Oleh : Sulfiah Upi (Formasi FIB UI)

Hari Raya Idul Fitri merupakan salah satu hari raya ummat islam dari dua hari raya ummat islam yang di rayakan setahun sekali. Idul Fitri mengandung makna suci, hari yang fitri, dan hari kemenangan, dimana setiap ummat muslim diampuni seluruh dosa-dosanya yang telah lalu, bagaikan bayi yang baru lahir, ummat muslim suci pada hari yang Fitri tersebut, disebut pula hari kemenangan karena hari raya Idul Fitri yang jatuh pada satu Syawal tersebut didahului dengan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, menahan segala macam nafsu, baik itu menjaga pengelihatan, menjaga ucapan, menjaga pendengaran, menjaga perbuatan, dan menahan haus serta lapar, setelah ummat muslim berhasil melewati segala godaan dan cobaan tersebut maka pada satu Syawal tercapailah kemenangan ummat islam dalam menjaga nafsunya, di hari itu seluruh dosa diampuni dan seluruh ummat muslim bagaikan dilahirkan kembali laksana bayi yang putih bersih tanpa noda.

Bulan Ramadhan ini sendiri merupakan bulan yang dimuliakan oleh ummat islam, bulan yang penuh dengan berkah dimana setiap orang akan dihapuskan dosanya, dan setiap amal baik yang dikukan seseorang dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT, bahkan tidurnya orang yang berpuasa pada bulan ramadhan terhitung ibadah oleh Allah SWT, bahkan Allah telah mengabadikan bagaimana dihargainya seseorang yang berpuasa dalam bulan Ramadhan sebagaimana yang tercantum dalam firmannya yang mengatakan bahwa nafas orang berpuasa lebih wangi dari minyak wangi apapun di sisi Allah.

Dalam bulan Ramadhan pun terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dimana pada malam itulah malaikat turun dan memenuhi bumi, mereka mencatat setiap amalan manusia, malam ini adalah malam lailatulqadar.

Begitu luar biasanya bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri ini, sehingga orang-orang utamanya ummat muslim tidak akan melewatkan moment ini tanpa makna dan kesan. Orang-orang akan menghabiskan bulan Ramadhannya dengan lebih banyak berkumpul dengan keluarga, menjalin silaturahmi sesama manusia, melakukan ibadah-ibadah dan perbuatan baik lainnya. Utamanya para perantau, mereka yang mengadu nasib di kota orang, pada bulan yang penuh berkah ini memanfaatkannya untuk pulang ke kampung halaman, melepas rindu dengan kampung halaman dan orang tua di kampung, melepas lelah dari kesibukan dan hiruk piruk kota besar metropolitan, mencari kekhusyuan dan indahnya suasana bulan Ramadhan yang hanya dapat di nikmati setahun sekali. Selain itu karena memang makna dari hari raya Idul fitri adalah menjalin silaturrahim, menjalin ukhuwah islamiah, dan saling maaf memaafkan. Oleh karena itu tidak heran orang-orang akan belomba lomba untuk pulang ke kampung halaman masing-masing, saling mengunjungi sanak saudara di kampung, melepas rindu dan menjalin silaturahim.

Para perantau setiap bulan ramadhan akan pulang ke kampung kelahirannya, mudik namanya, para perantau yang melakukan perjalan pulang ke kampung di sebut mudik. Mudik sendiri apabila ditinjau dari asal katanya, memiliki kata dasar “udik” yang berarti hulu atau di ujung (pedalaman), mendapat mawalan “mu-“ sehingga “mudik” berarti kembali ke hulu atau dapat diartikan perjalan pulang kembali ke kampung halaman.

Term Mudik sendiri baru populer digunakan pada 1997-an, yang mana pada saat itu Jakarta berhasil tampil sebagai kota metropolitan dengan segala kemajuan di dalamnya, Jakarta sebagai ibu kota Negara Indonesia yang merupakan pusat segalanya, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik dengan sistem sentralistik berhasil menyedot para masyarakat daerah untuk berlomba-lomba mengadu nasib di sana.

Seiring waktu Mudik menjadi fenomena tersendiri di Indonesia, Mudik telah menjadi kebiasaan bahkan kebudayaan orang indonesia yang rutin di lakukan setahun sekali setiap bulan Ramadhan atau menjelang Lebaran, namun belakangan ini, kabar miring menerpa mudik dan menjadi sorotan publik utamanya dari kalangan profesioal.

Mudik dituding memiliki banyak mudharat dibanding manfaatnya. Tudingan ini tentu tidak serta merta dilontarkan begitu saja namun disertai dengan berbagai argumen dibelakangnya. Namun benarkah demikian?

Para perantau akan berusaha sebisa mungkin agar dapat mudik setiap tahunnya, berbagai usaha dilakukan para perantau ini agar dapat pulang kampung. masyarakat melakukan mudik diduga dikarenakan para pemudik yang rata-rata bekerja di kota-kota besar sebagai karyawan ataupun buruh ini, eksistensi mereka kurang diakui di kota sedangkan ketika kembali ke kampung eksistensinya akan diakui, di masyarakat kampung cenderung membanggakan seseorang yang datang dari kota, terdapat stigma yang berkembang dalam tubuh masyarakat di kampung bahwa orang dari kota merupakan orang yang hebat, bahkan tidak jarang kita mendengar orang tua maupun sanak saudara yang membanggakan salah seorang anggota kelurga yang merantau di kota dan baru balik ke kampung halaman, mereka akan dengan bangga mengatakan “lihatlah, anak ku yang hebat ini baru baik dari kota” sehingga para perantau merasa lebih diakui ketika pulang kampung ketimbang di kota, apalagi dikota memiliki budaya yang individulistik dan materialistik, individulistik artinya masyarakat kota hdup dengan mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan eksistensi orang lain, “gue gue, elo elo” istilahnya, materialistik berarti masyarakat kota hidup dengan mementingkan materi lebih dari pada apapun sehingga kebtuhan spiritual atau rohaniaya seakan diabaikan, sehingga apabila pada bulan Ramadhan berlansung, masyarakat kota cenderung mejalanan hari-harinya seperti biasa, sibuk dengan pekerjaan sibuk mengejar target perusahaan, sehingga suasana Ramadhan tentu sulit di dapatkan di kota-kota besar, sehingga para perantau tentu ingin sekali mudik pada saat saat ini.

Tentu para perantau akan bepikir cara agar eksistensnya semakin diakui di kampung, dalam rangka menunjukan kesuksesannya, para perantau ini akan memboyong berbagai properti yang dimilikinya untuk menunjukkan eksistensinya. Dikarenakan para pemudik pasti selalu membawa berbagai properti misalnya motor, atau mobil ataupun berbagai barang lain, arus lalu lintas semakin padat, meskipun tersedia angkutan umum, para pemudik lebih memilih menggunakan motor pribadi ataupun mobil pribadi agar dapat sekalian dibawa ke kampung, tidak jarang para pemudik membawa barang-barang sangat banyak sehingga rawan terjadi kecelakaan. Tidak jarang kita mendengar lonjakan jumlah kecelakan di jalanan pada saat-saat mudik, selain itu kemacetan parah pasti selalu terjadi.

Selain itu mudik juga diduga akan membuat arus ubanisasi semakin meningkat, karena para perantau yang pulang kampung akan memotivasi masyarakat dikampungnya utamanya anak muda untuk mengadu nasib di kota-walaupun tidak memotivasi secara lansung- tidak jarang para pemudik akan membawa sanak saudaranya yang juga ingin mengadu nasib di kota dan rata-rata orang-orang yang ingin mengadu nasib ini merupakan tenaga kerja tidak terdidik. Di kota akhirnya terjadi lonjakan penduduk, pengangguran dimana-mana, lingkungan kumuh semakin banyak, dan kriminlitas meningkat.

Selain itu mudik juga dituding mendukung kebudayaan kapitalisme, sehingga kapitalisme tumbuh subur di masyarakat, walaupun hal ini terjadi secara tidak disadari, yaitu para pemudik akan terus menanti-nantikan saat-saat mudik ini untuk menunjukan eksistensi mereka pada orang-orang kampung, mereka akan bekerja keras mengejar target perusahaaan, dipekerjakan bagaikan robot oleh para pemilik modal, mereka dieksploitasi dan dijadikan properti oleh para kapital, namun mereka tidak protes, mereka tidak apa-apa dengan semua itu, asalkan duit terkumpul untuk membeli motor atau mobil yang dapat dibawa ke kampung, apabila lelah bekerja, mereka akan kembali bersemangat lagi ketika mengingat sebentar lagi mudik, apalagi ada iming-iming THR (Tujangan Hari Raya) di akhir bulan.

Pembaca yang budiman, Mudik sebenarnya pada mulanya tidak memiliki sangkut paut dengan Hari Raya Idul Fitri ataupun bulan Ramadhan. Ketika kita menggunakan mesin pencari dan mencari kata lebaran, atau idul fitri, atau ramadhan, maka tidak akan kita temukan berita ataupun artikel terkait mudik. Seiring berjalannya waktu, masyarakat kemudian memanfaatkan moment bulan Ramadhan menjelang Lebaran untuk mudik demi berlebaran bersama keluarga, hal ini semacam paradigma atau kebenaran yang di aku masyarakat secara tidak sadar dan menjalankannya, ini tidak lain karena begitu luar biasanya daya tarik dan makna dari bulan Ramadhan dan Idul fiti.

Mudik sebenarnya fenomena yang sangat luar biasa, dimana setiap orang di seluruh Indonesia yang sedang merantau, mengadu nasib di tanah orang, tanpa aba-aba akan serentak pulang ke kampung halaman dalam rentang waktu tersebut (dari bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran), sehingga saat sampai di kampung secara otomatis seluruh sanak saudara yang sempat berpisah bahkan anak-anak mereka yang belum pernah bertemu satu sama lain akan di pertemkan pada moment yang luar biasa ini, ataupun para tetangga yang juga perantau secara otomatis akan berjumpa dengan para perantau lainnya, mungkin akan terjadi saling bertukar pengalaman, saling berdialog dengan paradigma-paradigma berbeda sehingga akan terjadi keterbukaan pikiran dan bertambahnya wawasan.

Adapun mengenai tudingan tudingan yang di jatuhkan pada mudik, penulis merasa terdapat Bias dalm argumen tersebut, yaitu mengeneralisir semua pemudik dan melakukan klaim kebenaran atas argumen tersebut padahal terdapat pengeneralisasisan di dalamnya.

Untuk argumen pertama yang mengatakan bahwa Mudik hanya karena para perantau mencari pengakuan atas eksistensinya sehingga ini bukanlah hal yang baik, karena dasarnya bukan sesuau alasan yang mendalam seperti kecintaan ataupun kerinduan pada kampung halaman, tapi hanya alasan egoistik, namun pembaca yang budiman, tidak semua pemudik berpikiran seperti ini, ada yang memiliki alasan bahwa mereka benar-benar merindukan kampung halamnnya. Selain itu para pemudik ini bukalah ingin mencari pengakuan atas ekstensinya, tapi memang terjadi kejenuhan atas budaya individualistik dan materialistik kota, dimana di kampung masyarakatnya sangat kekeluargaan maka mereka merindukan moment ini, dan di lakukan bertepatan dengan bulan Ramadhan menjelang lebaran tidak lain karena ke istimewaan dan ke-luarbisa-an moment ini seperti yang telah di sebutkan sebelumnya. Budaya Materialistik kota juga membuat para perantau tidak dapat memakanai Ramadhan dan Lebaran dengan baik, dimana di kota besar masyarakatnya jelas memperlakukan moment-moment di bulan Ramadhan seperti dengan bulan-bulan biasa lainnya, selain itu, bayangkan apabila kita berlebaran tidak bersama keluarga? Bukankah ini benar-benar tidak mengenakan, dimana makna dari hari Lebaran sendiri adalah saling menjain siturrahim, berkumpul bersama keluarga, dan saling maaf-memaafkan.

Yang ingin saya katakan adalah mudik merupakan fenomena yang luar bisa, terdapat latar belakang yang mendalam di baliknya dan mendasarinya, bukan hanya sekedar ajang para perantau mencari pengakuan eksistensi ataupun ajang pamer pada masyarakat kota. Mudik pada akhirnya merupakan fenomena yang luar biasa, dimana masyarakat indonesia serentak melakukan gerakan pulang ke kampung halaman, ini merupakan kebiasaan yang baik, menumbuhkan kecintaan pada desa-desa atau kapung-kampung, mengenalkan anak-anak mereka bagaimana kehidupan kampung, sehingga apabila orang tua mampu menyampaikan makna di balik berlibur ke kampung halaman ini, maka anak-anak akan dapat mengambil hikmah bahwa gaya hidup bukan hanya seperti di kota yaitu indivdualistik, namun ada juga gaya hidup kekeluargaan, gotong royong, dan hidup bersinergi dengan alam, anak juga bisa mengenal kearifan lokal setempat.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa memang pada saat fenomena mudik berlansung banyak terjadi ketidak nyamanan di dalamnya, seperti meningkatnya kecelakaan ataupun kemacetan parah terjadi dimana-mana, namun bukan berati kita harus melarang kegiatan mudik tersebut, siapa yang memiliki hak untuk mencabut hak orang lain untuk pulang ke kampung halamannya? Tidak ada yang berhak!, yang harus kita lakukana adalah memperbaki sistemnya, dalam hal ini pemeritah telah berusaha melakukan upaya untuk para pemudik dapat dengan nyaman mudik, kita wajib medukungnya, bukan malah menjatuhkan mudik itu sendiri, saya mengambil analogi “apabila ada tikus dilumbung, jagan bakar lumbungya, tapi tikusnya yang dihilangkan” artinya mudik merupakan kebiasaan yang baik, hanya saja fasiltas dan sistem yang kurang memadai, sehingga yang perlu kita perbaki adalah fasilitas dan sistemnya ini.

Wallahu A’lam Bishawab.

 

SHARE