Let’s talk about Career Development tonight. Ayah saya selalu bilang, orang berhidup itu, pilihannya dua. 1) Stay and enjoy whaterver yang ada, or 2) Grow dan raih mimpi. Untuk “Stay“, syaratnya jangan bandingkan dengan orang lain dan jangan ngedumel terhadap apa yang didapat dan dilakoni. Lalau ga bisa, ya ambil pilihan “Grow“. Untuk “Grow” seperti dorong mobil di jalanan terjal. Jangan berhenti sebelum sampai di atas. Nanti kalau melorot lagi, tambah susah dorongnya. ToGrow“, everybody must have a dream. Start with big dream, kalaupun nggak kesampaian, nggak jatuh ke tanah.

Developing career, seperti juga Strategic Management, bisa dibuat mapping nya. Resource apa yang dibutuhkan, dan timeline nya gimana. “Resource standard” adalah ilmu, uang, fisik. Disamping itu, baiknya disadari realita bahwa ada yang namanya kesempatan dan kemauan. Start to develop your career with 1)dream, 2)kesadaran bahwa gagal dan berubah is part of the process, dan 3)semangat untuk mencapainya.

The bestresource” untuk career development sebenernya adalah keinginan dan usaha untuk selalu punya “diferences” sesuatu yang nggak umum. “Diferences” yang dibangun ayah saya di zamannya tahun 60-an adalah bisa bahasa inggris, Mas Hari, tukang Becak di Jogja dengan “ngetweet“. Findingdiferences” bukan upaya yang selesai dalam semalam. This is part of your career dev process. Dan can change over the time.

Sekolah dan pendidikan adalah salah satu resource yang kuat dalam career dev. Buat yang ga ada masalah dengan keuangan, sikat terus resource ini. Sikat pol! cari sekolah terbaik di penjuru dunia, dan sekolah setinggi mungkin. Soal otak, ngikut aja kok. Asal usaha untuk belajar. Buat yang ada hambatan uang, waktu, dsb, ya usahanya lebih banyak. Cari beasiswa, ini, itu. Pokoknya sekolah itu elemen penting dalam career development. Yang sudah terlanjur tidak dapat sekolah, bukan berarti careernya tamat. Cuma usaha dan pencarian “differences“nya harus lebih banyak. Sebisa mungkin, kejar sekolah ini sebagai resources membangun karir. Dalam dunia korporasi, ada hubungan linear antara sekolah dan karir. Paham bahwa Gates or Jobs, malah drop out dari sekolah. Ok, if you are sekelas mereka dalam kreatifitas dan makingdifferences“, ga apa-apa DO. Saya mendukung agar orang-orang sekolah sampai ke tingkat doktoral. Even anda adalah pegawai kantoran yang bukan di dunia pendidikan. Sekolah itu bukan ijazahnya yang jadi penting untuk career development, tapi updated cara berpikirnya. Dan kemauan untuk terus belajar tersebut adalah resource!

soniasu.com
soniasu.com

Ok, sekolah tadi hanya salah satu “resource“. Yang lain adalah “Network“: teman, kenalan, mentor, dsb. The more you have, the stronger you are. Mau anda introvert or extrovert, dalam membangun karir, harus dipaksakan diri punya network seluas mungkin. Rumusan sederhana saya dalam membangun network adalah “what should be done to make people like me?” and “treat people the same“. Of course kita boleh selektif dan tetap harus punya “Dignity” ketika membangun network. Tetapi jangan bangun ruang batas tersebut di awal proses. Nasehat ayah saya, “bertemanlah dengan siapa saja. Perlakukan orang dengan baik.” Sesudah itu, baru “memilih”. Itupun kalau diperlukan. Nasehat boss saya “The only reason I can survive in this company is because I treat people the same. As human being“.

Find your mentor. Jika kerja di korporasi, find mentor yang “kelas”nya di atas kita. Don’t think that we are the best so no need anybody. Mentor adalah tempat kita belajar secara informal. Make sure your mentor knows bahwa anda “declareyourself as their mentee.

Kala kuliah, expand your network ke dunia “kerja” dengan baik. No no no! minta sponsorship kegiatan mahasiswa bukan bagian networking yang baik. Masih has to think, what makes people di dunia kerja bisa melihat anda sebagai asset or future asset bagi mereka. bukan sebagai liabilities. Orang di dunia kerja will be glad kalau Mahasiswa bisa show the benefit terhadap relationship. Network yang di bangun lewat social media can be useful too. But again, show that you are “eligible” dalam career development.

