Sebuah Kemenangan Negeri Makkah al-Mukarramah

Posted on

Oleh : Diah Retno Yuniarni (Deputi Departemen Kemuslimahan Salam UI 19)

            Saat itu, 628 SM di sebuah tempat 22 km dari kota Mekkah, kaum muslimim yang dipimpin Rasulullah dengan Kaum Quraisy menandatangi sebuah perjanjian besar antara kedua pihak, yaitu perjanjian Hudaybiyah. Perjanjian ini bermula ketika Rasulullah ingin melaksanakan umrah bersama kaum muslimin di kota Mekkah saat itu. Rasulullah tahu bahwa tak semudah itu untuk memasuki kota Mekkah yang saat itu dikuasai oleh Kafir Quraisy dengan alasan ingin beribadah. Rasulullah sadar bahwa keinginan untuk umrah ini akan melibatkan kontak senjata dan muncul korban yang berjatuhan lagi.  Maka dibuatlah perjanjian hudaybiyah yang berisi :

  1. Tidak saling menyerang antara kaum muslimin dengan penduduk Mekah selama sepuluh tahun.
  2. Kaum muslimin menunda untuk Umroh dan diperbolehkan memasuki kota Mekah pada tahun berikutnya dengan tidak membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya serta senjata pengembara.
  3. Siapa saja yang datang ke Madinah dari kota Mekah harus dikembalikan ke kota Mekah.
  4. Siapa saja dari penduduk Madinah yang datang ke Mekah., maka tidak boleh dikembalikan ke Madinah.
  5. Kesepakatan ini disetujui oleh kedua belah pihak dan tidak boleh ada pengkhianatan atau pelanggaran

            Kaum Quaisy ternyata khianat terhadap perjanjian yang dibuat. Salah satu point yang dilanggar adalah “Barangsiapa yang ingin masuk ke kelompok Rasulullah, maka dipersilahkan bergabung dan yang ingin bergabung dengan orang-orang Mekah juga dipersilahkan bergabung. Kabilah manapun yang bergabung dengan salah satu kelompok ini, maka ia adalah sekutu dari kelompok tersebut. Dan permusuhan yang ditujukan kepada kabilah-kabilah tersebut, dianggap permusuhan terhadap kelompok tersebut.” Dalam konteks ini seharusnya Bani Khuza’ah masuk ke kelompok Rasulullah dan Bani Bakr bergabung dengan orang-orang Quraisy lainnya. Kenyataannya, Kaum Quraisy telah melanggar dengan terjadi pembantaian dari sekutu Quraisy kepada sekutu Rasulullah.

Quraisy memiliki keistimewaan tersendiri bagi Nabi Muhammad S.A.W. Kedudukan begitu istimewa karena merupakan keturunan Nabi Ibrahim A.S dan keturunan Nabi Muhammad S.A.W yang memiliki silsilah. Beberapa kesitimewaan lain nya juga membuat Rasulullah sangat menyayangkan adanya perpecahan yang terjadi terus menerus dengan kaum muslimin. Seharusnya, Ramadhan menjadi bulan dibukakan pintu hidayah bagi mereka (Kaum Quraisy ). Dalam sebuah riwayat Bukhari al-Fath:2731,2732), Rasulullah bersabda :

“Kasihan Quraisy ! Mereka menjadi korban perang. Apa kerugian mereka jika membiarkanku mendakwahi manusia. Jika mereka berhasil mengalahkanku berarti apa mereka (Quraisy) inginkan telah terjadi. Jika Allâh Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepadaku atas mereka, mereka akan masuk Islam dan mereka masih tetap hidup. Jika mereka tidak melakukan ini (maksudnya, masuk Islam) mereka bisa memerangi dan mereka punya kekuatan. Demi Allâh ! Sesunggunya aku akan senantiasa berjihad melawan mereka untuk memperjuangkan apa yang menjadi tujuan Allâh Azza wa Jalla mengutusku sampai memenangkan tujuan ini atau atau sampai aku mati …”

21 Ramadhan 8 Hijriah ( 630 SM )

            Nabi Muhammad S.A.W akhirnya bergerak menuju Mekkah mengahdapi Kaum Quraisy yang ingin membantainya dengan membawa sejumlah 10.000 pasukan yang bergerak dari Madinah menuju Mekkah. Jumlah pasukan besar ini berasal dari kaum muhajirin dan anshar. Kekuatannya mampu menghancurkan berhala di kota Mekkah. Hari ini akan terjadi kekuatan luarbiasa, tak  ada yang mampu menandingi kekuatan kaum anshar dan muhajirin. Abu Sufyan, salah seorang pemimpin Quraisy dari Bani Abdu Syams akhirnya masuk Islam setelah usahanya membuat perdamaian kembali dengan kaum muslimin menjelajah dari Mekkah ke Madinah. Didampingi oleh Abbas ketika datangnya pasukan Muhammad ke pusat kota Mekkah, Abu sufyan bertanya,

“Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”

Abbas menjawab, “Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.”

Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”

Lalu datanglah seorang yang teguh cintanya menegakkan Islam dari kaum Anshar yaitu Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata,

“Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”

Namun Rasulullah mengoreksi perkataan Sa’ad ,

“Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam lalu melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’ beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:

“ Inna fatahna laka fathan mubina “

“ Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (Qs. Al Fath: 1)

Sembari mengumumkan bahwa penduduk Mekkah akan aman bila masuk kerumah Abu Sufyan, beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan
menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Dan lagi membaca firman Allah :
“ Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. “ ( Al-fath 1-9 )

Makkah kini dimiliki kaum Muslimin, menjadi tempat suci dibumi Allah ini. Tempat yang akan selalu dihadiri kala rindu pada sang Rabb tak tertahankan lagi.

Makkah ialah sebuah negeri, Negeri Makkah al-Mukarramah, yang Allah muliakan pada hari penciptaan langit dan bumi. Didalamnya memiliki kemuliaan yang tak dapat dibandingkan dengan tempat apapun itu dimuka bumi ini.

Sebuah tempat yang kemuliaanya akan sampai pada hari kiamat tiba, Sebuah tempat yang atas perlindunganNya menjadi negeri yang tenteram dan damai.

Kemenangan Negeri Makkah al-Mukarramah, seharusnya membuat kita sebagai umat Islam sadar, bahwa setiap langkah dalam menggapai RidhoNya, setiap kesulitannya, setiap  lelah yang dirasa, setiap bosan yang melanda, percayalah Allah akan memberikan kemenangan yang besar bagi hamba-hamba nya yang bertawakal. Sebuah kemenangan besar yang nyata, yang InsyaAllah akan membuat kita semakin dekat dan dicintai olehNya.

Allahumma aamiin. Wallahu a’lam bishawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *