Fakhrur Rosyidi adalah seorang guru honorer di SDN Banjarimbo II, Kecamatan Lumbang sejak tahun 2005. Hari itu, dia tampak sedang memanasi motor beroda tiganya yang biasa digunakan untuk mengangkut sampah di rumha-rumah warga, Rabu (27/4/2016).

Pria yang lahir pada tahun 1978 itu sedang mengangkut sampah yang ada di depan rumah warga setempat. Di atas motornya itu juga sudah tampak bak sampah kotak yang biasa digunakan untuk mengumpulkan berbagai jenis sampah sampah.

Menjadi tukang sampah sebenarnya bukan profesi utama Fakhrur. Karena seperti yang dijelaskan di awal bahwa Bapak satu anak ini adalah seorang guru honorer. Setiap hari, dia harus melewati jarak 35 kilometer untuk sampai ke sekolah tempatnya mengajar.

Namun, memiliki pekerjaan sebagai guru honorer membuatnya hidup dalam keterbatasan. Sebab, per bulan ia hanya digaji sebesar Rp 125.000. Jumlah uang yang belum bisa  memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saat itu, pada tahun 2008 masyarakat desanya menginginkan sampah di rumahnya diangkut lalu dibuang ke suatu tempat pembuangan. Pada waktu itu ditawari siapa yang mau menerima pekerjaan tersebut. Akhirnya Fakhrur mengajukan dirinya untuk menjalankan tugas tersebut. Dia ingin mencari penghasilan tambahan untuk memperbaiki kesejahteraan keluarganya.

Sejak dia menerima pekerjaan menjadi pengangkut sampah, kesibukan Fakhrur pun bertambah. Pagi sampai siang menjadi guru honorer, sedangkan sorenya mengangkut sampah. “Dulu masih dorong pakai gerobak. Tapi sejak tahun 2012, dapat bantuan motor niaga,” ungkap dia.

Namun, menjadi tukang sampah tidak lantas menaikkan taraf hidupnya dengan keluarga. Sebab, ternyata dirinya tidak memperoleh upah tetap dari pemerintah desa setempat.

Fakhrur hanya mengandalkan pemberian seikhlasnya dari penghuni rumah yang menggunakan jasa angkut sampahnya. Meski begitu, lulusan MAN 3 Malang itu tidak mau memasang tarif untuk jasanya. Ia mengaku hanya menerima sesuai pemberian penghuni rumah tersebut. Ada yang memberi Rp 5.000 tiap bulan, ada juga yang memberinya Rp 10.000 per bulan.

“Sekarang ini sudah lumayan banyak. Ada 80 rumah yang saya ambili sampahnya. Kalau dulu hanya 10 rumah saja,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Fakhrur bertekad tidak akan meninggalkan profesinya sebagai guru honorer. Sebab bagi nya, menjadi guru merupakan sebuah pengabdian kepada masyarakat.

“Saya ingin sekali mengamalkan ilmu saya yang saya dapat. Karena tanggung jawabnya tidak hanya di dunia,” pungkasnya.

 

 

SHARE