Assalaamu’alaykum wa rokhmatullaahi wa barokaatuh,

Alkhamdulillaah, segala puji syukur bagi Allah, yang dengan nikmat, ridho, dan petunjuk-Nya, hal-hal baik bisa terlaksana. Tanpa petunjuk dan rahmat dari-Nya niscaya kita akan tersesat akan tipu daya setan dan dunia. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada junjungan dan teladan kita Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan umatnya. Semoga syafaat Beliau bisa kita dapatkan di hari akhir nanti, aamiin.

Allah SWT berfirman dalam sebuah ayat Al-Qur’an yang bunyinya, “wa maa kholaqtul jiinna wal insa illaa liya’buduun” yang dimana artinya adalah “Tidaklah diciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS.Addzariyat :56). Sebagaimana firman Allah dalam ayat di atas, tidaklah kita diciptakan melainkan beribadah kepada-Nya. Sebagai umat Islam (agam yang telah disempurnakan oleh Allah SWT), ibadah disini selain dari 5 rukun Iman dan 6 rukun Islam masih banyak yang lain yang telah dicontohkan dan dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sehingga menuntun umat menjadi pribadi muslim yang kaffah (menyeluruh). Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir 1/335).

Kita perhatikan ayat ini, setelah Allah ta’ala mengajak para hamba-Nya yang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan melaksanakan ajaran-Nya tanpa mengesampingkan ajaran yang lain, maka Allah ta’ala memperingatkan hamba-Nya agar tidak mengikuti langkah syaithan, yaitu dengan firman-Nya,

Ayat ini menunjukkan indikasi bahwa, di sana hanya terdapat dua buah pilihan, yaitu: Pertama, masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dengan melaksanakan ajarannya yang komprehensif dan paripurna, atau apabila tidak mau melaksanakan ajaran Islam secara keseluruhan, maka yang ada hanya pilihan kedua, yaitu mengikuti langkah-langkah syaithan dengan melakukan pembeda-bedaan ajaran Islam atau meremehkan sebagian ajarannya. (Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. 18 February 2010)

Sebagai umat Islam ciptaan Allah SWT, tentulah kita harus terfokus pada beribadah kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, tak terkecuali pada masa kita hidup di dunia yang menjadi ujian kita ini. Akan tetapi tentunya dalam ujian terdapat berbagai halangan, rintangan, dan hasutan. Dan rintangan yang nyata bagi kita adalah Setan. Oleh karena itu, kita perlu menyusun strategi dalam hidup ini supaya kita beserta saudara-saudara kita semua mampu bekerja-sama melewati ujian-ujian tersebut. Dalam penyusunan strategi perlu senantiasa kita menganalisis keadaan yang biasanya kita gunakan bisa memakai analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunites, Threats). Nah, saya akan mencoba mengkaji sedikit mengenai Threats (halangan-halangan) yang ada di Indonesia bagi muslim untuk beribadah kepada Allah SWT supaya kita bisa mengantisipasinya dengan tindakan antisipasi yang baik.

Terdapat banyak halangan bagi muslim Indonesia untuk beribadah kepada Allah SWT secara kaffah di Indonesia sekarang ini, akan tetapi menurut saya ada 2 halangan yang paling berpotensi menahan kita untuk beribadah kepada Allah SWT di Indonesia, halangan-halangan tersebut yaitu, pertama, terdapat banyak perbedaan kelompok dalam umat Islam Indonesia itu sendiri dengan kepentingan kelompoknya masing-masing yang terlihat mengesampingkan kebaikan bersama, kedua, terserangnya dakwah Islam baik secara kekurangan penguasaan media sehingga fitnah kepada syariat yang didakwahkan bebas diterima masyarakat ataupun juga masih kurangnya kesadaran kewajiban berdakwah pada kaum muslimin itu sendiri.

