www.republika.co.id

Nasib Miris Warga Luar Batang, Jadi Manusia Perahu Sampai Rusun ‘Kandang Monyet’

Posted on

Kisah Warga Luar Batang

Kisah Warga Luar Batang, Jakarta Utara selesai sudah. Rumah yang mereka tempati bertahun-tahun rata dengan tanah. Seruan zikir mereka tak mampu menghalangi buldozer dan escavator yang meluluh lantakkan bangunan di Pasar Ikan itu.

Tak ada yang tersisa selain nasib buruk. Mereka digusur karena ada rencana penataan wisata bahari oleh Pemprov DKI Jakarta.

Sebuah rencana yang memaksa beberapa nelayan harus angkat kaki. Tak semuanya memang. Sebagian memilih bertahan, menjadi manusia “Rohingya” Jakarta.

Nasib mereka persis seperti ombak laut. Terombang-ambing tak jelas tanpa arah. Dalam kehimpitan, telunjuk yang menuding mereka bersalah tetap datang tanpa henti dari orang nomor satu di Kantor Gubernur DKI Jakarta.

Lalu seperti apa nasib warga Luar Batang yang bangunannya sudah rata dengan tanah itu? Berikut cuplikannya.

Menjadi Manusia Perahu

www.republika.co.id
www.republika.co.id

Warga Luar Batang kini punya julukan baru. Manusia perahu dari Jakarta. Beberapa menyamakan mereka dengan Rohingya. Yang terusir dari tanah kehidupannya lalu tinggal di perahu-perahu mencari tempat baru.

Mereka bertahan di perahu karena tidak mendapatkan jatah rusun seperti yang dijanjikan Pemprov DKI.Dikutip dari Sindonews.com, paskapembongkaran sejumlah warga yang dahulu memiliki bangunan di kawasan itu banyak menempati sejumlah perahu di pinggiran tanggul.

Mereka berdalih, nekat terombang-ambing di air, lantaran tidak memiliki uang untuk mengontrak. Sementara unit rusun yang dahulu di janjikan oleh pihak pemprov tak kunjung didapat.

“Saya enggak tahu sampai kapan disini (perahu). Pihak kecamatan bilang nanti kalau ada (rusun) disampaikan ke kami, tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” ujar Marisa (45) salah seorang warga Luar Batang yang nekat hidup di perahu.

Rusun Seperti Kandang Monyet

www.merdeka.com
www.merdeka.com

Warga yang rumahnya digusur dijanjikan mendapatkan rusun dan harus menyewa. Salah satu warga Luar Batang yang memiliki KTP DKI, Haryanto menilai pemerintah kurang sosialisasi kepada warga sebelum eksekusi, terutama mengenai janji memberikan kompensasi berupa rumah susun yang layak buat warga.

Dia menceritakan pengalaman buruk ketika ingin mendapatkan rusun sebagaimana yang dijanjikan pemerintah.

“Mau bikin anak dilihatin sama adik (kamar studio), dapur kayak kandang monyet, pintu rusak (Rusun Rawa Bebek). Pas saya dipindah disuruh ke Rusun Marunda, nggak bisa dapat kunci, kamarnya harus didobrak, terus ada orang di dalam,” kata dia seperti dilansir suara.com

“Di (rusun) Cakung Barat saya pergi ke sana. Yang sudah dapat nomor kamar tidak boleh menurunkan barang disuruh pulang, pengelola mengusir. Saya hubungin pak lurah dan camat jangka waktu 1,5 jam bisa turun katanya kamar, tapi nggak,” kata dia.

Singkat cerita, sampai saat ini Haryanto belum mendapatkan rusun, padahal dia sebenanya memenuhi syarat, misalnya ber-KTP Jakarta.

Diusir Seperti Teroris

news.okezone.com
news.okezone.com

Curhatan Haryanto tak berhenti pada soal rusun yang fasilitasnya amat buruk. Saat audiensi dengan Komisi A DPRD DKI, Hartyanto mengaku masih trauma.

Ia mengaku sampai sekarang tidak bisa menerima kebijakan pemerintah yang menghancurkan tempat tinggal yang sudah didiaminya selama puluhan tahun, pada Senin (11/4/2016) lalu.

“Didatangi tiga pilar (polisi, TNI, dan Satpol PP) warga gemetaran. Seakan-akan sarang teroris tempat kami itu,” kata dia

Haryanto menilai pemerintah kurang sosialisasi kepada warga sebelum eksekusi, terutama mengenai janji memberikan kompensasi berupa rumah susun yang layak buat warga.

Disebut Sarang TBC

tempo.co
tempo.co

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sempat menuding alasan penggusuran warga Kampung Luar Batang di Jakarta Utara sebagai upaya untuk meminimalisasi penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC). Warga menilai, ucapan pria yang akrab disapa Ahok itu mengada-ada.

Warga RT 03, RW 01, Luar Batang, Mustafa M Radja (48 tahun), mengatakan, Ahok berbicara tidak berdasarkan data dan fakta. Dia menuding bahwa mantan bupati Belitung Timur itu telah menyebarkan isu yang menyesatkan.

“Ahok dapat laporan dari mana kalau warga di sini menyebarkan TBC? Jangan asal bicara saja,” kata Mustafa seperti dilansir dari Republika.co.id.

Menurut dia, Ahok seakan-akan tengah berusaha menggiring opini bahwa masyarakat Luar Batang selama ini menjadi biang penyebab munculnya permasalahan kesehatan di Kota Jakarta. Padahal, tuduhan itu tidak memiliki dasar yang ilmiah sama sekali dan bisa menjurus pada fitnah.

Pernyataan semacam itu justru menyinggung perasaan warga Luar Batang selaku rakyat yang sudah lama mendiami Ibu Kota. Sebelum membuat kesimpulan, kata Mustafa, Ahok seharusnya turun langsung ke lapangan untuk melihat sendiri realitas di masyarakat Luar Batang.

Didoakan Hilang dan Kapok

republika.co.id
republika.co.id

Saat warga luar Batang terusir dan hidup di perahu-perahu, masih tak ada empati dari orang nomor satu di Jakarta.

Bahkan seperti dikutip dari Detik.com, Ahok berharap warga yang tinggal di perahu kapok. Ia juga yakin lama-lama mereka juga akan hilang dengan sendirinya.

“Lama-lama dia juga hilang sendiri. Biarkan saja dulu, nanti dia juga kapok,” kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Balai Kota, Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Ahok menilai para ‘manusia perahu’ itu sebenarnya punya maksud lain. Mereka menunggu kesempatan menduduki kembali lahan yang telah dibongkar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Dia bukan tinggal di perahu, tapi dia lagi mau mengintai. Nanti kalau ada sheetpile (dinding turap yang dipasang di perairan lokasi itu), dia mau menginjak lagi di atasnya,” kata Ahok.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *