Salah satu rukun islam yang harus kita jalankan adalah ibadah puasa di bulan Ramadhan. Di dalamnya terdapat rukun dan syarat-syarat puasa.

Kali ini kita akan berbicara tentanng rukun puasa ramadhan. Sebelumnya kita perlu memahami terlebih dahaulu apa rukun itu?

Rukun menurut jumhur ulama fiqh adalah sesuatu yang bergantung pada sesuatu yang lain atasnya. Dengan kata lain, rukun adalah hal-hal pokok yang harus dipenuhi.

Bedanya dengan syarat puasa yakni jika syarat adalah suatu ketentuan yang tidak boleh dilanggar.

Rukun puasa Ramadhan ada dua yaitu yang pertama niat puasa, yang kedua menahan diri dari perkara yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Niat. Kita tahu bahwa niat sangat menentukan tiap amalan. Bahkan para ulama sering meletakkan niat di bab pertama kitab-kitab yang mereka tulis agar meberikan perhatian pada umat bahwa niat merupakan langkah pertama dalam menyempurnakan ibadah dan amalan.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap amalam bergantung dengan niat.” (Al-Bukhari dan Muslim)

Untuk niat puasa Ramadhan hendaknya dilakukan pada waktu malam hari yakni sebelum terbit fajar. Jika tidak berniat untuk melakukan puasa keculai setelah terbit fajar maka batalah puasanya.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.” (Ad-Daruqutni (2/172), kata beliau para perawinya adalah Tsiqah; Al-Baihaqi (4/202)

Yang kedua menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa. Beberapa perkara yang membatalkan puasa antara lain makan dan minum disengaja, muntah disengaja, bersetubuh dengan sengaja meskipun tanpa keluar air mani, dan lain-lain.

Jelaslah bahwa puasa akan batal jika ia makan dan minum yang dilakukan dengan sengaja meskipun makan atau minum itu sedikit.

Akan tetapi jika lupa bahwa ia sedang puasa lalu ia makan atau minum maka puasanya tidak batal.

Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesiapa yang terlupa bahwa dia sedang berpuasa lalu ia makan ataupun minum hendaklah dia menyempurnakan puasanya, sesusngguhnya Allah lah yang telah memberinya makan dan minum.” [Muslim (1155) dan Al-Bukhari (1831)].

Memang seorang muslim yang tengah menjalankan puasa harus memiliki kemauan besar untuk meninggalkan segala larangan puasa dan menjalankan sunah-sunah berpuasa.