PEMUDA ISLAM, MASA DEPAN AGAMA DAN BANGSA

Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda. Begitupula dengan al-Qur’an, di dalam Al-Qur’an juga banyak menceritakan gambaran mengenai pemuda, begitu juga ada banyak hadist yang menceritakan tentang pemuda, sebagaimana salah satu hadist ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi) Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah,  sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda dan para pemuda.

Kalimat yang cukup populer dikalangan pemuda, ‘yang muda yang mulia’. Mengutip pesan dari seorang ulama ‘Allah benci kepada orang yang bermaksiat, tapi Allah lebih membeci orang tua yang bermaksiat, dan Allah suka kepada orang yang taat dan Allah lebih menyukai orang muda yang taat’. Kita bisa rangkai sedikit kesimpulan dari kalimat tersebut, yaitu masa muda adalah masa dimana Allah memberikan kenikmatan yang serba berkecukupan, tapi jarang sekali kita melihat para pemuda memanfaatkan kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya, bahkan banyak pemuda pada masa sekarang yang menyepelekan nikmat Allah tersebut. “Yang muda yang mulia” sahabat Rasulullah terdiri dari orang-orang muda yang umurnya dibawah 30 tahun, dengan semangat jihad yang tinggi, sahabat Rasulullah Khalid bin walid dimasa mudanya menjadi pedang Allah dalam berbagai perang, Muhammad II yang kita kenal dengan Muhammad Al-Fatih menaklukkan kota konstntinopel dimasa mudanya.

“Yang muda yang mulia”, tak heran jika Ir. Soekarno mengatakan “bawakan aku 10 pemuda maka akan kugoncang dunia”, jika 10 pemuda itu bersatu dalam pergerakan islam maka suatu saat duniapun akan digemparkan dengan kobaran semangat sehingga keping-keping kekufuran manusiapun mulai beruntuhan.

Pemuda dengan perannya dalam pergerakan dakwah memicu hal sangat penting, mensyi’arkan agama islam bukan hanya di wilayah kampus atau sekolah, bukan hanya ditempat ia tinggal saja tapi di segenap penjuru dunia.

Dalam berdakwah kita tidak berbicara tentang bisa atau tidak bisa, melainkan berbicara tentang mau atau tidak mau. Jika kita mau berusaha untuk berdakwah, menolong agama Allah, niscahya Allah akan menolong kita dengan berbagai macam pertolongan. Didalam berdakwah tentunya pasti akan mengalami banyak godaan, namun dengan niat kita yang kuat, kita harus selalu istiqomah dalam menjalinya. Anggap saja godaan itu  sebagai pupuk buat kita, bagaikan pohon yang diberi pupuk, tidak ada pupuk yg manis atau enak, pastinya pupuk itu adalah pahit atau tidak enak, namun pupuk itu bisa membuat tanaman itu menjadi subur dan kuat. Kebaikan dan keburukan sama kuatnya. Semakin sering kita kalah dalam menghadapi godaan, seperti itulah akhir kehidupan kita. Semakin sering kita menang dalam pertarungan melawan musuh internal dan eksternal, akan seperti itulah akhir/ending kehidupan kita. Itulah sebabnya Rasulullah menyebutkan di antara tujuh golongan yang memperolah naungan pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya pada hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh dalam kerangka beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Pemuda yang ingin sukses adalah pemuda yang pandai memanfaatkan peluang masa mudanya untuk maju dan berubah.Ia menyadari bahwa peluang itu tidak akan berulang. Ia memanfaatkan masa muda sebelum datang masa lemahnya (tua), masa sehat sebelum sakitnya, masa lapang sebelum sempitnya, masa terang sebelum masa gelapnya.