Tak disangkal lagi kalau Indonesia sangat kaya akan berbagai keindahan alamnya. Dari Sabang sampai Merauke bukan hanya berjajar pulau-pulau saja, tapi berjajar keajaiban alam yang sangat memukau mata dunia.

Rasanya pasti ingin mengunjungi semua tempat indah surga nan alami itu. Eits, tapi tunggu dulu, sebelum kamu mengetahui informasi dengan jelas tentang tempat tujuan kamu berwisata, kamu harus menahan diri dulu.

Para pemerhati lingkungan dan pecinta keindahan alam beberapa waktu belakangan ini tengah hangat membahas tentang berbagai lokasi cagar alam yang bertransformasi menjadi tempat wisata ilegal.

Jangan sampai kamu menyesal karena telah memasuki daerah cagar alam yang sangat dilindungi, tanpa izin dari pihak yang berwenang, sekedar berwisata dan ber-selfie ria untuk dipamerkan di sosial media.

Lalu biasanya dari sosial media itu menyebar lagi secara viral, dan mengundang minat banyak orang untuk berwisata di daerah cagar alam tersebut. Nggak mau kan jadi sumber kesalahan itu?

1Pulau Sempu

bbksdajatim.blogspot.com

Kira-kira seperti itulah yang terjadi pada salah satu cagar alam yang ada di Kabupaten Malang, yakni Pulau Sempu. Semenjak sosial media mulai marak, Pulau Sempu pada tahun 2009 mulai dikunjungi banyak orang seolah-olah sebagai destinasi wisata.

Dapat dimaklumi saat itu, karena minimnya informasi, juga petugas setempat yang terlalu permisif dengan pengunjung Pulau Sempu. Apalagi keindahan alam di Pulau Sempu memang bukan hanya pepesan kosong.

Laguna Segara Anakan yang menjadi tempat paling favorit orang-orang yang pernah mengunjungi. Ada juga berbagai pantai dan telaga. Bagi yang hoby trekking, petualangan di Pulau Sempu tentu akan memuaskan.

Loh, kok jadi promosi? Bukan promosi, tapi memang walaupun sebagai cagar alam, potensi wisata di Pulau Sempu memang cukup besar. Inilah yang membuat pemerintah daerah dilematis, menghitung untung ruginya antara cagar alam dan destinasi wisata.

2Cagar Alam

bantarse.mywapblog.com

Apa benar cagar alam tidak boleh jadi tempat wisata? Coba kamu buka Pasal 24 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Intinya dalam pasal itu menyatakan bahwa pemanfaatan kawasan hutan dapat dilakukan pada semua kawasan hutan kecuali pada hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional.

Artinya cagar alam bukan diperuntukkan untuk tempat wisata dan terlarang dikunjungi kecuali untuk penelitian, pendidikan, konservasi alam dan kepentingan lain. Itupun tetap harus mengantongi izin SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).

3Pulau Sempu di Zaman Belanda

travellers.web.id

Kembali ke Pulau Sempu, pulau ini sudah menjadi hutan cagar alam dari sebelum adanya peraturan undang-undang, bahkan sebelum adanya republik ini.

Ya, penetapan cagar alam Pulau Sempu mengikuti warisan peraturan zaman koloni Belanda, yang tetap sah dan berlaku sampai sekarang.

Tertulis dalam Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha.

4Para Perusak Pualu Sempu

dedyompu.wordpress.com

Ironis memang, ketika saat ini banyak orang yang tidak sadar dengan hukum, dan lebih mementingkan dengan kepuasan pribadi.

Masih mending jika para pengunjung ini tetap menjaga kelestarian alam pulau Sempu, yang terjadi adalah sampah dimana-mana, asap dan sisa pembakaran juga banyak ditemukan di sana.

Padahal penetapan sebagai hutan cagar alam ini bukan tanpa alasan, ada banyak fauna dan flora yang dilindungi di Pulau Sempu. Akan sangat riskan bagi keberlangsungan makhluk hidup di sana jika terlalu sering dijamah oleh manusia.

5Flora dan Fauna di Pulau Sempu

kompasiana.com

Seharusnya di Pulau Sempu masih banyak terdapat satwa liar seperti lutung jawa, kera hitam, kera abu-abu, babi hutan, kijang, dan kancil. Juga hewan air seperti raja udang, ikan belodok, kepiting, dan kelomang.

Menurut penuturan para pengunjung, keberadaan satwa-satwa liar itu semakin sulit ditemukan. Semoga bukan karena populasinya berkurang, tapi karena menyingkir dari kehidupan manusia.

Ragam flora dalam hutan juga tak kalah banyaknya, mulai dari hutan pantai, hutan manggrove, sampai dengan hutan tropis. Tentunya semua menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaganya.

6Pengelola Pulau Sempu

laksmiandina.wordpress.com

Saran kita buat kamu yang ingin ke pulau Sempu, sebaiknya untuk mengurungkan niat tersebut untuk sementara ini. Sampai ada kejelasan dari pihak pengelola, yakni adalah Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa timur.

Sampai dengan saat ini, pengelola tidak tegas dan terkesan setengah-setengah dalam bersikap. Di satu sisi mereka ingin konsisten dengan peraturan, tapi disisi lain pada kenyataan lapangan, mereka permisif dan membiarkan wisatawan.

Bahkan yang tidak mengenakkan, adanya pungutan liar dari petugas lapangan yang seperti menarik ‘tiket’ untuk masuk ke kewasan Pulau Sempu.

Jikalau kedepannya tetap menjadi cagar alam, maka petugas harus benar-benar tegas untuk tidak memberikan izin sembarangan terhadap pengunjung yang tidak memiliki kepentingan.

Namun, apabila Pulau Sempu bertransformasi statusnya menjadi taman wisata, itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Asalkan pengelolaannya dilakukan dengan profesional, sehingga para pengunjung dapat dikontrol agar tak mengganggu kelestarian alam di sana.