Alhamdulillah, syukur kuucapkan di hari pertama ramadhan kali ini, setelah setahun menanti kedatangannya, kerinduan hati  itu rasanya sudah sampai di ujung ubun-ubun dan semangat  ini sudah hampir habis membakar diri.

Ramadhan hari pertama ini begitu syahdu, ditemani turunnya gerimis yang menyegarkan, para burung di pohon sebelah rumah berkicau dengan indahnya, angin semilir yang bikin mata lengket kayak perangko ditambah dengan senandung tilawah dari masjid sebelah, bikin hati terasa indah walau  di belakang ada segudang masalah.

Memang tak bisa kupungkiri, aku yang hanya seorang pesuruh dan penjaga di sebuah kantor yang gajinya pas-pasan, pas buat makan dan minum saja, tapi menikmati nuansa itu rasanya aku gak peduli status dan siapa saya.

Pagi itu tak terasa lelah kukayuh sepeda ku untuk pergi bekerja, dengan medan  jalanan yang naik turun, ditambah lagi dengan tidak sahur pada pagi harinya, sungguh tak terasa lelahnya, seolah-olah ramadhan memberi energi tubuhku yang kecil menjadi full bertenaga.

Ya, aku hanya seorang pesuruh di kantor, seorang yang bekerjanya membersihkan kantor, menjaga kantor dan menuruti apa saja perintah dari orang-orang kantor, tapi bukan berarti ramadhan yang indah ini hanya milik mereka saja yang kerjanya enak, hidupnya mewah dan semuanya melimpah.

Ramadhan juga milik seorang seperti saya yang hanya menikmati sahur sendiri, berbuka sendiri, hidup dibawah perintah, tekanan dan marahan orang. Akan aku ceritakan kenapa ramadhan yang indah dengan kebersamaan bukan milik mereka saja.

10 Hari Pertama Ramadhanku

5-alasan-menulis-surat-untuk-diri-sendiri-1024x683
elizafan.com

10 hari pertama ramadhanku memang tidak layaknya orang berbahagia dengan kebersamaannya, berbuka bersama, menikmati sahur bersama keluarga, jalan dengan teman-teman, mengumpulkan makanan yang enak dan lengkap, pergi ke masjid bersama dengan ceria, sungguh tidak seperti itu.

Walau aku bisa berpuasa layaknya mereka, tapi aku tidak menikmati sahur seperti mereka, aku tidak menikmati berbuka bersama keluarga, yang bisa aku nikmati paling banyak  hanya kesendirian dan kesepian di kantor tempat aku bekerja.

Tidak ada televisi dikantor, handphone waktu itu pun masih kuno banget, tidak ada teman di kantor, tidak ada satupun benda yang dapat berbunyi sendiri di tempat kerjaku, kalaupun ada itu hanya bunyi cicak yang mungkin sedang lapar, tokek dengan suara khasnya dan tikus-tikus yang berlarian kesana kemari berkejaran dengan temannya.

10 hari itu aku habiskan lebih banyak sendiri, merenungi nasib diri yang sejak dulu terkatung-katung ditinggal orang tua tidak jelas dimana, tidak ada bimbingan agama, tidak ada pelajaran dan pendidikan dari para saudaraku.

Tidak jelas dan tidak bisa merencanakan apa yang harus kulakukan untuk masa depanku, aku hanya bisa menulis di hari-hari itu, aku menulis harapan ku menjadi penghafal alquran, menjadi orang yang lebih berwibawa, berkecukupan, mempunyai istri sholehah, mempunyai sepeda motor, mempunyai rumah, ah rasanya semua kenikmatan dunia aku tulis disitu dan seperti punuk merindukan bulan, rasanya tidak mungkin dengan keadaan aku yang terlunta seperti ini.

Tapi bukan berarti itu tidak berguna, beberapa tulisanku ternyata mampu mengubah hidupku sampai sekarang ini, impian-impian itu, harapan-harapan itu dikabulkan oleh ALLAH, satu-persatu, sejengkal demi sejengkal, setahap-demi setahap muncul ada celah dan harapan mewujudkannya.

 10 hari ramadhan itu benar-benar membuat perubahan yang indah, ALLAH telah berikan rencana hebat pada diriku, walau kunikmati dengan kesepian, kesendirian dan ketidaknyamanan tapi justru dari itulah lahir dan terwujud satu-persatu impian dan harapanku, masyaALLAH, sungguh luar biasa.

10 Hari Kedua

268763_347000008715000_313311710_n
m-irsyad.blogspot.com

10 hari kedua ramadhanku jauh berbeda dengan ramadhan 10 hari pertama, di 10 hari ini benar-benar membuatku terperangah, takjub dan keheranan pada nikmat dan kesempatan yang diberikan oleh ALLAH.

