Baru-baru ini terdengar kabar menggembirakan dari Belantara Kutai Barat. Seekor badak sumatera berhasil ditemukan oleh para peneliti. Namun kabar gembira ini menjadi kabar duka ketika hari ini dikabarkan badak tersebut mati selasa ini (5/4/2016).

Para ahli dan pihak pemerintah meyakini kuat badak ini berusia 4-5 tahun. Diperkirakan badak ini mati karena infeksi berat pada kakinya. Dalam konferensi pers ketika badak ini ditemukan, Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan (KLHK) dan WWF Indonesia menjelaskan kalau badak ini mempunyai luka akibat tali jerat.

Tidak disangka, justru luka akibat tali ini yang akhirnya mematikan fauna sebagai bukti fisik kehadiran badak di Kalimantan.

Info kematian badak ini kali pertama di sampaikan oleh Kepala Biro Humas KLHK Novrizal Thahar, Selasa sore.” Yth. Kawan2 Media yang baik, Nanti saya akan kirimkan penjelasan resmi terkait Badak Sumatera di Kutai Barat, mohon ditunggu, Terima kasih, salam duka, Nov, ” catat bekas Sekretaris Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK itu.

Sampai saat ini, siaran pers serta penjelasan resmi KLHK berkaitan kematian badak ini tengah disusun. Pencarian badak sumatera di Kalimantan ini dimulai dari tahun 2013 saat peneliti orangutan menemukan jejak kaki, kotoran, dan puntiran tanaman serta sisa gesekan pada batang pohon.

Dari kamera tersembunyi diketahui bahwa terdapat tiga badak. Tim kemudian menempatkan jebakan penangkap badak. Pada 12 Maret 2016, satu badak betina remaja terperangkap dan kemudian langsung dipindahkan dalam kandang sementara.

Pemerintah beserta ahli serta aktivis satwa liar juga menyiapkan tempat perpindahan di areal sisa tambang PT Kelian Ekuatorial Mining serta rimba lindung Kutai Barat seluas keseluruhan 6000 hektar. Disini, suaka seluas 200 hektar juga disiapkan.

Rencananya translokasi ke suaka ini akan dikerjakan bulan depan. Namun sayang, badak itu lalu diketemukan mati.

SHARE