Membahas pemuda memang tak akan ada habisnya. Banyak kisah hebat tersimpan dibalik semangatnya. Banyak ide-ide gemilang mengalir dari pemikirannya. Pemuda adalah individu yang apabila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya pembangun baik saat ini maupun masa datang. Pemuda sebagai sumber daya pembangun bangsa tentulah mereka haus akan aktivititas demi mengasah kemampuan diri.

            Adalah dakwah dari sekian banyak kegiatan yang dapat dipilih demi melegakan dahaga mereka. Dakwah sendiri pada dasarnya adalah kegiatan menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan dan taat kepada Allah sesuai syariat Islam. Perlu kita ketahui dakwah dapat dilakukan dimanapun. Keluarga, sekolah atau masyarakat. Untuk ukuran seorang pemuda dalam hal ini mahasiswa, kampus merupakan ladang hijau sebagai tempat berdakwah.

            Kampus disini merupakan komunitas yang sarat akan potensi. Dan juga tak sedikit pemimpin-pemimpin negeri yang muncul dari mahasiswa kampus. Dalam hal ini tentunya mahasiswa merupakan simbol dari kepemudaan dalam membangun peradaban. Maka dari itu tentunya kampus merupakan lahan subur bagi para pemuda Islam atau para aktivis dakwah kampus untuk berdakwah. Mensyiarkan ajaran-ajaran islam dikampus, tempat lahirnya calon pemimpin-pemimpin bangsa.

            Dalam mensyi’arkan ajaran-ajaran Allah tentunya tak bisa kita lakukan dengan diam di satu tempat.  Kita harus bergerak, terus maju dan dinamis. Dan semangat untuk terus bergerak inilah yang tentunya dimiliki oleh pemuda. Dimana bila kita melihat pengertian pemuda menurut WHO menyebut pemuda adalah penduduk berusia 15 – 24 tahun. Sedang menurut draft RUU kepemudaan, pemuda adalah mereka yang berusia 18-35 tahun. Menilik dari sisi usia tersebut maka pemuda merupakan masa perkembangan baik biologis dan psikologis. Oleh karenanya pemuda selalu memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspiasi masyarakat secara umum. Dalam makna yang positif aspirasi yang berbeda ini disebut dengan semangat pembaharuan .

            Rasulullah sendiri menggariskan bahwa “ Kalau matahari ditarus ditangan kananku, rembulan ditangan kiriku, aku tidak akan berhenti menyampaikan dakwah ini, hingga Allah memenangkanku atau aku bianasa karenanya”. Semangat inilah yang diharapkan ada pada pemuda, para pendakwah, akitivis dakwah kampus. Yang hampir 12 jam dalam seharinya mereka habiskan di kampus. Tentunya, kehidupan pemuda, dalam hal ini adalah mahasiswa sangat lekat dengan kehidupan kampus. Sebagaimana aturan agama yang tidak dapat dipisahkan dengan pemerintahan, begitu pula dengan agama dan aturan-aturannya yang tidak dapat dilepaskan dalam dunia kampus. Lalu siapakah yang akan bergerak dalam hal ini? Tentu adalah pemuda, aktivis dakwah kampus, di sinilah diperlukan gerakan dari para aktivis dakwah kampus untuk mensyi’arkan dan menyelaraskan kehidupan kampus agar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Yang dengan membawa harapan lebih dalam bahwa ajaran-ajaran yang disyiarkan akan membentuk bi’ah Islamiyah bagi kehidupan kampus sampai kehidupan yang lebih luas dan kompleks lagi .

            Apakah aktivis dakwah kampus hanya cukup bergerak dan dakwah akan berjalan? Tentunya tidak. Dakwah tidak sama dengan konsep super hero. Dakwah tidak digerakkan oleh seseorang saja. Problematika dakwah juga tak bisa diselesaikan oleh satu orang saja. Melainkan dakwah berjalan dengan konsep berjamaah. Yang mana antar satu dan yang lain saling bergerak dan menggerakkan. Saling mendukung dan menguatkan.

            Layaknya air yang apabila tak bergerak menjadi kotor, aktivis dakwah kampuslah yang bertugas menggerakkannya agar mengalir dan menjadi bersih.

            Layaknya anak panah yang tak berguna apabila tak digerakkan, aktivis dakwah kampuslah yang bertugas menggerakkan dan melesatkan anak panah dari busurnya.

            Dan satu yang perlu kita ingat bahwa dalam konsep dakwah berjamaah ini tentunya  tak bisa berjalan secara sendiri-sendiri. Alangkah baiknya jika amalan sholih itu tak hanya kita lakasanakan sendiri tetapi juga kita mampu untuk menggerakkan yang lainnya melaksanakan amalan baik bersama. Dan alangkah baiknya jika kita tak hanya mampu sekedar menggerakkan yang lain untuk melaksanakan amalan sholih, tetapi diri sendiri juga mampu bergerak untuk melaksanakannya.

            Karena walaupun terlampau sangat jauh, kita tentu ingin memiliki semangat layaknya Mush’ab bin Umair sang pembawa panji Islam di perang Uhud. Saat musuh menebas tangtan kanannya, ia bawa panji Islam dengan tangan kirinya. Saat tangan kirinya pun ditebas oleh musuh, ia pegang panji tersebut dengan pangkal lengannya. Hingga akhirnya ditebaslah tubuh mush’ab bin umair.

            Semangat itulah yang hendaknya patut kita miliki. Semangat menegakkan panji Islam. Semangat untuk bergerak dan menggerakkan.