Perang dan perebutan kekuasaan telah banyak mewarnai panggung sejarah dunia. Dari zaman kerajaan hingga zaman republik, dari zaman bersenjata pedang hingga perang dengan senapan.

Keserakahan dan egosentrisme manusia telah memicu bencana kemanusiaan. Perang dengan segudang alasan dikobarkan. Jiwa manusia melayang bagai daun-daun berguguran, tak berarti.

Peristiwa Perang Dunia kedua menjadi saksi betapa pahitnya akibat konflik antar manusia.

Sekutu boleh saja bergembira atas kemenangannya. Namun sejatinya tak ada yang pernah memenangkan perang jika masih ada nyawa yang tak berdosa dikorbankan.

Mengapa para petani itu harus luluh lantah disapu bom atom Hiroshima? Apa dosa mereka? Mengapa para pekerja pabrik juga jadi sasaran hanya karena rasnya?

Mereka pelaku perang tak akan pernah bisa menjawabnya, walau seribu alasan disodorkan. Jawabannya hanya ada pada nurani kita masing-masing.

Perang Dunia II adalah sejarah hitam dalam kemanusian. Diperkirakan 50 juta sampai 70 juta jiwa menjadi korban keganasan perang ini. Perang yang tercatat paling memakan korban jiwa sepanjang sejarah manusia.

Mirisnya lagi 2/3 korban jiwa itu adalah warga sipil dan banyak dari mereka adalah wanita dan anak-anak.

Kini hampir 8 dekade berlalu, namun ingatan tentang tragedi Perang Dunia II tak pernah bisa dilupakan. Bukan untuk selalu diratapi apalagi dibanggakan.

Namun menjadi pelajaran paling penting bagi kita semua, betapa berharganya perdamaian dunia dan betapa buruknya dampak perang dirasakan.

Jatuhnya satu jiwa manusia tak akan pernah bisa ditebus dengan emas permata. Pembantaian yang dilakukan oleh tentara Perang Dunia II kepada puluhan juta penduduk sipil tak akan pernah bisa dimaafkan.

Memang jatuhnya korban sipil tak terhindarkan dalam sebuah perang. Tapi apa jadinya jika mereka memang sengaja dibantai? Sebuah kejahatan kemanusiaan yang begitu dahsyat!

Catatan sejarah dalam Perang Dunia II menceritakan kejahatan kemanusian itu banyak terjadi. Pembantaian, pemerkosaan dan genosida ini harus selalu kita ingat untuk kehidupan esok yang lebih baik.

1Pembantaian dan Pemerkosaan di Nanking, Tiongkok

kingsacademy.com

Kota Nanking saat itu adalah ibukota dari Republik Tiongkok, menjadi saksi atas tindak brutal manusia kepada manusia lainnya. Serdadu Jepang telah kehilangan nuraninya, tenggelam dalam dogma-dogma fasisme.

Pemerintah Tiongkok memperkirakan ada 300 ribu penduduk menjadi korban jiwa. Mereka terdiri dari warga sipil dan tawanan perang.

Pembantaian dan pemerkosaan berlangsung selama 6 minggu dimulai dari 13 desember 1937.

commons.wikimedia.org
commons.wikimedia.org

Jepang memang telah menduduki Tanah tiongkok mulai dari tahun 1931, yaitu dimulai dari serbuan terhadap kekaisaran Manchurian di timur.

Perlawanan Republik Tiongkok secara serius di tahun 1937 berujung pada perang besar dan penguasaan Jepang atas sebagian besar tanah Tiongkok.

2Holocaust; Genosida Terbesar dalam Sejarah

en.wikipedia.org

Salah satu peristiwa genosida yang dianggap paling besar. Tidak ada angka pasti tentang berapa korban dari pembantaian atas dasar ras ini.

Diperkirakan lebih dari 5 juta penduduk sipil Yahudi Jerman dan Yahudi Polandia menjadi korban dari aksi bengis pemerintahan Nazi Jerman.

Ideologi Nazi dengan ajaran ultranasionalisme, menganggap ras Yahudi adalah benalu dalam kemajuan Jerman yang harus disingkirkan.

Bagi mereka genosida adalah ‘solusi’ untuk menghilangkan Yahudi dari tanah Jerman dan Polandia.

Yahudi yang dahulu adalah bangsa tanpa negara, kini sebagian mereka telah mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina. Ironis memang, mereka yang dulu ditindas, kini balik menindas rakyat Palestina.

Apakah mereka tidak belajar pelajaran kemanusiaan dari peristiwa Holocaust?

3Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

openculture.com

Apa yang kita pelajari dari buku-buku sejarah tentang peristiwa bom atom Nagasaki dan Hiroshima? Kemenangan gemilang sekutu atas Jepang? Peristiwa yang membuat negara kita merdeka?

Jarang sekali kita melihat peristiwa ini dari sudut kemanusian. Apa karena mereka adalah negara penjajah dan negara fasis?

nydailynews.com
nydailynews.com

Bagaimana mungkin dunia mengabaikan 200 ribu lebih korban jiwa dan jutaan orang terkena radiasi nuklir, lalu bersorak atas kemenangan perang. Padahal hampir semua korban itu adalah warga sipil.

Sering kita dengar bahwa Perang Dunia II tak akan berhenti tanpa dijatuhkannya bom atom di dua kota ini. Dan 200 ribu warga sipil Jepang harus “dibunuh” atas nama perdamaian dunia.

Jika Jerman menyesal atas sejumlah pembantaian, Serbia juga menyesal atas tragedi Bosnia. Hebatnya bagi negara pemenang perang dan Super Power, tak ada penyesalan yang keluar dari otoritas resmi Amerika Serikat.

4Pembantaian Dresden oleh Sekutu

hitchensblog.mailonsunday.co.uk

Sejarah memang digiring oleh para pemenang dan para penguasa. Negara yang kalah dalam Perang Dunia II selalu disudutkan menjadi pihak bersalah dan pemenang perang menjadi pihak yang selalu benar.

Ketika pasukan Nazi mulai terdesak oleh tentara merah Uni Soviet, warga sipil Jerman pun mulai mengungsi untuk menghindari serbuan Uni Soviet. Mereka mengungsi ke kota yang dianggapnya aman, kota pelajar Dresden.

Namun anggapan mereka ternyata keliru, ratusan pesawat sekutu tak segan menjatuhkan berton-ton bom ke kota ini. Selama dua hari bergantian pesawat Inggris dan Amerika menyerang kota ini.

Diperkirakan 400-600 ribu jiwa menjadi korban dalam serangan ini. Peristiwa ini yang menyebabkan warga Jerman begitu benci terhadap perang, dimana mereka juga adalah korban.