Islam merupakan agama fitrah bagi para penduduk yang tinggal di bumi. Agama yang cinta perdamaian dan menyejukkan jiwa. Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tokoh yang terkenal menyebarkan Islam di tanah air adalah Wali Songo. Para wali ini mulai menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-17. Wali Songo berjumlah sembilan orang.

Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.

www.habibrizieq.com
www.habibrizieq.com

Wali Songo menyebarkan Islam dengan cara berdakwah, salah satunya menggunakan seni kebudayaan. Nah, salah satu wali yang terkenal pandai berdakwah dalam balutan seni adalah Sunan Kalijaga.

Seni tradisional yang kini menjadi salah satu aset bangsa Indonesia untuk dipertontonkan kepada masyarakat dunia. Lalu, siapakah Sunan Kalijaga dan kebudayaan apa yang diciptakannya? Mari kita simak bersama-sama.

1Sunan Kalijaga

mawarqodiriyah.blogspot.com

Raden Mas Said atau akrab dikenal Sunan Kalijaga merupakan putra dari Ki Tumenggung Wilatikta yang lahir pada tahun 1455. Sunan Kalijaga yang juga putra seorang Bupati Tuban ini di masa kecilnya senang untuk bergaul dengan rakyat jelata.

Raden Said kecil merasa terketuk hatinya ketika melihat warga-warga di sekitar lingkungan hidup dengan keadaan yang serba kekurangan. Ia pun rela mencuri beberapa barang di gudang rumahnya untuk dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan.

Hingga suatu hari, aksinya ini pun terbongkar. Alhasil, Raden Said harus menerima hukum cambuk sebanyak 200 kali ditangannya dan disekap oleh ayahnya sendiri. Dan akhirnya, ia pun pergi meninggalkan rumah tanpa memberi kabar.

Raden Said menjalani hidupnya sebagai “pencuri”, dimana hasil curiannya itu ia bagikan untuk orang yang tak mampu. Sampai suatu hari, ia kembali tertangkap dan diusir oleh ayahnya dari Kadipaten.

Kisah mengenai Raden Said yang mencuri pun masih berlanjut. Dirinya pergi ke Hutan Jadiwangi untuk merampok orang-orang kaya, sehingga mendapat julukan “Brandal Lokajaya”.

Suatu hari, Raden Said menghadang Sunan Bonang yang tengah melewati hutan. Kemudian Sunan Bonang berkata, “kelak, kalau ada orang lewat hutan ini, memakai pakaian serba hitam serta berselendang bunga wora-wari merah, rampoklah.”

Raden Said pun menuruti perkataan Sunan Bonang dan ia membebaskannya. Hari yang ditunggu pun datang, orang yang dikatakan Sunan Bonang melewati Hutan Jadiwangi. Raden Said lalu bersiap menghadangnya.

Saat Raden Said menghadang, orang yang ternyata adalah Sunan Bonang itu berubah menjadi empat. Raden Said yang melihat kejadian itu pun berjanji untuk mengakhiri perbuatan buruknya ini.

Kemudian Raden Said mulai bertapa hingga dua tahun lamanya. Raden Said memiliki gelar Sunan Kalijaga karena ia pernah melakukan pertapaan di pinggir kali yang bernama Kalijaga.

2Seni Budaya dalam Dakwah

kekunaan.blogspot.com

Sunan Kalijaga dapat disebut sebagai ahli budaya. Ia mendakwahkan Islam kepada masyarakat dengan menggunakan kesenian daerah, bukannya menghilangkannya. Tak ada kekakuan dalam syi’ar agama Islam bagi Sunan Kalijaga.

Beberapa seni budaya yang diciptakannya adalah baju taqwa yang kemudian disempurnakan oleh Sultan Agung dengan Dandanggulo. Kemudian lagu lir-ilir hingga kesenian wayang.

Selain itu, Sunan Kalijaga pun dikenal sebagai pencipta seni ukir bermotif dedaunan, perintis pembuatan bedug masjid serta “Gong Sekaten” yang bernama asli “Gang Syahadatain”.

yokimirantiyo.blogspot.com
yokimirantiyo.blogspot.com

Untuk kesenian wayang sendiri, Sunan Kalijaga membuatnya dalam bentuk wayang kulit, supaya tidak menyerupai wujud manusia. Ia membuat lakon-lakon wayang pun lebih Islami. Misalkan saja karakter Punakawan.

Punakawan yang terdiri dari Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng merupakan karakter yang bernafaskan Islam. Kemudian istilah dalam pewayangan pun ada merujuk pada bahasa Arab.

Contohnya saja kata “Dalang”, diambil dari kata “Dalla” yang memiliki arti menunjukkan. Maksud dari Sunan Kalijaga, dalang itu merupakan seorang yang menunjukkan kebenaran kepada penonton wayang.

www.kompasiana.com
www.kompasiana.com

Kemudian tokoh Semar, berasal dari kata “Simaar” yang berarti paku. Filosofinya ialah di mana orang yang hidup itu harus memiliki iman yang kuat dan kokoh bagaikan paku yang menancap.

Tokoh Petruk pun berasal dari salah satu kata dalam bahasa Arab, yakni kata “Fat-ruuk” yang artinya tinggalkan. Manusia diminta untuk meninggalkan sesembahan lain selain Allah. Selanjutnya ialah tokoh Gareng, berasal dari kata “Qariin” yang artinya teman.

Teman yang dimaksud Sunan Kalijaga adalah teman untuk menuju pada jalan kebaikan. Tokoh Bagong pun diambil dari kata dalam bahasa Arab, yakni “Baghaa” yang artinya berontak. Berontak akan kedzaliman.

Pagelaran wayang ini dilakukan secara sukarela oleh Sunan Kalijaga dari kampung ke kampung untuk melakukan kegiatan dakwahnya.

www.youtube.com
www.youtube.com

Selain wayang kulit yang mendunia, Sunan Kalijaga pun menciptakan sebuah tembang yang populer dengan judul “Lir-Ilir”. Dimana tembang tersebut kental dengan makna kehidupan dari baris-baris ditiap liriknya.

Inilah lirik lagu Lir-Ilir karya dari Sunan Kalijaga yang bermakna “sadarlah”.

Lir-ilir, lir-ilir

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh temanten anyar

Bocah angon, bocah angon

Penekna belimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekna

Kanggo mbasuh dodod iro

Dodod iro, dodod iro

Kumitir bedhah ing pinggir

Dondomana, jlumatana

Kanggo seba mengko sore

Mumpung padhang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Yo surak ’a, surak “hiyoo”