Di 10 hari ini aku mendapat permintaan untuk mengisi mentoring kajian keislaman di salah satu sekolah ternama di kotaku, tak lain itu juga sekolahku dulu. Sungguh aku keheranan, ditambah lagi dari kulihat daftar nama pengisi mentoring kajian itu sebagian besar mereka lulusan sarjana, aktifis terkenal bahkan ada juga yang punya gelar doktor.

“Astaghfirullah, dalam hatiku, siapa saya ini? Aku hanya seorang pesuruh kantor yang hanya ikut kajian kesana-kemari, ikut acara sana-sini, ilmu belum teruji, bahkan mungkin hafalan surat pendek ku bisa dihitung dengan jari “

“Kenapa bisa pesuruh kantor seperti saya mengisi kajian keislaman? Ya Rabb, apa lagi yang Engkau tunjukkan padaku?”

 Tanganku bergetar, perasaanku tidak karuan, kakiku tidak terasa sama sekali. Rasanya saya tidak sanggup lagi berkata, bibir ini serasa terkunci rapat oleh gembok yang besar, gembok itu tidak hanya besar tapi juga hampir tidak ada kuncinya.

Tak bisa dibayangkan, aku dulu yang sekolah itu begitu bandel, terkenal pembolos, pemalas, golongan orang miskin, bahkan sempat terkenal karena judi togel.

“Ya Rabb, apa yang harus kulakukan ketika bertemu guru-guruku yang sering menghukumku dulu? Apa yang bisa berikan pada mereka? Sementara aku cuma lulusan SMA dan bekerja jadi pesuruh. Siapa saya ini ya ALLAH?”

Tapi sungguh masyaALLAH, ketika bertemu salah satu guru agama yang dulu menghukumku justru tersenyum indah padaku, beliau terlihat senang, tak sedetikpun melepas senyuman ketika aku bertemu dengannya.

Hatiku benar-benar berdesir, aku hanya bisa bilang “terima kasih pak, sungguh terima kasih”. Kukecup tangan beliau, dan aku mohon doa agar tetap istiqomah di jalan kebenaran.

Dan ternyata ALLAH tidak menunjukkan kebesarannya lewat itu saja, ALLAH menunjukkan padaku sebuah motivasi hidup dari seorang gadis kecil yang sholehah, sewaktu aku beri pertanyaan dalam mentoring, gadis itu menjawab dengan tepat dan akhirnya lahirlah tulisanku berikutnya tentangnya.

Tulisanku tentang gadis kecil itu sangat memotivasi diriku untuk menulis dan terus menulis tentang kebaikan, tentang kejujuran dan sebuah motivasi hidup di kehidupan yang terjal ini. MasyaALLAh begitu luar biasa, begitu berbeda ramadhan 10 hari keduaku ini.

10 Hari Ketiga

Ukhuwah1
dakwatuna.com

Sungguh berbeda 10 hari ketiga dan terakhir ini, ALLAH menunjukkan sesuatu yang berbeda dari biasanya. 10 hari terakhir ini aku lebih banyak berkutat dengan kamar tidur. Ya aku tergeletak tak berdaya, seluruh tubuhku terasa sakit, pilek, batuk, pusing, radang dan darahku terkuras hingga 80 cc, padahal normalnya 110 an.

Aku tergeletak tak berdaya dengan darah segitu, hanya bisa merebahkan badan, kok jalan, untuk berdiri tegak saja susah. Untuk sholat harus berjuang, berjalan dengan terpatah-patah, rasanya berat sekali untuk melangkah.

Tapi dari sini pula ALLAH menunjukkan indahnya ukhuwah padaku, ada beberapa saudara yang sering bertemu di kajian menolongku, mereka dengan ikhlas mengangkat tubuhku yg lemah untuk pergi ke dokter.

Tidak cukup disitu, mereka juga memberiku makanan, memberi pinjaman uang untuk berobat dan terus memperhatikan keadaanku sampai sembuh.

Sungguh luar biasa ALLAH menunjukkan ini padaku, ukhuwah kelas tinggi, tak kenal status, tak kenal umur, mereka bergerak atas dasar cinta, ukhuwah karena seiman dan satu tujuan, masyaALLAH.

Ya, inilah salah satu ramadhan terbaikku, dalam kesederhanaan, dalam ketidaknyamanan, dalam kesepian, kesendirian, ALLAH menunjukkan bahwa ramadhan yang penuh berkah ini tidak hanya milik mereka yang kaya, yang kecukupan, yang punya jabatan, tapi juga milik semua hambaNYa bahkan pesuruh seperti saya.

Magetan, Sebiru hari Ramadhanku 1432 H

 

 

 

 

 

SHARE
Penjelajah ruang kehidupan dan hobi mengumpulkan kalimat yang berserakan