Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda. Hal ini dapat dilihat di Al- Qur’an maupun Al-Hadist yang juga menceritakan gambaran-ganbaran mengenai pemuda. Sebagaimana salah satu hadist ini, Rasulullah SAW bersabda dalam hadist Abdullah bin Ma’sud ra.

“Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya 5 (perkara): Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana diausangkan, tentang hartanya darimana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan, dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tarmizi). 

Hadist tersebut jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakan salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda dan para pemuda.

Pemuda dan Islam merupakan dua pondasi yang mempunyai pengaruh besar dalam keberlangsungan hidup pribadinya, keluarganya, masyarakat, tempat dia tinggal dan bahkan negara yang dia tinggali. Pada masa muda berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik yang mengarah kepada kebaikan maupun kejahatan tertanam sangat kuat dalam jiwa mereka, sehingga pemuda dapat dikatakan sebagai pelopor atau penggerak dalam kemajuan suatu negara.

Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai mahasiswa pastinya sudah tak asing lagi dengan  “Dakwah Kampus”. Dakwah Kampus adalah dakwah amah harokatudz dzahiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah yang sifatnya terbuka, berorientasi kepada rekrutmen dakwah di kalangan civitas akademika secara umum, dan aktivitasnya dapat dirasakan oleh civitas akademika. 

Dengan demikian untuk menjalankan roda Dakwah Kampus, maka dibutuhkan personil-personil, yaitu Aktivis Dakwah Kampus (ADK). ADK adalah kader dakwah dan tarbiyah yang memiliki peran dalam Dakwah Kampus. Peran yang dilakukan bias berupa sebagai pengurus lembaga dakwah kampus, murobbi kampus, dan sebagainya. Peran ADK ini bias dijalankan oleh kader dakwah yang bertitel mahasiswa, atau dosen, atau kader dakwah lainnya yang bersinggungan dengan Dakwah Kampus. Mereka harus dapat bergerak bersama-sama dalam koridor strategi dakwah kampus yang bersangkutan.Sebagaimana telah diungkapkan di atas, dalam pergerakannya dakwah kampus memilikime dan tersendiri. Medan pergerakan dakwah kampus adalah area di mana dakwah kampus mengaktualisasikan diri. Medan Dakwah Kampus yaitu lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap dakwah kampus, meliputi manusia-manusianya (para civitas akademika, pejabat dan pegawai kampus, alumni), sarana-sarananya (lembaga kemahasiswaan, institusi perguruan tinggi, institusi pemerintah terkait, institusi kerja sama antar perguruan tinggi), dan aturan main yang berlaku (peraturan perundangan terkait, kurikulum dan system administrasi perguruan tingggi), serta sarana dan prasarana kampus.

Adapun kaidah untuk dakwah kampus antara lain:

Tidak mempersulit dan tidak mempermudah

Membuka kesempatan dakwah kampus untuk seluruh warga kampus tanpa terkecuali

Tidak menghakimi tapi memberikan solusi

Tujuan utama dari Dakwah kampus ini adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan – untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam – menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan. 

Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa sasaran antara yang harus dicapai terlebih dahulu. Sasaran tersebut antara lain:

1. Terbentuknyabi’ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Kita tahu bahwa kampus adalah lingkungan yang heterogen. Ketika berinteraksi di dalamnya, maka butuh kekuatan untuk menjaga idealisme dengan tetap memperhatikan realitas. Hal ini berarti dakwah kampus memerlukan sebuah lingkungan kecil yang senantiasa dapat terus men-charge ruhiyah para ADK di tengah-tengaha ktivitasnya di kampus. Sarana untuk itu adalah tarbiyah yang berkesinambungan untuk para ADK dan yang didakwahkannya.

2. Terbentuknya opini ketinggian Islam di kalangan kampus. Oleh karena itu syiar dalam mengkampanyekan kemuliaan Islam harus terus dilakukan secara rutin. Sarana-sarana syiar untuk ini cukup banyak, misalnya majalah, perpustakaan, peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya.

3. Terbentuknya kesinambungan barisan pendukung dakwah. Untuk itu, tarbiyah yang berkesinambungan di setiap angkatan maha siswa harus dipastikan berjalan. Ini membutuhkan sebuah lajnah yang dapat mengawasi itu dalam jangka panjang.

4.  Terbentuknya hubungan timbal balik yang sinergis antara dakwah ammah dengan pengkaderan. Artinya, semua rekrutmen-rekrut mendakwah diupayakan dapat dilanjutkan dengan proses dakwah secara khusus terhadap orang-orang yang direkrut tersebut.

Sedangkan peranan dakwah kampus tersebut antara lain membina mahasiswa muslim yang berada di kampus agar tercipta suatu komunitas yang berakhlak mulia. Setelah berhasil membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia maka mahasiswa harus memiliki wawasan yang luas dari berbagai disiplin ilmu. Selain itu peranan dakwah kampus diharapkan membentuk mahasiswa muslim yang tegar dalam mengahadapi masalah, dan membentuk mahasiswa yang kritis tanpa mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak menyebarkan kesalahan, serta dapat memaafkan kesalahan orang lain. Kemudian menanamkan rasa percaya diri dalam diri mahasiswa dan bersifat terbuka dengan kritik orang lain serta semangat yang mengggelora.