Ramadhan dan Pesan dari Bapak

Posted on

Oleh : Muhammad Imam Nawawi Syujai (Ketua Nurani FKM UI 16)

Saat dulu saya masih di sekolah dasar, Ramadhan menjadi bulan yang sangat berbeda rasanya. Bagi seorang anak yang berumur sembilan tahun Ramadhan berarti adalah saat untuk berperang melawan rasa lapar dan haus, bertahan agar tiba-tiba tidak jajan ke warung dan tiba-tiba cemilan yang dibeli habis lalu tiba-tiba meminum air dari galon. Saat berumur dua puluh tahun, saya perlahan merasakan bahwa Ramadhan tidak hanya menahan lapar dan haus, karena kenyataannya lapar dan haus bukan lagi menjadi godaan.

Tantangan Ramadhan di tiap umur memang berbeda, namun sejatinya memiliki esensi yang sama. Bapak saya kala itu berkata, “Ramadhan itu,” pesannya, “bulannya untuk menaikan iman.” Sebuah analogi pun disampaikan, analogi yang menarik dan menggambarkan bulan Ramadhan, analogi tentang puasanya ulat dibandingkan puasanya ular.

Ulat berpuasa saat dia menjadi kepompong,” saya dengan hikmat mendengarkan. Bagi anak berumur sembilan tahun apa yang beliau sampaikan cukup menarik perhatian saya. Bapak melanjutkan ceritanya “Banyak orang yang tidak menyukai ulat karena jijik dengan bentuknya”. Ulat pun memiliki perangai yang rakus. Beberapa hari kemudian, setelah puasanya ulat berubah menjadi kupu-kupu. Sebuah kondisi yang jauh berbeda.

Setelah itu Bapak melanjutkan bercerita mengenai puasanya ular, “Saat berganti kulit,” lembutnya, “Ular juga berpuasa selama proses pergantian kulitnya.” Lantas kita bisa melihat pada puasanya ular, hasil dari puasanya hanya berdampak pada pergantian kulit saja, namun ular tetaplah ular dengan segala sifat yang ia bawa sebelumnya.

Terus kamu mau puasa yang kaya gimana?” pertanyaan ini dahulu tidak begitu keras terpikirkan untuk saya jawab, ya pasti saya jawab puasanya ulat. Hanya saja, sekarang rasanya pertanyaan itu menjadi hal yang cukup menguras pikiran untuk dijawab karena di tiap tahunnya, setelah Ramadhan berlalu, perubahan apa yang saya dapatkan?

Ramadhan adalah madrasah bagi orang yang beriman untuk meningkatkan ketakwaan. Hingga akhirnya nanti hanya ada dua pilihan kondisi setelah Ramadhan: Lulus sebagai orang yang lebih bertakwa atau menyesal karena tidak mendapatkan perubahan apa-apa. Mungkin juga ada pilihan kondisi akhir ketiga, terlalu acuh karena yakin akan bertemu Ramadhan di tahun selanjutnya.

Tidak, kawan. Tidak pernah ada jaminan kita akan bertemu Ramadhan di tahun depan. Ramadhan tahun ini ada tiga orang yang pulang,

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang kerabat pamit pulang ke kampung halaman. Mungkin akan sulit menemuinya lagi karena tugasnya di kampus untuk belajar telah selesai, saatnya dia pulang.

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang kawan yang biasanya masih hilir terlihat sibuk menuntaskan amanah, kini terlihat tak ada. Rumah dekat namun biasanya tak bisa pulang karena kesibukan. Saat ini adalah kesempatan untuk lama berhangat bersama keluarga, saatnya dia pulang.

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang sahabat pulang. Pulang, dijemput ajal. Masanya di dunia telah selesai, saatnya dia pulang.

Dalam putaran waktu yang bisa kita hitung, hari kemenangan itu akan tiba. Kemudian logika bermain dengan iman, “Akankah sampai?” Waktu pasti sampai, namun yang jadi pertanyaan apakah kita tetap nyata dalam putaran masa atau hilang ditelan bumi karena waktunya tiba?

Terlalu jauh jika kita menanyakan akankah bertemu Ramadhan tahun depan, karena sampai detik ini pun tak ada jaminan kita sampai di akhir bulan.Karena sampai detik ini pun tak ada jaminan kita masih berpuasa esok hari. Bahkan sampai detik ini tidak ada jaminan kita masih bisa berbuka sore nanti. Ajal adalah misteri, dan manusia menjadi objek utama dalam putaran misterinya.

Jika kita sadar, banyak yang ternyata telah mendahului, satu per satu hingga nanti tiba pada giliran diri, siapkah?

Terima kasih, Bapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *