Oleh : Syifa Aziza (Staff Biro Media Center Salam UI 19)

H-2 atau H-1 masih belum pasti. Yang pasti, hari ini adalah hari ke-29. Bagi sebagian besar orang yang membaca tulisan ini terutama muslim saya yakin mengetahui makna hitung mundur dan penghitungan tanggal tersebut. Ya, apalagi kalau bukan bulan yang paling mulia bagi umat Muslim, yaitu bulan Ramadhan. Hanya tinggal esok atau lusa, akan ada perpisahan. Akan ada kepergian. Akan ada akhir dari sesuatu yang mungkin di awal kehadirannya begitu dinanti. Akan ada awal yang baru. Kembali fitri, suci katanya. Suci dari dosa-dosa seakan bayi yang baru lahir. Namun apakah penantian kita di awal setara dengan pelepasan kita di akhir, dalam hal ini ketulusannya? Semangatnya? Tidak sedikit di antara kita yang bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah cinta kita setulus itu? Apakah kita mencintainya dengan niat dan cara yang benar? Sehingga kita pantas untuk kembali suci?

Tidak beranjak dari masa lalu memang hal yang tidak baik, namun mengingat masa lalu bukanlah hal yang salah. Mari kita menengok sedikit saja ke belakang. Ke hari-hari di mana waktu menjadi semakin bermakna. Akui saja, kita sebagai muslim menjadi lebih akurat dalam mengingat waktu sholat, terutama subuh dan maghrib sebagai batas mulai dan berbuka puasa. Tidak hanya mengenai menit, tetapi juga hari semakin berarti. Meskipun mungkin tidak setiap hari, tetapi puasa yang berlangsung sebulan tidak dapat dipungkiri sangat terasa di awal dan di akhir. Di perjumpaannya dan di perpisahannya. Di awal menghitung-hitung baru sedikit sekali bulan puasa berlangsung. Hingga di akhir muncul kata-kata “tidak terasa ya” atau semacamnya. Di akhir, apalagi keistimewaan sepuluh malam ganjilnya pun semakin membuat kita menghitung-hitung berapa hari lagi menuju 1 Syawal yaitu hari Idul Fitri atau yang biasa disebut oleh umat Islam di Indonesia sebagai “Hari Lebaran”.

Hanya tinggal esok atau lusa. Setelah beberapa hari lalu kita menggumam, tinggal beberapa hari lagi. Di sepanjang penghujung waktu, perasaan kita tentu bercampur aduk. Sebagaimana perpisahan pada umumnya, waktu-waktu menjelang perpisahan akan menimbulkan rasa bahagia dan sedih di saat yang bersamaan. Seperti beberapa waktu ini yang bertepatan dengan kenaikan kelas di sekolah. Naik tingkat dari SMA ke kuliah, sidang sarjana, ada kebahagiaan atas kerja keras yang akan mengantarkan ke tingkat yang lebih tinggi. Namun ada kesedihan atas perpisahan dengan teman-teman seperjuangan, juga penyesalan atas ketidakmaksimalan dalam berbuat baik bagi diri sendiri dan sekitar.

Petikan-petikan hikmah terbanyak yang bisa diperoleh baik bagi adik-adik SMA yang akan kuliah maupun kakak-kakak sarjana yang akan menuju dunia pascakampus nya masing-masing tak jauh berbeda dengan kebersamaan kita dengan Ramadhan ini. Sama-sama memetik hikmah di penghujungnya. Sempat terbersit di pikiran saya mengapa banyak hikmah yang harus hadir di penghujungnya? Mengapa malam lailatul qadr yang lebih baik dari seribu bulan ditempatkan di akhir? Mengapa itikaf umumnya kebanyakan dilakukan di akhir? Mengapa ramai-ramainya Ramadhan, baik kekhusyuan ibadahnya maupun persiapan duniawi seperti makan khas lebaran dan baju baru-yang semuanya itu Insya Allah jika diniatkan bernilai ibadah-terjadi di akhir?

Kemudian saya teringat nama sebuah sekolah islam swasta berasrama. Bukan sekolahnya, tetapi namanya. Husnul Khotimah. Artinya, akhir yang baik. Jujur saya tidak ingat di ayat mana atau di hadits manakah adanya kata-kata tersebut karena selama ini seingat saya ungkapan tersebut saya dengar dari doa yang dipanjatkan baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Ungkapan ini menurut saya adalah sebuah konsep hidup yang begitu inti. Segala hal yang ada dalam hidup kita, bagi orang yang beriman pada hakikatnya adalah jalan, jembatan, bekal, persiapan, perantara, dan sebagainya menuju kehidupan akhirat. Dalam konsep husnul khotimah, yang menentukan nasib atau nilai adalah pada akhirnya.

Adilkah? Jika seseorang pernah berbuat baik lalu menjadi jahat dan jika seseorang pernah berbuat jahat lalu menjadi baik, sekilas terlihat sama bukan? Apakah lantas kebaikan atau kejahatan di masa lalunya benar-benar musnah begitu saja? Sebermakna itukah perubahan? Jawabannya bisa jadi iya. Bukan tentang hitungan baik dan buruk yang diakumulasikan. Tetapi sebagaimana bertambahnya amal dapat berlipat ganda, terdapat pula hukum yang mengurangi atau bahkan menghapus. Seperti halnya aqidah, yang jika seseorang berubah aqidahnya, berubah agamanya, maka terhapuslah perbuatan aqidah sebelumnya, baik perbuatan baik (iman dan amal sholeh) maupun perbuatan buruk (dosa dan maksiat).