Perbedaan kelompok dalam umat Islam Indonesia cenderung disebabkan adanya budaya persaingan yang terus digalakkan sejak dini oleh sistem masyarakat kita. Seperti contohnya adanya banyak perlombaan hal-hal sepele tanpa memasukkan unsur kebersamaan disana, ataupun lebih dihargainya prestasi seseorang dibandingkan kebaikan akhlaknya (Ranking 1 di kelas lebih dihargai daripada kebaikan akhlak seseorang di mata masyarakat). Pendidikan umat dari dini ini amatlah penting karena hal itulah yang akan lama melekat pada diri seseorang dalam hidupnya, sehingga jika seseorang sudah mempunyai keinginan/idealisme-nya, sulit baginya untuk menerima pendapat orang lain yang lebih baik darinya ataupun sedikitnya memikirkan ukhuwah/persaudaraan terlebih dahulu. Di Indonesia, murid sekolah negeri sejak dini sudah difokuskan pada pembelajaran materi dan teori yang sangat banyak menyita waktunya. Waktu mereka untuk berkembang dan belajar dituntut terpaku pada perkembangan pribadi diri sendiri. Menyebabkan waktu yang tersisa untuk menolong ataupun sekedar menjalin silaturahmi dengan saudara seimannya yang lain menjadi sedikit. Oleh karena itu, wajarlah jika nantinya yang tercipta adalah generasi yang baik secara pribadi akan tetapi kurang peduli pada sekitarnya. Pembinaan akhlak pada diri pemuda di Indonesia juga cenderung terlambat karena di mata masyarakat Indonesia, usia remaja wajar didalamnya ditemukan kenakalan-kenakalan meskipun sudah baligh, dan akan dibina serius pada usia dewasa (17-18 tahun ke atas). Padahal ini salah, ketika pemuda sudah mencapai akil balighnya, seharusnya dia sudah harus dibina untuk mempunya akhlak yang baik dalam amar ma’ruf nahi munkar dengan mengutamakan ukhuwah dan syariat Islam. Kebiasaan saat remaja kemungkinan besar diteruskannya saat dewasa nanti ataupun sesudahnya. Jadi, jika saat itu dibiarkan ke arah yang salah, amatlah meruginya kita kehilangan potensi kebaikan dalam diri mereka. Pada akhirnya mereka akan membawa akhlak dan pemikirannya dalam kelompok umat yang dia sukai, jika terdapat idealisme yang mengalahkan keutamaan ukhuwah dan bersyariat, maka kelompok kelompok yang ada akan terus menemui kesulitan bekerja sama dan bersatu untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Selain hal di atas, halangan besar kita adalah kurangnya penguasaan media di Indonesia yang kita ketahui sekarang ini dikuasai non-muslim dan pemburu materi. Sehingga fenomena yang sekrang kita rasakan yaitu terserang dakwah Islam dan syariatnya oleh mereka sangatlah kuat karena dukungan media yang besar. Penolakan kepada syariat Islam yang mereka kampanyekan sebagai budaya Arab yang tidak cocok dengan Indonesia teruslah masih bisa kita dengarkan secara besar-besaran. Ada juga penolakan syariat Islam karena dianggap akan merugikan Indonesia secara materi oleh mereka para pemburunya. Hal itu susah kita bendung jika kita tidak mampu merebut pasar informasi (dakwah) tersebut. Apalagi jika ditambah tanpa adanya pembinaan akhlak dalam aqidah yang kuat yang ditanamkan sejak dini kepada umat Islam. Hilangnya kesadaran kewajiban berdakwah pun menambah kelemahan kita dalam pasar informasi tersebut karena akan menghilangkan semangat kita untuk merebutnya setelah dianggap tidak terlalu pentingnya menyebarkan informasi kebaikan dan ketaatan (dakwah) kepada saudara kita yang lain.

Oleh karena itu diperlukan perubahan dalam masyarakat kita sehingga mampu menghilangkan berbagai halangan di atas dan juga banyak halangan lainnya yang belum saya jabarkan disini. Perubahan diperlukan semangat dan tenaga yang besar serta keyakinan yang kuat disertai rasa persahabatan dan kasih sayang. Semua umat Islam seharusnya mampu mengusahakan itu semua, akan tetapi potensi terbesar ada dalam diri pemuda karena disanalah letak keteguhan hati, semangat membara, serta tenaga yang besar untuk melakukannya.

Bagi pemuda yang saat ini sadar akan pentingnya ber-dakwah dan membina ukhuwah teruslah lakukan perubahan bersama saudara saudara kita semua. Dan bagi para orang tua, dukunglah dan didiklah mereka dengan pendidikan dan contoh yang baik dari anda.

Wallaahu a’lam, Billaahi sabiilil haq, fastabiqul khoirot. Wassalaamu’alaikum wa rokhmatullaahi wa barokaatuh.

ditulis oleh Rizal Amiruddin Naafi’