Pemuda islam dalam generasi dakwah kampus

 

Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Kapankah sedekah yang paling utama itu?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada waktu muda sehat, berkeinginan untuk kaya, dan takut miskin.”

Ada semacam kecenderungan di kalangan sebagian masyarakat di sekitar kita untuk menangguhkan kegiatan perjuangan hanya menjelang masa tua dari berbagai macam aktivitas atau menjelang usia lanjut. Seolah-olah keberagaman itu teraktualisasikan pada saat energi untuk menguasai kehidupan telah hampir terkuras habis. Keterlibatan dalam perjuangan menyiarkan agama Islam hanyalah diletakkan pada usia dan tenaga sisa saja.

Banyak contoh dalam realitas kehidupan, seseorang ketika memiliki jabatan, harta, maupun kedudukan, sangat jauh dari nilai-nilai agama. Bahkan, cenderung menentang kegiatan-kegiatan keagamaan. Namun, ketika usia menjelang senja, orang tersebut mulai kelihatan aktif terlibat dalam kegiatan keislaman. Tentu saja hal ini tidaklah salah, apalagi jika dibandingkan dengan sama sekali tidak sadar. Akan tetapi, jika memperhatikan hadis di atas, ibadah dan berjuang yang paling utama justru dilakukan pada saat usia muda yang energik dan penuh vitalitas, ketika keinginan untuk mendapatkan yang terbaik dan terbanyak beitu mendominasi.

Usia muda adalah usia yang memiliki fisik prima, akal segar, keingintahuan yang tinggi, dan semangat kuat, namun belum memiliki pengalaman yang cukup. Pemuda memiliki hasrat yang tinggi untuk melakukan suatu perubahan, hal ini membawa dampak pemuda berpotensi untuk membuat kebajikan, dan juga potensial untuk membuat keonaran. Jika dikembangkan kearah yang positif maka para pemuda dapat menjadi asset yang berharga bagi bangsa maupun umatnya. Meski demikian, perlu juga diwaspadai, masa muda adalah masa dimana segala gejolak dan rasa mencapai puncaknya. Hasrat dan keinginan bergejolak dahsyat dalam jiwa. Godaan dan dorongan nafsu mendesak sangat kuat. Sehingga peluang untuk tergelincir pada lembah kemaksiatan terbuka lebar, sebagaimana peluang menuju kesuksesan pun terhampar di depan mata.

Pemuda sejatinya adalah orang muda sebagai generasi penerus dari golongan yang tua, dan sebagai harapan bangsa. Pemuda adalah para remaja, pelajar, mahasiswa, dan lain sebagainya. Yang tentunya memiliki jiwa yang muda. Namun, seperti apakah pemuda islam itu? Menjadi sosok pemuda muslim ideal yang menjadi harapan bangasa dan negara tidaklah mudah. Jiwa muda yang berkembang dalam diri para pemuda ini menyebabkan terkadang mereka terbawa arus perubahan zaman. Namun demikian agama islam memerintahkan agar kita mempersiapkan generasi muda penerus dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi tantangan zaman, maka diperlukan pemuda muslim yang menjadi harapan umat dan bangsa.  

Dalam mewujudkan kejayaan suatu bangsa maka harus dimulai dengan melakukan pembinaan kepada calon generasi penerus, dalam hal ini pembinaan kepada pemuda. Usia muda merupakan usia berkumpulnya semua potensi mulai dari kekuatan fisik hingga kekuatan pikiran. Kita dapat melihat dari perjalanan sejarah manusia, para pemuda menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan sebuah ideologi. Bahkan dapat dikatakan bahwa sebuah ideologi tidak akan eksis tanpa kiprah pemuda. Begitupun dalam perjalanan dakwah Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, beliau menguatkan dakwah ini dengan menjadikan pemuda sebagai pioner di awal dakwah Islam di Makkah. Dengan modal kekuatan pemuda, sehingga menjadikan Islam dapat tersebar di penjuru dunia.