Bagi muallaf, segala dosanya terhapuskan dan ia suci sebagaimana bayi yang baru lahir. Bagi orang yang murtad, segala pahalanya terhapuskan. Sebegitu pentingnyalah iman dan seberbahaya itulah syirik. Tidak hanya itu. Sebagaimana kita menilai dan dinilai orang lain, hanya orang berpikiran sempit lah yang menilai sesama hanya berdasarkan masa lalunya. Riwayat memang penting, tetapi selama nyawa masih bersemayam di tubuh kita, bukan sebuah kemustahilan jika di penghujung hayat diri kita berbeda seratus delapan puluh derajat. Sebegitu pentingnyalah yang di akhir.

Kembali pada waktu, fenomena ramainya ibadah atau yang saya lihat sebagai meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat menurut saya dapat diterjemahkan sebagai persiapan menuju hari akhir. Sebagaimana kita menjemput hari kematian kita, menjemput hari akhir zaman, seperti itulah kita menjemput satu Syawal. Dengan cara yang bermacam-macam. Mobilitas meningkat dilihat dari ramainya masjid oleh kajian-kajian keislaman maupun rangkaian itikaf, juga ramainya pasar oleh produk-produk khas lebaran maupun diskon besar-besaran. Orang-orang berbondong-bondong keluar dari rumahnya. Di ujung dari penghujung pun tradisi masyarakat Indonesia memperlihatkan mobilitas yang luar biasa hebat: mudik.

Khas.  Keren. Merakyat. Tiga kata itulah yang saya pikir pantas disematkan untuk fenomena penghujung Ramadhan atau menjelang Lebaran. Khas, karena banyak tradisi yang dimiliki atau hanya ramai semarak di Indonesia. Seperti pawai Ramadhan, buka bersama, ta’jil dan sahur on the road, mudik, dan lain-lain yang begitu subur di Indonesia. Keren, dalam sudut pandang sebagai penuansaan syiar Ramadhan. Sebagai penghormatan. Sebagai penjiwaan. Merakyat, karena hampir seluruh orang merayakannya. Baik yang kaya maupun yang miskin, Ramadhan menghasilkan upaya pemerataan kebahagiaan. Meskipun tentu tidak akan rata dan tidak dapat diukur, meskipun tentu tetap ada yang berduka, namun dengan zakat, infaq, sedekah yang menyebar dan harga barang yang bervariasi, setidaknya secara umum setiap orang ’memaksakan’ dirinya untuk mengisi penghujung Ramadhan dan menyambut Idul Fitri dengan sebaik-baiknya.

“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan memohon ampunlah kepada-Nya.”

Teringat Al Quran surat An Nasr ayat dua. Dulu, saya sempat terheran ketika membaca terjemahan surat ini. “Jika datang pertolongan Allah dan kemenangan”, begitu ayat sebelumnya. Saya memikirkan rangkaian kata: memohon ampunlah kepada-Nya. Memohon ampun atas pertolongan dan kemenangan? Mengapa? Kemudian diakhiri dengan, “Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat”. Tak dipungkiri lagi, kata istighfar yang dimaksud adalah untuk bertaubat. Bertaubat atas pertolongan Allah dan kemenangan? Setelah saya membaca tafsirnya dari Tafsir Fii Zhilalil Quran, dijelaskanlah bahwa kemenangan yang dimaksud adalah atas peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Mekkah. Makna istighfar tersebut adalah memohon ampun kepada Allah, karena banyaknya perasaan yang bercampur aduk di dalam jiwa, yang begitu rumit dan halus jalan masuknya. Juga beristighfar dari rasa bangga dan sombong yang terkadang mengiringi kalbu atau menyelinap ke dalam hati atas kemenangan yang diraih karena sejatinya kemenangan mereka adalah atas pertolongan Allah.

Astaghfirullah. Untuk penyia-nyiaan waktu di awal Ramadhan. Untuk fluktuasi iman yang lebih banyak turun daripada naiknya. Untuk ibadah vertikal yang dilakukan sendiri ketimbang mengajak sesama. Untuk ibadah duniawi yang terkadang masih terombang-ambing niatnya. Untuk semangat yang hanya membara di perapian pribadi, juga untuk semangat yang mungkin tak kunjung membara hingga di akhir.

Satu Syawal. Lebaran. Idul Fitri. Bagaimanapun kita menyebutnya, semoga sebulan yang penuh rahmat dan berkah ini menjadi titik balik kita semua, bersama, menjadi pintu akselerasi untuk lebih memaknai arti hidup yang sebenarnya. Tak ada kata terlambat untuk mencintai. Cinta di penghujung waktu mungkin akan mengantarkan kita pada awal yang lebih baik. Cinta yang tersebab kepergiannya justru membuat kita semakin kuat. Sebelas bulan selanjutnya lah yang kemudian menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di awal tadi. Apakah cinta kita setulus itu? Apakah kita mencintainya dengan niat dan cara yang benar? Sehingga kita pantas untuk kembali suci?

 

SHARE