Kita hidup melalui proses-proses kehidupan. Mulai dari dalam kadungan hingga lahir dan tumbuh menjadi dewasa.

Proses-proses itu kita jalani. Masih ingatkah kamu saat kamu SD, dan ditanya oleh gurumu “Jika besar nanti kamu ingin menjadi apa?”

Ada yang menjawab, ingin jadi dokter, guru, polisi, pilot, dan lain-lain. Mengapa kebanyakan anak-anak menjawab demikian?

Mungkin di kehidupan nyata mereka melihat figur yang mereka cita-citakan tersebut baik, pintar, dan disukai banyak orang. Mereka “tertarik” untuk menjadi seperti figur-figur tersebut.

Ya, begitulah gambaran ketika kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Selanjutnya masa SMP, masa dimana kita masih berada dalam masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa atau yang biasa dikenal remaja.

Pertanyaan yang ada di benak kita adalah, “Aku ini seperti apa?” Aku ingin seperti Si A yang cantik, seperti Si B yang gaul dan modern.

Tak jauh berbeda dengan menjadi anak SMA, mereka masih mencari jati diri. Jika ditanya “Kamu ingin jadi apa nanti?” Mungkin ada yang menjawab, “Jadi vokalis band yang gaul dan keren ya..”

Bisa saja jawaban itu terlontar karena mereka masih menikmati masa muda yang “indah”. Itulah fase kehidupan.

Masa-masa sekolah dulu memang indah, kita belum terlalu banyak berpikir tentang banyak hal.

Nah ketika kamu sudah mencapai umur yang matang, akan ada pertanyaan-pertanyaan yang berbeda dari masa-masa sekolahmu dulu.

Berawal dari kata “Kapan”, yang menanyakan waktu. Inilah beberapa pertanyaan yang dapat mengubah mood mu.

1“Kapan Lulus?”

www.nurlianasyaf.com

Adalah pertanyaan yang mampu “menohok” bagi kebanyakan para mahasiswa semester akhir. Saat teman-teman satu angkatan denganmu sudah banyak yang lulus dan kamu masih berkutat dengan perkuliahan, hal itu membuat “galau.”

Ingin rasanya segera menyusul mereka-mereka yang telah lulus, tapi dosen penguji skripsimu susahnya minta ampun atau masih harus mengikuti pelajaran kuliah lagi karena nilai yang kurang, dan lain-lain alasannya.

Semangat bagi para mahasiswa semester akhir. Saat kamu ditanya “Kapan lulus?”, jadikanlah itu motivasi untuk lebih giat dan bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas akhirmu. Bukan malah larut meratapi “keadaan.”

Ketika kamu sudah selesai ucaplah rasa syukur dan say good by tugas akhir.

fadlikadn.files.wordpress.com

Kamu dapat mengambil hikmah bahwa kamu dapat memetik banyak ilmu dan semakin mendalaminya agar nanti ketika terjun ke dunia kerja kamu dapat bekal yang matang.

Selain itu kamu dapat menikmati masa-masa menjadi mahasiswa yang sebentar lagi akan kamu tinggalkan.

2 “Kapan Nikah?”

luluamalian.blogspot.com

Bagi para wanita dan pria single memang harus bersabar mengahdapi pertanyaan yang satu ini.

Ketika usiamu tak lagi muda atau saat teman-temanmu sudah banyak yang menikah sedangkan kamu masih saja single, akan ada pertanyaan yang bisa membuatmu “sakit hati”.

Adalah pertanyaan “Kapan nikah?”, pertanyaan yang tiba-tiba biasanya dilontarkan saat kamu menghadiri acara pernikahan teman sebayamu.

Mood yang tadinya bahagia karena ikut merasakan kebahagiaan atas pernikahan temanmu langsung berubah.

Bahkan pada moment lain pun hal itu sering ditanyakan seperti saat reuni keluarga, lulus kuliah, dan lain-lain.

Memang tergantung kita bagaimana menyikapnya. Menikah membutuhkan persiapan yang matang, mungkin mereka yang sering memberikan pertanyaan itu tidak memahami apa yang sedang kita jalani.

Saat kamu ditanya “kapan nikah” berikan senyum manismu sambil berkata “Mohon do’anya.”

3 “Kapan Punya Anak?”

sekilasdakwah.blogspot.com

Namanya manusia selalu ingin tahu. Ketika kamu sudah menikah, dari keluarga, saudara-saudaramu atau bahkan temanmu akan bertanya “udah isi belum?”, “kapan punya anak?” dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan seputar kehadiran anak ditengah keluarga kecilmu akan sering muncul saat kamu belum dikaruniai anak.

Bagi mereka yang sensitif terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu terkadang membuat stres. Bagaimanapun juga manusia terus berusaha dan Tuhan lah yang memberi.

4 “Kapan Punya Menantu?”

www.dianaishak.com

Bagi orang tua yang anaknya belum menikah sebenarnya tidak hanya anaknya saja yang dilanda galau, tapi orang tua pun juga merasakan kegalauan hati.

Mungkin ada yang bertanya “kapan Jeng punya mantu” atau pertanyaan sejenis yang dilontarkan para saudara atau teman-teman orang tua mu.

Bersabar adalah salah satu kunci dalam menghadapi pertanyaan ini, sambil terus berusaha dan mendoakan anaknya untuk segera menikah.

Memilih menantu yang baik itu sangat penting, karena ia akan mendampingi hidup anak-anaknya.

Itulah beberapa pertanyaan yang dengan mudah diucapkan orang lain, tapi terkadang membuat hati kita terasa sakit.

Bersabar dan berusaha adalah salah satu kuncinya. Kita yang menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin dan orang lain hanya melihat diri kita dari ‘luar’. Jadikan hal itu menjadi “pecutan”semangatmu.

SHARE