Saat ini kekuatan kelompok pemuda muslim yang ideal dan tangguh dapat kita temukan di kampus. Kampus menjadi tempat berkumpulnya para kaum intelektual muda yang memiliki semangat untuk melakukan perubahan. Bahkan akan lebih luar biasa ketika mereka bergerak bersama dalam sebuah jamaah (lembaga) dakwah atau lebih dikenal dengan nama lembaga dakwah kampus (LDK). Oleh karena itu, dakwah kampus harus dirancang untuk memperkuat basis bagi tumbuhnya generasi baru yang memiliki pemahaman islam yang sempurna dan menyeluruh sehingga mampu mewujudkan kejayaan umat.

Dakwah kampus merupakan langkah strategis bagi pencapaian cita-cita umat islam dan juga merupakan ranah dakwah para pemuda. Pemuda intelektual yang dibina dikampus dan ditarbiyah dengan terjun langsung dimedan juang dakwah yaitu kampus. Sudah seharusnya para aktivis kampus menjadikan kesempatan ini sebagai ajang pembentukan diri dan peningkatan kwalitas keislamannya dalam hal pemahaman islam secara menyeluruh dan univeral. Cita-cita itu sangatlah realistis tercapai ketika melihat bahwa mahasiswa muslim merupakan insan yang memiliki potensi intelektualitas dan kritis terhadap berbagai persoalan keumatan. Dengan potensi itu, mahasiswa memiliki peluang besar untuk berkiprah dalam pembentukan peradapan yang khairah ummah. Namun muncul pertanyaan, bagaimana merancang dakwah kampus agar mampu mewujudkan kejayaan umat? Pertanyaan inilah yang selalu menjadi perhatian utama bagi umat ini yang telah lama merindukan kejayaan islam.

Untuk menemukan cara mengembalikan kejayaan umat ini maka marilah kita belajar bagaimana cara umat terdahulu bisa bangkit dari keterpurukan sehingga mampu berjaya. Dalam sebuah buku yang berjudul Hakadza Zhahara Jilu Sholahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds karya Dr. Majid Irsan al-Kilani dijelaskan bahwa keberhasilan shalahuddin al-Ayyubi merebut kembali masjid Al Aqso dari pasukan salib bukanlah terjadi dengan instan tetapi merupakan produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh ulama hebat yaitu Imam al-Gazali dan Abdul Qadir al Jilani.

Berdasarkan uraian sebelumnya maka kita akan dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana merancang dakwah kampus? Jawabannya yaitu dengan memfokuskan strategi dakwah kampus kepada pembinaan mental mahasiswa muslim. Mental yang harus dimiliki oleh mahasiswa muslim yaitu keyakinan yang kuat kepada Allah, akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah. Beramal sholeh sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemaslahatan umat.

Dalam memaksimalkan potensi dakwah kampus dalam mewujudkan kejayaan umat maka dakwah kampus perlu mempertimbangkan tiga agenda yaitu : pertama, transformasi peran dakwah karena selama ini kegiatan dakwah kampus terkesan bersifat eksklusif sehingga dakwah begitu berat untuk diterima oleh masyarakat kampus dan masyarakat umum. Kedua, memperluas wilayah partisipasi mahasiswa dalam kegiatan dakwah yang diwujudkan dengan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan dakwah. Ketiga, lembaga dakwah kampus perlu melakukan early warning system sehingga memperkuat sensivitas dan kesadaran terhadap persoalan umat.

Dakwah kampus harus ditata dengan sistematis sehingga misi dakwah dapat berkelanjutan. Agenda dakwah kampus harus dirumuskan untuk menjawab problematika umat yang dihadapi saat ini. Sehingga dakwah kampus mampu membentuk sistem sosial yang mengkondisikan umat ini untuk bangkit dari keterpurukan. Selain itu, diharapkan mahasiswa muslim yang memiliki mental yang sesuai Al-Qur’an dan sunnah dapat menjadi harapan baru untuk lebih memasifkan pergerakan dakwah ke depannya. Sehingga menjadi pioner kejayaan umat.

 

FITRIA DWI ROMANTIKA

 

SHARE