Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah SWT sebagai Rasul dan Nabi terakhir, yang berjuluk Rasul akhir zaman, dimana beliau mengemban misi kerasulan untuk menyempurnakan ajaran agama Allah.

Kehidupan beliau pun penuh dengan beban berat yang tak akan pernah dialami oleh siapapun. Penuh dengan penghinaan, pengusiran, peperangan, dan penolakan. Namun beliau tak gentar dan terus berjuang.

Rasul sadar beliau mengemban misi yang besar dan memiliki tanggung jawab dari amanah yang telah Allah berikan padanya, sehingga dengan segala perjuangan hidup beliau Allah memberikan penghormatan luar biasa.

Salah satu penghormatan Allah pada Rasul Muhammad SAW adalah menjadikan beliau satu-satunya manusia yang mampu bertemu dengan beliau saat masih dalam keadaan hidup pada peristiwa Isra’ Mi’raj.

Adakah manusia lain selain beliau? Tidak! Karena beliau SAW adalah manusia paling mulia sepanjang masa. Sehingga beliau pantas menjadi panutan sejati umat Muslim, bahkan umat Manusia.

Selain itu beliau juga terkenal memiliki hati lembut dan pemaaf yang luar biasa, dan inilah bukti kelembutan hati beliau:

Kisah Rasul dan Seorang Buta

siluet blind man kiki widyasari
angsaqu.blogspot.com

Tersebutlah seorang buta yang amat membenci Rasulullah SAW karena dianggap Rasul mengkhianati agama nenek moyangnya. Dia selalu menghina dan mengeluarkan sumpah serapah kepada manusia mulia tersbeut.

Suatu hari setelah Rasul meninggal, sang sahabat, Abu Bakar ra mendatangi istri Rasul yang adalah putrinya, Aisyah ra, lalu bertanya,

“Wahai putriku, apa yang selalu Rasul lakukan belakangan sebelum meninggal? Aku ingin melanjutkan apa yang beliau lakukan itu.”.

Aisyah menjawab, “Rasul selalu menyuapi seorang buta yang tak mampu makan dengan tangannya sendiri, Ayah.”. Lalu Abu Bakar menuju ke orang buta yang dimaksud Aisyah.

Abu Bakar kemudian hendak menyuapi si Buta namun mendadak si Buta menepis tangannya dan berujar, “Kamu bukan orang biasanya yang menyuapiku! Dia selalu menyuapiku dengan lembut bahkan menyisiri rambutku dengan kasih sayang. Kamu siapa?”.

Dengan mata berkaca-kaca Abu Bakar menjawab, “Aku adalah Abu Bakar, dan sesungguhnya orang yang selalu menyuapimu dengan lembut dan menyisir rambutmu dengan kasih sayang adalah orang yang selalu kau hina, Rasulullah SAW. Dia telah meninggal.”.

Secara spontan si Buta terduduk dan menangis tersedu-sedu, merasa menyesal dan sangat kehilangan yang begitu dalam. Kemudian dia meminta Abu Bakar untuk menuntunnya masuk Islam.

Kisah Rasul dan Pemuda di Waktu Subuh

DSC_0594
hazardoxology.blogspot.com

Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu berjalan sendirian menuju masjid dimana beliau telah ditunggu oleh para sahabat untuk menjadi imam sholat berjamaah.

Dan setiap pagi pula Rasul selalu bertemu dengan seorang pemuda yang akan mendatanginya saat jalanan sepi lalu dengan tanpa sopan santun meludahi wajah mulia beliau sambil mengumpat sejahat-jahatnya.

Rasul hanya diam dan membersihkan ludah di wajahnya, lalu berjalan kembali ke masjid. Hal tersebut terjadi berulang-ulang sampai tiba suatu pagi.

Rasul mengalami suatu keanehan karena si Pemuda tak ada di tempat biasa dia meludahi Rasul. Hal tersebut terjadi sampai beberapa hari hingga kemudian Rasul tak mampu menahan diri.

Beliau bertanya pada penduduk sekitar tentang si pemuda, dan ternyata dugaan beliau benar, si pemuda tengah terserang sakit keras sehingga tak mampu keluar rumah.

Rasul kemudian membawakan masakan lezat dan menjenguknya. Si pemuda menangis terharu dan meminta ampun kepada Rasul, namun Rasul meminta si pemuda untuk meminta ampun saja kepada Allah SWT.

Akhirnya pemuda itu masuk Islam karena kelembutan hati Rasul yang tiada duanya itu.

Kisah Rasul dan Paman-pamannya

maxresdefault
youtube.com

Kita tahu bahwa Paman-paman Rasul seperti Abu Jahal dan Abu Lahab adalah orang kafir yang mendurhakai bahkan memusuhi Allah dan RasulNya. Mereka sangat jahat, bahkan pada Rasul yang adalah keponakannya sendiri.

Melihat semakin banyaknya pengikut Rasul, paman-paman jahat Rasul itu kemudian mendatangi Rasul dan menimpuki beliau dengan batu hingga berdarah. Rasul hanya diam dan tak melawan.

Hamzah ra, salah satu paman beliau yang kala itu baru saja pulang dari berburu mendengar kabar tersebut dan marah besar.

Lalu beliau mendatangi salah satu saudaranya yang tadi ikut memukul Rasul dan bertanya apa yang bersangkutan memukul keponakan yang dicintainya itu, setelah menjawab iya, Hamzah lalu memukulkan busurnya ke kepala saudaranya itu.

Setelah itu Hamzah segera menemui keponakannya, Rasulullah SAW, untuk menyatakan diri masuk Islam.