Jika kalian lewat di jalan milik Negara yang kebetulan merupakan arah dari Jawa Timur menuju Jawa Tengah atau sebaliknya, pasti melewati hutan jati bernama Banaran yang terletak di Desa Kedunggalar, Kabupaten Ngawi.

Di antara hutan jati yang lebat dan panjang serta jalan yang lumayan berkelok-kelok, ada sebuah taman dengan monumen atau tugu peringatan seorang bangsawan dengan pakaian jawa serta dua polisi berdiri di belakangnya.

Patung itu amat megah dan besar, sang Bangsawan yang berdiri di depan dua polisi itu menunjuk sebuah tempat dengan telunjuk tangan kanannya. Siapa kah dia?

Banyak yang mengetahui bahwa monumen itu bernama Monumen Soerjo dan bangsawan di patung tersebut adalah RM Ario Soerjo, namun sudah banyak pulakah yang tahu siapa dia dan bagaimana sepak terjangnya sebagai Pahlawan Nasional?

Ario Soerjo dan Kiprahnya di Magetan

magetan
oliviarahman.blogspot.com

Lahir dengan nama Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, kemudian dia lebih terkenal dengan nama Soerjo saja. Soerjo yang masih memiliki darah biru dalam dirinya juga adalah menantu dari Raden Mas Arja Hadiwinoto.

Magetan adalah kota tempat kelahirannya, tepatnya pada tanggal 9 Juli 1898. Besar dan terdidik dengan baik di kalangan para bangsawan, Soerjo kemudian diangkat sebagai Bupati Magetan pada tahun 1938 sampai tahun 1943.

Setelah meninggal dibunuh di Kedunggalar Ngawi, Soerjo pun diambil warga Magetan untuk diminta dimakamkan di tanah kelahirannya, tepatnya di makam Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan.

Ario Soerjo dan Kiprahnya untuk Jawa Timur dan Indonesia

echotuts web id
echotuts.web.id

Selesai menjabat dengan sukses sebagai Bupati Magetan di tahun 1943, Soerjo kemudian diangkat sebagai Su Cho Kan, yaitu seperti Kepala Residen di wilayah Bojonegoro. Selama dua tahun dia menjalani jabatan tersebut.

Hingga kemudian saat Indonesia telah merdeka pada tahun 1945, Presiden Soekarno memberikan mandat padanya untuk menjaga wilayah Jawa Timur sebagai Gubernur pertama di Provinsi tersebut.

Baru sebentar menjabat sebagai Gubernur, Soerjo mendapat ujian dengan guncangan dari Inggris lewat Mallaby. Sebenarnya antara Soerjo dan Mallaby telah melakukan perjanjian gencatan senjata pada tanggal 26 Oktober 1945, namun tak semua warga mengetahui hal tersebut.

Sehingga terutama warga Surabaya yang kemudian terkenal sebagai Arek-arek Soerabaja terlibat bentrok dengan tentara Inggris karena kematian Mallaby yang menyulut amarah tentara Inggris.

Sebenarnya pada tanggal 28-30 Oktober 1945 telah terjadi perang tiga hari di Surabaya yang membuat tentara Inggris akhirnya terdesak. Namun akibat Mallaby tewas, sehingga perjanjian gencatan senjata diingkari oleh pihak Inggris.

Puncaknya pada tanggal 9 November 1945, Inggris mengultimatum warga Pribumi untuk menyerahkan semua senjata untuk dimusnahkan dan semua pergi meninggalkan wilayah Surabaya. Melihat hal tersebut, Presiden Soekarno menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Gubernur Soerjo.

Dengan tegas lewat RRI, Gubernur Soerjo memberikan pidato bahwa Arek-arek Soerabaja tak akan menyerah kepada Inggris dan akan melawan Inggris sampai titik darah penghabisan. Hal tersebut diamini oleh pidato legendaris Bung Tomo pula.

Akhirnya meletuslah perang 10 November 1945 di Surabaya, dan Gubernur Soerjo serta Bung Tomo termasuk orang-orang terakhir yang tetap bertahan di Surabaya kala itu.

Akhir Hidup Memilukan Sosok Ario Soerjo

nuriypantura blogspot com
nuriypantura.blogspot.com

Pada tahun 1948 saat di Madiun dan beberapa daerah sekitarnya meletus pemberontakan PKI yang pertama, Gubernur Soerjo melakukan perjalanan melewati Desa Bago Kedunggalar Kabupaten Ngawi, dari arah Yogyakarta menuju Surabaya.

Kala itu Gubernur Soerjo juga telah merangkap sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung sejak tahun 1947.

Di tengah perjalanan itu Gubernur Soerjo yang menaiki mobil kemudian dicegat dan ditangkap oleh orang tak dikenal kemudian diseret ke tengah hutan Peleng dalam keadaan telah ditelanjangi.

Bersamaan dengan itu, dari arah Surabaya menuju Yogyakarta, dua orang polisi yang adalah Kombes Pol M Doerjat dan Kompol Soeroko turut melintas dan ikut dicegat serta ditangkap oleh gerombolan yang sama.

Di hutan tersebut mereka bertiga dibunuh dengan sadis dan mayatnya dibiarkan begitu saja. Empat hari kemudian, ketiga mayat tersebut baru ditemukan oleh pencari kayu bakar. Kesedihan apa yang kemudian dirasakan bangsa Indonesia saat pahlawan ini direnggut nyawanya?

Untuk mengenang jasa-jasanya semasa hidup yang berjuang demi Indonesia, dibuatlah monumen di dekat tempat dia dibunuh yang kemudian dinamakan Monumen Soerjo, tepatnya di Desa Bago, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi.