Seni lukis memang selalu menarik untuk digali secara terus menerus. Sejak awal mula keberadaannya hingga saat ini dengan variasi media yang begitu beragam memang layak untuk dikupas satu per satu. Mulai dari lukisan yang menggunakan media kanvas, pasir, tubuh manusia, hingga tubuh binatang.

Pada kesempatan kali ini, kamu akan kami ajak untuk mengupas tentang seni melukis dengan media kulit atau tubuh manusia yang kerap disebut juga dengan body painting. Saat ini seni lukis body painting memang sedang digandrungi kaum muda.

Berbeda halnya dengan tato, body painting lebih bersifat sementara. Cat yang diaplikasikan ke tubuh manusianya hanya dapat bertahan selama beberapa jam saja atau paling lama beberapa minggu.

Sedangkan untuk bagian tubuh yang dilukis tidak hanya sebatas yang biasa terlihat saja. Namun hampir seluruh bagian tubuh dapat menjadi media lukisnya. Sebagaimana kanvas yang setiap sudutnya dapat digunakan untuk menumpahkan segala ekspresi sang pelukis.

Salah satu pelukis ternama body painting Indonesia bernama Polenk Rediasa pernah membagikan tipsnya dalam proses kerja melukis di atas tubuh manusia. Dia berujar, sebelum dirinya melukis tubuh seorang model. Terlebih dahulu model tersebut difoto dari berbagai sisi.

Dirinya memberi kesempatan kepada modelnya untuk difoto dalam beragam pose dan gestur sesuai pilihan atau keinginan sang model. Cara ini memungkinkan sang model untuk mengelola tubuhnya sendiri sebagai objek kerja pelukisan dan juga memberikan rasa nyaman baginya.

Selesai dari sesi pemotretan, Rediasa akan mencetak hasil fotonya dan diamatinya satu persatu. Dia kemudian menyeleksi foto-foto tersebut untuk menentukan sejumlah foto yang akan dipindahkannya ke media seni lukis.

Foto-foto yang terpilih kemudian direkomposisi dan dikoreksi warnanya menggunakan photoshop di komputernya. Kemudian hasil desain tersebut dicetaknya untuk acuan dalam body painting-nya nanti.

Proses kerja ini memungkinkannya melakukan evaluasi terhadap berbagai kemungkinan hasil akhir komposisi seni lukis di atas tubuh manusia. Cara ini pula  yang dilakukannya untuk menjadikan dirinya eksis sebagai subjek pelukis.

Sedangkan tubuh sang model dapat diatur sebagaimana desain dalam komputer dimana dirinya dapat mengatur dan menentukan komposisi warna. Proses ini disebut juga dengan proses studi dalam konteks seni untuk mengukur ketercapaian prestasinya dalam melukis tubuh.