Lazim kiranya bagi kita untuk senantiasa menghargai jasa para pahlawan dan para tokoh pejuang yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari golongan ulama dan santri yang tentunya berasal dari kalangan pesantren.

Beberapa diantara mereka adalah para ulama yang namanya hingga kini masih sering kita dengar karena telah diabadikan sebagai nama-nama jalan di kota tempat asalnya. Salah satunya bisa kita temukan pada jalan-jalan di Kota Bogor.

Di mana di kota tersebut akan kita temukan nama-nama jalan yang menggunakan para tokoh ulama pejuang. Mereka tidak sekedar dikenal sebagai para pejuang, tetapi juga berjasa besar atas keberadaan beberapa pesantren besar di Kota Bogor.

Kira-kira siapa saja para tokoh ulama tersebut? Berikut ulasannya.

1K. H. Abdullah bin Nuh

Beliau adalah seorang ulama karismatik yang berasal dari Cianjur. Dikenal sebagai pendiri Pesantren al-Ghozali, Bogor yang masih berdiri megah hingga kini. K. H. Abdullah bin Nuh merupakan ulama Jawa Barat yang terkenal atas produktifitasnya dan memiliki visi pendidikan Islam yang tinggi.

Tidak sekedar berkarya di bidang pendidikan, beliau juga pernah menjadi seorang serdadu militer, tepatnya di jaman penjajahan Jepang dengan menjadi seorang prajurit PETA. Dan saat terjadi konflik, beliau turut serta memberontak dan ikut hijrah ke Yogakarta guna menghindari penangkapan.

Beberapa prestasi beliau yang patut diteladani antara lain turut mendirikan kampus Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Menulis banyak buku, salah satunya buku Kamus Arab-Indonesia bersama Oemar Bakri. Serta berbagai buku terjemahan kitab klasik maupun buku sejarah Islam di Indonesia.

2K. H. Sholeh Iskandar

Beliau merupakan tokoh ulama Jawa Barat yang pernah memimpin perjuangan gerilya di Jawa Barat. Tepatnya menjadi komandan Batalyon Hizbullah untuk wilayah Jasinga dan Leuwiliang. Pangkat terakhir beliau adalah Mayor dan terkenal sebagai ahli strategi perang gerilya di wilayah Jawa Barat.

K. H. Sholeh Iskandar pernah pula aktif di dunia politik bersama Natsir dan K. H. Noer Ali di Partai Masyumi dan pernah sama-sama dijebloskan di penjara karena menentang paham Nasakom pada era presiden Soekarno.

Sekeluarnya dari penjara, beliau kemudian lebih banyak terjun di bidang pendidikan dan sosial dengan mendirikan Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah di kawasan Cinangneng. Prestasi beliau yang lain yaitu mendirikan Universitas Ibnu Khaldun, Rumah Sakit Islam Bogor dan BPRS Amanah Umah.