Dilansir dari LA Times, Menteri Kehakiman Mesir (kini mantan), Ahmed al-Zind, telah dicopot dari posisinya pada Ahad (13/3) setelah ia mengatakan berani memenjarakan siapapun, termasuk Nabi Muhammad jika ia melanggar hukum.

Pernyataan itu terungkap setelah ia ditanya tentang sikapnya memenjarakan sejumlah wartawan. Kepada saluran TV swasta Mesir, Al Zind menyatakan “akan dipenjara siapa pun yang salah, bahkan Nabi (Muhammad) SAW, (sekalipun) Allah melarang.”

Pernyataan ini langsung mendapat respon keras dari berbagai pihak. Mantan Pimpinan Hakim Mesir ini dikecam baik oleh anggota parlemen, media dan masyarakat umum. Lewat media sosial, masyarakat menuntut pemecatannya.

Isu pemecatan Al Zind ini pun bahkan menjadi trending topic twitter di Mesir. Sebuah tagar berbahasa arab tentang pemecatan Al Zind bercokol beberapa hari di Twitter.

Al Zind memang sosok yang selalu lekat dengan kontroversi. Ucapannya di publik yang kasar membuat ia berkali-kali menjadi sorotan publik. “Siapapun yang mengkritisi pengadilan, menyerang prestise dan martabat pengadilan, tidak akan lolos dengan mudah. Pada tanah ini (Mesir), kami adalah penguasa dan sisanya adalah budak” Ucapnya dalam sebuah program TV sambil mengancam siapa saja yang mengkritik putusan pengadilan Mesir.

Kontroversi ini tidaklah mengherankan, karena Al-Zind sendiri adalah pendukung setia mantan presiden Hosni Mubarak yang jatuh pada Revolusi Mesir 2011 silam. Setelah Mubarak jatuh, ia kemudian menjadi abdi Abdel Fattah Sisi. Selama Revolusi Mesir, Al Zind secara terang-terangan menentang para pengunjuk rasa.

Ia menuduh siapa pun yang menentang pemerintahan interim Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata sebagai pengkhianat. Itu artinya, pemerintahan yang sah hasil pemilihan umum pasca Mubarak dinilai sebagai pengkhianat. Dia bahkan membela kebijakan ekonomi Presiden Sisi ini dengan mengklaim bahwa rakyat Mesir harus bisa hidup cukup dengan 2 pound Mesir per hari (setara Rp1.600).

Jajaran kementerian kehakiman memang tidak pernah sepi menimbulkan kontroversi. Menteri Kehakiman sebelum Al Zind, Mahfouz Saber, pernah mengatakan bahwa anak-anak pemulung tidaklah pantas untuk masuk ke dunia peradilan. Pernyataan ini juga menyulut kemarahan publik yang berujung pengunduran Saber.

Ketika awal menjabat, Al-Zind langsung menjadi berita utama dengan mengumumkan akan membuat peraturan baru yang akan mengkriminalisasi orang tua dari terpidana teroris. Sebagai catatan, pengadilan Mesir di bawah kepemimpinannya memiliki standar yang cukup absurd dalam mendefinisikan terorisme itu sendiri.

Al Zind juga terkenal sebagai oposan presiden pertama yang terpilih secara demokratis di negara itu, Mohamed Morsi. Setelah digulingkan pada bulan Juli 2013, Al Zind ikut andil dalam memenjarakan dan memvonis hukum mati ratusan pendukung Morsi. (TP/LH)