Rumah Sakit Sumber Waras mendakak tenar. Bukan karena keberhasilannya dalam menurunkan angka penyakit

di Ibu Kota Jakarta. Namun lebih ke kontroversi. Kontroversi yang melibatkan orang nomor satu di DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pusarannya.

Niat Ahok dalam hal ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menginginkan pembelian RS Sumber Waras berujung polemik.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan beberapa catatan dalam proses pembelian tersebut. Hingga kini, RS Sumber Waras tak kunjung mendapatkan kepastian. Lalu seperti apa sebenarnya perjalanan RS Sumber Waras dari masa ke masa ?

Berdiri Tahun 1962

bataranews.com
bataranews.com

RS Sumber Waras didirikan oleh Yayasan Kesehatan Tjandra Naya pada tanggal 17 Agustus 1962, dan pada tanggal 12 Mei 1966 Yayasan Tjandra Naya diubah namanya menjadi Yayasan Kesehatan Sumber Waras.

Pada awal mulanya Yayasan Kesehatan Tjandra Naya yang dibentuk oleh Perkumpulan Sosial “Sin Ming Hui” membangun Balai Pengobatan pertama kali pada tahun 1956 yang merupakan cikal bakal RS Sumber Waras.Lalu Yayasan Sin Ming Hui berganti nama menjadi Perhimpunan Sosial Candra Naya (PSCN).

Menjadi Rumah Sakit Umum

www.aktual.com
www.aktual.com

Pada tahun 1968 RS Sumber Waras telah ditunjuk sebagai Rumah Sakit Umum Pusat Wilayah Jakarta Barat oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Tugas Rumah Sakit Sumber Waras adalah melaksanakan upaya secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu.

Upayanya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan Rumah Sakit Sumber Waras juga menyelenggarakan Pendidikan Keperawatan Tingkat Akademi sejak tahun 1998 yang merupakan konversi dari Sekolah Perawat Kesehatan.

Dan juga merupakan Rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara sejak tahun 1970 hingga sekarang.

Masalah Sejak Lama

beritagar.id
beritagar.id

Saat itu, PSCN dan Yayasan Kesehatan Sumber Waras (YKSW), diketuai oleh satu orang yang sama, yaitu Patmo Sumasto.

Seperti dikutip dari Indo Pos, ketika peralihan orde lama ke orde baru, Patmo Sumasto menghibahkan lahan seluas 3,2 hektar yang menjadi hak PSCN ke YKSW.

Namun, sayangnya, proses hibah tersebut tanpa persutujuan dari rapat umum anggota yayasan. Status hibah tersebut terkuak pada rapat umum yayasan di tahun 1999. Setelah rapat umum itu, Patmo Sumasto mengundurkan diri.

Mulai Kontroversi Hangat

www.aktual.com
www.aktual.com

Kontroversi soal RS Sumber Waras yang melibatkan Ahok bermula pada tahun 2014. Saat itu Pemprov DKI mulai melakukan proses pembelian RS Sumber Waras untuk dijadikan Rumah Sakit Khusus Kanker.

Seperti dilansir CNNIndonesia.com, BPK pada tahun 2014 menemukan kejanggalan terutama dalam Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Saat itu Pemprov membeli lahan senilai Rp 755.689.550.000 berdasarkan NJOP Rp20.755.000 per meter persegi. Nilai itu sesuai dengan yang tertera di dokumen pajak bumi dan bangunan (PBB) untuk lahan di jalan Kyai Tapa.

Namun BPK menilai seharusnya NJOP yang digunakan adalah NJOP Jalan Tomang Utara yang juga berhadapan langsung dengan RS Sumber Waras. Nilai NJOP di Jalan Tomang Utara lebih tinggi yakni senilai Rp7 juta.

Artinya dengan luas yang sama seharusnya pembelian yang dilakukan mencapai Rp904 miliar.

Dimana Alamat Sebenarnya?

www.sayangi.com
www.sayangi.com

Menurut situs resmi RS Sumber Waras, rumah sakit tersebut mengambil alamat Jl. Kyai Tapa, No. 1 Rt. 10 Rw 10 kelurahan Tomang kecamatan Grogol Petamburan Wilayah Kotamadya Jakarta Barat.

Rumah sakit memiliki batas tanah sebelah utara yakni Jl. Kyai Tapa, sebelah Barat dengan pertokoan dan rumah penduduk, sebelah selatan dengan perumahan penduduk Rw. 10 Kelurahan Tomang, sebelah timur dengan perumahan penduduk Rw.10 Kelurahan Tomang.

Karena berbatasan dengan Jalan Tomang Utara, Rumah Sakit ini juga menghadap ke Jalan Tomang Utara yang NJOPnya lebih besar.

Punya Sertifikat Ganda

www.teropongsenayan.com
www.teropongsenayan.com

Lazimnya bangunan yang berdiri di atas lahan tentu memiliki sertifikat. Begitu juga dengan RS Sumber Waras.

Namun anehnya sertifikat atas nama RS Sumber Waras dimiliki oleh dua pihak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan, DKI Jakarta Kusmedi yang dinukil dari Detik.com, Selasa (11/8/2015).

“Pemiliknya sama, (sertifikat) atas nama RS Sumber Waras sama Bu Kartining Mulyono yang punya Tempo Scan (kepemilikan pribadi),” kata Kusmedi.

Kusmedi mengakui, karena ketidaktahuan mereka, urusan jual beli tanah ini menjadi rumit.“Mungkin kalau tahu dari awal semuanya, mungkin kejadiannya nggak gini,” kata Kusmedi.

SHARE