Di old school business, orang-orang tua beranggapan anaknya bahagia jalani pilihan orangtua. Anak adalah “penerus” bukan “pembaharu”. Berikut kultwit tentang merombak usaha warisan, yang saya ambil dari tulisan saya di Harian Sindo edisi 24 Mei 2012. Rumah milik orang tua kelak jadi rumah anak dan usaha yang dibangun orang tua akan diteruskan anak-anak dan keturunannya. Tapi bisakah hal itu dilakukan hari ini? Lihatlah fakta-fakta berikut ini.

Saat diangkat jadi CEO tahun 1986, tak terlihat tanda-tanda anak ini akan menjual perusahaan yang didirikan kakeknya pada 1913. Ia begitu tekun membina warisan ayahnya dan mulai merekrut tenaga profesional asing untuk mempercepat pertumbuhan usaha. Tetapi Maret 2005 publik dikejutkan, perusahaan berpendapatan bersih (saat itu) Rp 15 triliun tersebut dijual ke pihak asing. Perusahaan ini sangat besar, posisinya berada di urutan ketiga dalam industri dan merupakan salah satu legenda di sini. Perusahaan yang produksi 41,2 miliar batang rokok itu dijual Putera Sampoerna ke Philip Morris dan ia beralih ke bisnis-bisnis baru. Tak dapat saya bayangkan hal ini bisa terjadi bila Aga Sampoerna masih ada. Ceritanya mungkin akan berubah.

fakta.co.id
fakta.co.id

Zaman berlalu, generasi baru berubah pikiran. Benarkah meneruskan yang sama persis dengan pendahulu lebih menguntungkan? Saya ingin mengajak orang tua membaca kembali goresan pena Kahlil Gibran. Anak kalian bukanlah anak kalian. Mereka putra putri kehidupan yang merindu pada dirinya sendiri. Berikan kepada mereka cinta kalian, tetapi jangan gagasan kalian, karena mereka memiliki gagasan sendiri. Kalian boleh membuatkan rumah untuk raga mereka, tetapi tidak untuk jiwa mereka. Karena jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tidak bisa kalian kunjungi, sekalipun dalam mimpi.

Dalam old school business, anak-anak mampu menjadi penerus karena mereka dicetak melalui sistem persekolahan pabrikan. Metode pabrik yang mencetak murid secara massal dan terstandar adalah metode kuno dipaksakan pemerintah yang tak paham pendidikan. Biasanya persekolahan seperti itu menerapkan sistem kecakapan ujian sehingga kecakapan murid diukur dari nilai-nilai ulangan dan ujian. Supaya efisien, sekolah tidak mau repot-repot pahami gejolak lentera jiwa siswa, mereka cuma dibandingkan dengan angka sehingga didapat peringkat.

wastama.com
wastama.com

Kalau cara mendidiknya demikian, talenta-talenta yang tersembunyi tetap tersembunyi dan sulit berkembang. Sistem ini sudah lama dibongkar dimana-mana, tetapi masih berlaku di sekolah-sekolah pemerintah dan sekolah-sekolah berbasis agama di sini. Sekolah seperti ini cenderung mendidik dan menutup telinga dan mata hatinya pada talenta-talenta ciptaan Tuhan. Mereka masih terseok-seok hanya karena satu hal, yaitu ujian nasional yang diberlakukan negara.

kri.umy.ac.id
kri.umy.ac.id

Anak-anak yang mengembangkan talentanya, biasanya hal itu terjadi pada anak-anak yang dibawa orang tuanya bersekolah di luar negeri. Banyak pembaharu justru mendapatkan talenta-talenta asli yang bisa jadi berbeda dengan kehendak orang tuanya dengan sekolah diluar. Mereka yang menemukan talenta-talenta khusus itu berpotensi memperbaharui usaha orang tua dalam arti yang lebih revolusioner.

raisrizqir.blogspot.com
raisrizqir.blogspot.com

Untuk apa mencemaskan mereka? Bukankah justru yang harus dicemaskan mereka yang sekedar “numpang hidup” pada bisnis keluarga? Mereka seperti penumpang bus. Mereka bisa ngantuk, tertidur, tak tahu arah jalan. Bisnis keluarga bisa berakhir di tangan mereka. Berikan kesempatan pada anak-anak untuk mengenal talentanya sendiri. Anak-anak ini mungkin akan membongkar usaha yang Anda rintis. Semoga kultwit saya bermanfaat utk Anda semua, dan nantikan kultwit-kultwit saya berikutnya. Salam Perubahan.

*Kultwit Prof. Rhenald Kasali @Rhenald_Kasali 29/05/2012