We have to think dalam membangun network. Tidak cukup dengan “sudah kenal” saja. Make yourself “recognizable” dan “memorable”. Salah satu “jurus” adalah dengan bertanya atau berpendapat “yang berbeda”. Pertanyaan atau komen yang bisa membuat orang ingat. Biasanya seminar atau ajang diskusi adalah tempat “subur” untuk jalin networking dengan “tokoh”/”orang berpengaruh” yang ingin “di-networking“. That’s fine. Use that’s opportunity. Cuma ingat, komentar/pertanyaan bisa jadi bumerang kalau tidak berkualitas, atau asal ingin tampil saja. Trust me, pembicara akan sangat mudah membedakan orang yang asal ingin tampil dan orang yang benar-benar bertanya or orang yang ingin belajar. Dalam bertanya/berkomentar di ajang diskusi, yang perlu diingat adalah sampaikan to the point. Ingat orang lain juga ingin punya kesempatan. Avoid pertanyaan yang lebih dari 1. Apalagi “saya ada tiga pertanyaan”. Waduh! Sekalian aja ceramah dan ambil alih kursi pembicara. This “1 question/comment is enough” also works on the meeting in the office or discuss with your bosses. Betul ada ajaran you have to be “visible”. Jadi tiap ada peluang buru-buru ambil. Tapi kalau komen or tanyanya garing, kelaut juga nantinya.

depositphotos.com
depositphotos.com

Networking. Make sure you are treated and treat people as an adult. Don’t do too much asking or complaining. Avoid to be “crying boy”. Rumusannya gini. Kalau mau asking or minta sesuatu, sebisa mungkin sudah dipertimbangkan bakal dapat. No got for just “a nice try”. Being “A Crying Boy” di kantor, bakalan bikin identitas jelek. Berhitunglah dengan baik, kapan harus meminta dan complain. Jangan juga jadi orang yang serba ga enakan dan takut untuk bertanya, meminta, dan complain. Ntar malah dianggap passive. Yang memang hak kita, perlu ditanyakan, diminta, tapi itu dia, play the game well. Jangan jadi passive or jangan juga jadi crying boy.

Masih seputaran networking dalam career development. Jangan bikin batas yang ga perlu. Misalnya saya anak factory. Ga perlu tau orang accounting. Having best friends tentu ok ok aja. But not everyday cuma dengan orang itu itu terus bergaulnya. Career datang dari segala penjuru lho. Networking. Try to be “visible” minimal di dua level di atas anda.  Kalau dari kerjaan kecil peluang, coba jalur lain. CSR, sport, etc.

Resource” lain selain sekolah dan networking, dalam membangun karir diperlukan “identity“.  People need to know, “who are you”. Identity. First, orang perlu tahu Si A bisa lakukan ini dan itu. Second, perlu dibangun Si A adalah jagonya di bidang ini dan itu. Awal kerja di GE, saya paham bahwa prestasi tidak akan jadi identitas saya secara cepat. Secara masih anak. Tapi saya coba untuk jadi resource terlengkap kalau orang bule mau tanya tentang Indonesia. Jadilah itu sebuah identitas awal saya di GE. Perlu run extra miles untuk nyiapin data berkala tentang Indonesia. Yang ga semuanya kerjaan saya waktu itu. But I need it for my identity. Then I learned. Career development perlu run extra miles. Ndak cukup kerja as usual atau kerja dengan baik saja. Time out dulu. Tukang nasi goreng fave saya lewat. Mau ngerayain anniversary sama istri dengan nasi goreng yang uenaaaak itu.

nrbbhutan.org
nrbbhutan.org

So, we continue. Sekolah, network, and identity. These are the elements that we discussed before for career development. Share saya malam ini mungkin lebih banyak ke career development kalau jadi profesional bekerja di korporasi. Saya tidak banyak tahu kalau ingin jadi enterpreneur. Identity tadi luas wilayahnya. Saya pernah di sales, banyak salesman yang capai target. Tapi sedikit salesman yang jago bikin presentasi. Lalu ada orang finance yang special yang selalu menyediakan waktunya untuk menjelaskan angka-angka. Dia punya “identity” sebagai source of information. “Identity” membuat orang jadi punya morevisibility” dan “differences“. But make sure kerjaan standard yang dilakukan juga bagus.

Selain tiga elemen tadi, make sure punya “values” kerja yang “standard“. Profesional, integrity, learning, dsb. Interestingly, valuealways eager to learn something newbring you to a better situation during your effort to climb the ladder. People love to work with someone who “always willing to learn”. Jadikan ini identity yang visible. Jangan cuma bosses yang tahu, tapi semua. Seringnya kan orang nggak ngerasa anak buahnya perlu tahu bahwa dia punya value “always willing to learn“. Padahal ini penting lho. Remember dalam career development, semua orang punya peluang bakal bisa jadi your boss someday. Makanya, “treat everybody the same“.

Kala ada pilihan promosi untuk candidates yang berkemampuan sama, sering ada kalimat seperti ini: “Oh, pilih si A saja, he/she is a quick learner“. Juga penting untuk tahu luar dalam tentang perusahaan tempat bekerja dan tentang industrinya. Susah berharap punya career development kalau ga bisa cerita tentang hal tersebut. Avoid mindset “silo”. “Oh, saya di bagian purchasing, nggak kenal siapa itu leader di pabriknya”. Wahhh. Susah tuh untuk punya career development. Be knowledgable! know people and your leaders, your business and industry, your competitors and customers, and a bit history of here and there. Don’t be afraid untuk bilang to your boss, what do you want to be. What is your goal for short, medium, and long term.

renaissanceinstitute.eu
renaissanceinstitute.eu

Memenuhi janji untuk lanjut tentang career development minggu lalu. What else do we need to climb up the ladder in a corporation? We talked about pentingnya sekolah, identity, learning, dsb di 69 tweet sebelumnya. Yang belum saya elaborate mungkin adalah being visible. One needs to be visible in their organization. Untuk itu, perlu sekurangnya sekali dalam 1 tahun membuat “wow” factor. “Wow” factor adalah suatu hal yang dilakukan yang bikin orang ingat dan tahu itu kerjaan kita. Tampillah ke depan, lead something “big”.

Kalau cuma mencapai target, belum bisa jadi “wow” factor, atau jadi team member, juga belum cukup membuat kita jadi visible. Find activities yang bisa diukur bobotnya bahwa ini cukup merupakan hal besar bagi perusahaan tempat anda bekerja. Tidak selalu ini harus sebuah proyek besar yang anda lead. Tapi bisa juga inisiatif lain, misalnya event, CSR, internal aktifitas, dsb. Wow factor tersebut haruslah hal yang orisinil dan anda lead. Ketika jadi sales di Lighting, saya bikin “menerangi Candi Prambanan”.

Saya sadar, kalau cuma pencapaian target, nilai bisnis lampu di GE tidak cukup besar visibilitynya, tapi menerangi candi bergaung luas. Lalu ada orang purchasing yang punya inisiatif bikin tabel tentang semua peraturan expor impor. Orang-orang jadi pakai tabel dia. Visible sekali! Pernah juga ada freshgrad yang bikin formula di excel untuk hitung cepat berapa biaya listrik di suatu negara berdasar variable- variable tertentu. Dan seorang secretary di zaman belum ada email mengusulkan penggunaan satu kertas saja untuk percakapan fax bolak balik. Those people kemudian dengan cepat menjadi leader karena mereka visible sekali dengan inisiatif- inisiatif “wow” nya. Tidak ada batasan untuk membuat “wow” factor. Yang penting mau mikirin dan tau apa yang dibutuhkan orang-orang di perusahaannya.

telusurindonesia.com
telusurindonesia.com

Yang juga berpengaruh terhadap visibility adalah cara berkomunikasi. Pengalaman saya, orang yang bicara berbelit-belit susah untuk visible. Sampaikan ide dalam waktu sepenaikan lift bersama atasan anda. Makanya dikenal istilah “elevator speech“. Lugas, rasional, dan runtut. Being visible bukan berarti “cari muka”. Tapi anda bikin “big thing“, a Wow!, yang membuat orang lain ingin tahu muka anda 🙂 . Juga penting bahwa membuat Wow factor tadi harus melibatkan orang lain, orang yang ter-ajak untuk di-lead anda, karen ide anda begitu Wow. Individualist jarang mendapatkan visibility yang baik, teamwork dan leading a team yang biasanya create positive visibility.

“Dewa” nya influence strategy, Gary Yukl, bilang bahwa “cari muka” orPersonal Appealis a weak influence strategy di zaman sekarang. Ini barang “panas”: Office politics selalu ada di organisasi manapun kita bekerja. Try not to involve too much di dalamnya. Kalaupun dipaksa terseret kedalamnya, gunakan rumusan sederhana: “treat everybody the same, give the same respect to everybody“. Mudah-mudahan, walaupun misalnya di cap sebagai orangnya si A or si B, orang lain tetap merasa dihargai karena diperlakukan sama oleh anda. Menghadapi bad boss, ada di tweets saya sebelumnya. http://www.handrysatriago.co.cc/2012/04/bad-leadership.html. When you climb up the ladder, dalam career development, jangan lupa terus belajar, dan mengajar! remember leader has to teach! Tamat ya, career development nya :). Ntar sambung kultwit yang lainnya lagi. Semoga ada manfaatnya. Salam!

*Kultwit Handry Satriago @HandryGE 31/05/2012 23:47:24 WIB