satujam.com

Sejarah Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai Dari Sudut Pandang Ibnu Batuthah, Traveller Muslim Asal Maroko

Posted on

Salah satu sumber sejarah berdirinya Kerajaan Samudera Pasai mengatakan bahwa Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar abad 13 Masehi. Didirikan oleh seorang laksamana laut dari Mesir bernama Nazimuddin Al Kamil.

Pada tahun 1238 M, ia ditugaskan merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat yang saat itu menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dari wilayah timur. Setelah itu, Nazimuddin Al Kamil juga mendirikan sebuah kerajaan di bagian utara Pulau Sumatera yang kemudian dikenal dengan Kerajaan Pasai.

Dirinya kemudian mengangkat seorang penguasa lokal bernama Marah Silu menjadi Raja Pasai pertama yang digelarinya Sultan Malik Al Saleh (1285 M – 1297 M). Tujuannya agar dapat menguasai hasil perdagangan berupa rempah-rempah.

Keberadaan kerajaan ini tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya seorang musafir asal Maroko, Abu Abdillah Ibnu Batuthah. Dirinya mencatat hal yang sangat berkesan saat berkunjung ke sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera di sekitar tahun 1345 M.

Dikisahkannya, bahwa setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), Ibnu Batuthah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Perdagangannya sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas.

Semakin takjub lagi saat dirinya berjalan turun meninggalkan perahunya dan menuju ke kota. Dirinya mendapati sebuah kota besar yang sangat indah dengan dikelilingi dinding dan menara kayu.

Namun berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, diceritakan bahwa Kerajaan Pasai didirikan oleh Marah Silu. Dirinya menggantikan seorang raja bernama Sultan Malik Al Nasser. Wilayah yang sebelumnya dipimpin oleh mendiang Sultan Malik Al Nasser ini berada pada satu kawasan bernama Semerlanga.

Setelah itu Marah Silu naik tahta dan bergelar Sultan Malik as-Saleh. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan. Hal ini merujuk pada dua kawasan yang berbeda.

Berbeda halnya dengan catatan sejarah dari Tiongkok. bahwasanya nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara itu, Marco Polo dalam catatan lawatannya menuliskan daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera. Diantaranya ada Basma dan Samara (Samudera).

Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu Batuthah menggambarkan Sultan Malikul Zhahir, yaitu cucu dari  Sultan Malik as-Saleh, sebagai raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin.

Meski dirinya telah menaklukkan banyak kerajaan, Sultan Malikul Zhahir tidak pernah bersikap sombong. Kerendahan hatinya itu ditunjukkan saat menyambut rombongan Ibnu Batuthah. Para tamunya dipersilakan duduk di atas hamparan kain, sedangkan ia langsung duduk di tanah tanpa beralas apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *