Allah menciptakan alam semesta agar bermanfaat untuk kemaslahatan manusia. Sayangnya semakin sulit di jumpai orang yang bersyukur dengan semua pemberian Allah.

Mereka selalu mengutuki atas apa yang tidak dimilikinya. Mereka juga mencerca pemberian yang menurut mereka sama sekali tidak bermanfaat. Sebagai contoh sampah.

Sampah menjadi masalah pada kebanyakan orang. Sampah mencemari lingkungan, udara, dan terkenal sebagai sumber penyakit.

Jika kita jeli melihat sebuah peluang, sampah dapat memberikan berkah tersendiri. Beberapa orang justru meraup keuntungan dan mendapatkan kekayaan dari barang-barang yang dianggap sampah oleh sebagian besar orang.

Profesi mengais berkah dari sampah adalah penampung sampah dari pemulung-pemulung. Salah satu profil orang sukses dengan profesi ini adalah Suwaji atau kerap di sapa mas Puji.

Ia adalah juragan sampah di daerah tempat pembuangan akhir Bantar Gebang, Bekasi. Ia dapat meraih omzet hingga 100 juta per bulan dari bisnis sampah. Sangat jauh bukan dengan gaji PNS sekalipun.

Kesuksesan tak diraihnya begitu saja. Ia pernah menjadi pemulung dengan penghasilan Rp 2.500 selama satu pekan. Penderitaan hidup tak menghentikan langkahnya meraih kesuksesan.

Ia kemudian berjuang keras bersama istrinya Sulastri mengais rezeki dari gunungan sampah yang sangat menjijikan. Mereka mengumpulkan penghasilan untuk membeli barang-barang sejenis dari teman-teman sesama pemulung.

Bagaimana jika sampah tersebut adalah ranting yang jatuh di jalanan?

Apa yang ada di dalam benak orang-orang saat menemukan ranting yang jatuh di jalanan? Kebanyakan dari mereka pasti mengumpat dalam hati karena ranting pohon tersebut menghalangi jalan.

Namun tidak demikian dengan Sebastian Errazuris. Ia adalah seorang seniman yang berdarah dingin.

Ketika ia menemukan potongan ranting yang jatuh di jalanan Kota Santiago, insting seni menuntunnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Ia menyulap potongan ranting tersebut menjadi rak yang indah. Rak ini justru memiliki keistimewaan tersendiri. Berikut ini keistimewaan rak yang dibuat Sebastian Errazuris.

1Bentuk Rak Natural

cdn.architecturendesign.net

Errazuris tidak banyak mengubah bentuk ranting sebagai bahan dasar untuk membuat rak. Bentuk rak ia biarkan natural seperti apa adanya ketika ia menemukannya.

Ia menyesuaikan kebutuhan rak buku dengan bentuk kelokan ranting. Kemudian ia mengamplas pada bagian pinggir-pinggir yang kasar. Ia juga memberikan sentuhan pernis agar rak terlihat lebih mengkilap, lembut, dan elegan.

cdn.architecturendesign.net
cdn.architecturendesign.net

Agar rak ini dapat digunakan untuk meletakkan buku atau barang-barang lain, ia meletakkan semacam kaca transparan. Errazuis kemudian menamakan rak ini Bilbao.

2Tidak Terlalu Memakan Biaya

cdn.architecturendesign.net

Sebuah rak yang elegan biasanya memerlukan banyak biaya untuk membuatnya. Selain kayu yang biasanya digunakan sebagai bahan utama memiliki harga yang mahal, detail desain juga memerlukan biaya tersendiri.

cdn.architecturendesign.net
cdn.architecturendesign.net

Bilbao adalah inovasi rak yang elegan namun hanya membutuhkan biaya yang murah meriah.

3Dapat Menjadi Meja yang Unik

cdn.architecturendesign.net

Selain bilbao, Errazuis juga dapat menyulap ranting pohon ini menjadi meja. Konsepnya hampir sama dengan bilbao. Errazuis meletakkan kaca transparan di atas ranting pohon.

Ranting pohon kemudian berfungsi sebagai kaki meja yang unik dan elegan. Tentu saja ranting pohon yang dipilih adalah ranting yang kuat, sehingga dapat menahan beban berat di atasnya.

cdn.architecturendesign.net
cdn.architecturendesign.net

Apapun yang diberikan Allah sejatinya tak ada yang sia-sia. Mulai saat ini selain berprasangka baik terhadap pemberian Allah, kita juga harus berpikir kreatif.

Berpikirlah out of the box pada sampah-sampah di sekitarmu seperti kain perca, botol plastik bekas, dan lain-lain. Siapa tau barang-barang tersebut dapat menjadi lahan bisnis yang unik.

SHARE