telah dua kali menghubungi yang memiliki kapal. ” Prioritas sekarang ini yaitu keselamatan 10 WNI yang disandera, ” kata Arrmanatha.

Kelompok Abu Sayyaf memanglah lekat dengan tindakan kekerasan di lokasi Filipina selatan. Mereka berbasiskan di pulau Basilan, Mindanao, Jolo, serta Tawi-Tawi. Mereka dikenal juga sebagai Al Harakat Al Islamiyya, kelompok separatis yang terbagi dalam milisi Islam garis keras yang akan memisahkan dari Filipina. Kelompok Abu Sayyaf sering menculik serta menyandera orang asing, serta memohon duit tebusan.

Nama Abu Sayyaf dipetik dari nama politisi serta pejuang Afganistan, Profesor Abdul Rasul Sayyaf. Abu Sayyaf didirikan oleh Abdurajak Abubakar Janjalani, sisa anggota Front Nasional Pembebasan Moro. Abdurajak memisahkan diri dari MNLF pada 1991.

Abdurajak pernah kuliah di Libya serta Arab Saudi. Pada masa 1980-an, ia dipercaya pergi ke Pakistan serta berhimpun dengan kelompok mujahidin di Afghanistan, waktu melawan aneksasi Uni Sovyet.

Pasukan mereka, awalannya cuma 20 orang. Maksud besar Abu Sayyaf yaitu membangun negara islam. Satu tahun sesudah berdiri, mereka membetot perhatian dunia. Balita Luis Biek serta kakeknya mereka culik. Mereka tidak bakal melepas dua sandera ini sebelumnya ada tebusan. Taktik ini sukses. Mulai sejak waktu itu, mereka tidak cuma menyerang ditempat terbuka. Tetapi juga menculik serta memakai sandera sebagai siasat.

Tindakan penculikan terbesarnya pada April 1995, di propinsi Zamboanga del Sur. Waktu itu, kelompok yang gemar menyebutkan dirinya Abus ini menyandera 50 orang serta menewaskan 6 sandera. Setelah itu, mereka menculik 23 guru serta 30 siswa di Claret School, di Tumahubong, propinsi Basilan.

Abdurajak tewas waktu tentara Filipina menyerang di penghujung 1998 dalam umur 39 tahun. Saudaranya, Khadafi Abubakar Janjalani selekasnya menggantikannya pada usia 23 tahun.

Pada th. 2000, Abus rajin menculik sampai ke Malaysia. Wisatawan, wartawan, misonaris, sampai orang lokal mereka culik. Abus mengincar orang barat, non-muslim serta memohon tebusan. Pada September 2006, Khadafi tewas dalam serangan militer. Tetapi, kepemimpinan Abus tetaplah jalan. Bahkan juga lebih beringas. Mereka tetaplah beraksi serta kuras duit tebusan.

Akhir tahun lalu, mereka menculik empat orang, dua warga Kanada, satu warga Norwegia serta satu orang Filipina. John Ridsdel, warga Kanada pada awal Maret ini nampak dalam video yang disebar di sosial media. Ridsdel, yang diculik mulai sejak enam bulan lalu itu memohon pada pemerintah Kanada untuk penuhi duit tebusan. November lalu, Abus melansir mereka minta tebusan satu miliar Peso atau setara CAN$28 juta. Ini sekitaran Rp280 miliar. Dalam satu bulan ini, tebusan itu dinanti. ” Bila tidak kami bakal dibunuh, ” tutur Ridsdel seperti diambil dari CBC.

Dari duit tebusan itulah mereka memperoleh logistik serta amunisi. Saat ini, mereka menyandera 10 awak kapal Brahma 12 serta memohon tebusan. Mereka dimaksud minta tebusan 50 juta peso atau setara Rp14, 2 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *