Seberapa Pantaskah Gelar “Muttaqiin” untuk Kita?

Posted on

Oleh : Muhammad Fahmi Rasyad (Staff Biro PSDM Salam UI 19)

Bismillaahirrahmanirrahiim

Seperti yang kita ketahui, bulan Ramadhan telah memasuki fase sepuluh hari terakhirnya. Fase dimana Allah SWT menurunkan satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Sepuluh hari yang akan menjadi penentuan bagi kita, seorang muslim apakah kita berhasil merebut sebuah gelar yang jika tersemat dalam diri kita tentunya balasan surga dari-Nya InsyaAllah akan kita dapatkan. Ya, sebuah gelar yang telah Allah SWT tujukan bagi orang-orang yang berhasil melewati serangkaian tahapan tarbiyah (pendidikan) yang Dia berikan secara langsung melalui salah satu bulan haram (mulia)Nya ini. Gelar itu bernama Muttaqiin yang artinya orang-orang yang bertaqwa. Sebagaimana firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertaqwa” (Q.S.Al-Baqarah : 183).

Tapi ada pertanyaan yang muncul bertubi-tubi dalam fikiran kita seolah-olah berebut untuk mendapatkan jawaban dari kita. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah “sudah sejauh mana kita memaknai hakikat ibadah puasa (shaum) ini ?”, “Sudah seberapa besar usaha kita mewarnai bulan Ramadhan ini dengan amalan-amalan kebajikan yang lain ?”, “Lebih banyak manakah waktu kita terpakai, untuk beramal baikkah atau justru lalai dalam urusan duniawi atau bahkan dengan hal-hal tidak bermanfaat yang dapat mengurangi kesempurnaan ibadah shaum kita ?”. Dan pada akhirnya semua pertanyaan itu bermuara pada satu pertanyaan yang semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sebelunmnya tertuju padanya. Yaitu “Seberapa pantaskah gelar muttaqiin untuk diri kita ?”. Sebuah pertanyaan yang tentunya harus kita renungkan dan hayati selagi masih ada kesempatan hingga beberapa hari kedepan. Definisi Muttaqiin itu sendiri menurut istilah adalah orang-orang yang senantiasa berusaha mengamalkan ketaatan kepada Allah SWT disertai dengan mengharapkan ampunan dari-Nya serta berusaha meninggalkan maksiat karena takut terhadap azab dan siksa-Nya.

Lalu, apa korelasi ibadah shaum dengan gelar ketaqwaan ?. Dalam menjalankan ibadah shaum, kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu dan mengalahkan syahwat kita mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dari definisi shaum itu sendiri kita sudah dapat mengetahui korelasinya dengan beberapa alasan. Yang pertama, orang yang berpuasa berusaha menjauhkan diri dari segala aktivitas yang dapat membatalkan puasa (makan, minum, dsb) padahal setiap manusia memiliki kecenderungan untuk itu semua dan mereka bisa saja melakukannya meskipun tidak ada yang melihatnya. Tapi mereka yakin bahwa Allah SWT sedang mengawasinya sehingga mereka rela menahannya hingga batas waktu yang telah ditentukan semata-mata karena taat kepada perintah dari Allah SWT serta mengharapkan ampunan, kasih sayang dan pahala dari-Nya. Yang kedua, orang yang berpuasa cenderung memperbanyak ketaatan terhadap Allah SWT melalui amalan-amalan kebajikan yang lain . Dan itu merupakan tabiat orang yang bertaqwa. Yang ketiga, orang yang berpuasa akan meningkat rasa kepedulian terhadap saudaranya yang kekurangan dan berusaha untuk menolongnya, itupun termasuk tabiat orang yang bertaqwa.

Dari penjelasan diatas, telah jelas bahwa dengan berpuasa sebenarnya kita sedang dilatih oleh Allah SWT untuk menjadi orang yang bertaqwa karena ibadah shaum itu sendiri merupakan sarana menuju ketaqwaan. Adapun usaha untuk merealisasikan itu semua pada hakikatnya hanya diri kita sendirilah yang mengetahuinya selama masih dalam kaidah keimanan dan ketaatan kita terhadapNya, dan biarlah Allah SWT yang menilai seberapa pantas gelar itu untuk diri kita.

Pada bagian akhir ini, biarlah serangkaian kalimat indah ini menjadi penutup sekaligus menjadi bahan muhasabah diri kita untuk lebih bersemangat memaknai rRmadhan di hari-hari yang tersisa ini, sebagai berikut :

Ramadhan, memang terkesan begitu cepatnya berlalu. Seiring berjalannya waktu yang sangat cepat berganti hari demi hari. Tapi rasanya, belum ada ibadah yang maksimal telah dilakukan. Belum ada juga amal istimewa yang dikerjakan oleh diri ini. Tilawah, qiyamul lail, infaq, bahkan shaum itu sendiri yang masih jauh dari kata sempurna. Semua masih biasa saja, sedangkan Ramadhan hampir-hampir berakhir. ”Ramadhan, waktumu begitu cepat. Janganlah engkau pergi secepat ini. Sebab kami belum melakukan ibadah dengan  baik. Janganlah engkau berakhir dengan begitu cepatnya. Tunggulah kami, tunggulah kami. Kami masih ingin berlama-lama dengan engkau.”

Kalimat itulah yang mungkin muncul didalam benak diri kita masing-masing. Kemudian Ramadhan menjawab “Demi zat yang menguasai seluruh alam, tiada pernah dalam benakku ingin meninggalkan kalian. Sesungguhnya aku ini berjalan normal, sebagaimana sebelas bulan lainnya sebelum diriku. Tidak cepat, tidak lambat. Bukan, bukan karena aku yang berjalan terlalu cepat sehingga kamu belum memaksimalkan ibadah. Tapi karena dirimulah yang terlalu LALAI, wahai manusia.”

Karena itu teman-teman semua, mari kita renungkan apa-apa saja yang telah kita lakukan selama berada di dalam bulan penuh ampunan, kasih sayang dan pahala yang berlipatganda ini. Mari kita maknai hari-hari yang tersisa ini sebaik mungkin sebagaimana tujuan Allah SWT memerintahkan kita berpuasa dibulan ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal dibelakang dan menyalahkan waktu yang berlalu begitu cepat. Jangan sampai kita menjadi orang yang angkuh, karena tidak memaknai Ramadhan tahun ini sebaik mungkin seolah-olah kita mendapatkan jaminan akan bertemu dengannya lagi ditahun-tahun berikutnya.

Saya mengajak teman-teman semua bukan berarti diri saya lebih baik dari kalian. Tetapi bagi saya, hal terindah adalah ketika aku, kamu dan kita mampu bermetamorfosa menjadi pribadi yang lebih baik lagi secara bersama-sama agar kelak kita bertemu kembali didalam surga-Nya.

Aamiin yaa rabb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *