Baru-baru ini layar kaca dan media massa sedang heboh dengan pemberitaan demo besar-besaran berujung anarkis antara supir angkutan konvensional dan yang berbasis online di DKI Jakarta.

Bahkan dari peristiwa tersebut, dikabarkan banyak menelan kerusakan kendaraan, korban luka, bahkan korban meninggal.

Perhatian warga Indonesia tentu langsung tertuju pada kejadian memprihatinkan tersebut. Ada yang mempermasalahkan kemacetan, izin trayek, dan sampai dugaan merebut lahan rezeki orang.

Hmm, terlepas dari perdebatan tersebut, pasti taka sing bagi kita dengan Go-Jek. Ya, angkutan umum berbasis online ini banyak masuk layar kaca karena prestasi maupun beberapa kasus yang terjadi.

Ada pemberitaan tentang pengemudi Go-Jek yang dianiaya, ada juga perkelahian antar pengemudi Go-Jek dengan pengemudi ojek biasa, dan masih banyak lagi.

Namun di luar itu semua, artikel ini ingin membahas inspirasi sukses dari si Pemilik Go-Jek tersebut. Siapakah dia?

Dan bagaimana dia bisa meraup kesuksesan dan memberikan lapangan kerja bagi pengendara ojek sampai hampir 10 ribu orang di seluruh Indonesia ini?

1Namanya Nadiem Makarim

news.merahputih.com

Nadiem Makarim, pria kelahiran Singapura pada tahun 1984 ini usianya memang baru menginjak 32 tahun.

Namun anak dari mantan ahli Hukum sekaligus penulis buku Nono A. Makarim ini telah menjadi seorang milyarder dan berhasil membuka lapangan kerja bagi hampir 10 ribu orang.

Pada mulanya, Nadiem yang merupakan lulusan Harvard University di Amerika ini telah lama bekerja di berbagai perusahaan ternama.

Sejak kecil, Nadiem memang terkenal cerdas dan kreatif di antara teman-teman sebayanya. Selain itu Nadiem juga tak takut mencoba hal baru, dan memiliki jiwa pekerja keras.

Nadiem pada akhirnya mengambil kesempatan kuliah di Amerika untuk S1 maupun S2 nya. Sebuah keputusan berani mengingat Amerika jauh dari rumah.

2Nadiem Tak Ingin Terus Berada di Bawah Bayang-bayang Ayah

profil.merahputih.com

Memiliki seorang ayah hebat seperti Nono A. Makarim, membuat Nadiem ingin mengukir ‘takdir’nya sendiri tanpa bayang-bayang nama besar sang Ayah.

Kemudian dia mencoba melamar kerja di Mc Kinsey sebagai konselor, dan juga pernah bekerja di Zalora.

Dia termasuk cepat dalam belajar, sehingga posisinya semakin hari semakin naik karena promosi jabatan yang diperolehnya.

Jika Nono, sang Ayah, lebih memasuki ranah ilmu Hukum, maka Nadiem lebih menyukai dunia ekonomi dan bisnis. Apalagi melihat pesatnya perkembangan teknologi sekarang.

3Nadiem Lebih Suka Naik Ojek

youtube.com

Jika kebanyakan orang kaya seperti Nadiem lebih memilih menghindari panas dengan menaiki mobil mewah mereka kemanapun, Nadiem ternyata tidak.

Penampilannya yang sederhana dan terkesan biasa saja itu, membuatnya seperti tak terlihat adalah seorang pengusaha muda.

Apalagi Nadiem lebih memilih berlangganan ojek kemanapun dia pergi.

Hingga suatu hari, salah seorang tukang ojek langgannya mengeluhkan sepinya pelanggan dan mereka harus lelah menunggu pelanggan di pangkalan ojek.

Dari curhatan demi curhatan tukang ojek tersebut, Nadiem memiliki ide untuk mengumpulkan mereka dalam sebuah wadah ojek miliknya.

4Nadiem Membentuk Go-Jek

youtube.com

Kemudian dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, Nadiem bersama seorang temannya membentuk sebuah perusahaan bernama Go-Jek.

Walaupun bergerak di bidang transportasi, namun Nadiem lebih memilih disebut sebagai perusahaan berbasis teknologi, karena menggunakan media online.

Awalnya hanya sekitar 10 orang tukang ojek saja, kemudian sekarang dia banyak merekrut tukang ojek atau orang baru, sampai ada 10 ribu pengendara Go-Jek di seluruh Indonesia.

Go-Jek tak hanya melayani antar jemput, tapi bisa juga antar barang, makanan, bahkan belanjaan.

“Saya sudah lelah bekerja kepada orang, saya ingin bekerja di perusahaan saya sendiri dan memberikan lapangan kerja pada orang lain.”, itulah alasan terkuat Nadiem membentuk Go-Jek ini.

Keberanian, tekad kuat, semangat, pantang menyerah, dan tentunya menyerahkan semua hasil kepada Tuhan, menjadi kunci sukses dari Nadiem Makarim, CEO PT. Go-Jek.