Kampung Luar Batang mendadak tenar. Sayangnya ketenaran yang tak baik. Dimana praktik penggusuran atas nama penertiban dilakukan dan memaksa warga yang sudah puluhan tahun tinggal di wilayah itu angkat kaki.

Apalagi penggusuran ini melibatkan seorang Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok seolah tak peduli dengan nasib warga Luar Batang yang beberapa diantaranya memiliki KTP Jakarta.

Saat warga yang digusur bertahan tinggal di perahu, Ahok mengatakan mereka yang tinggal di perahu lama-lama akan hilang dengan sendirinya. Tak perlu diambil pusing.

Ahok ternyata tidak hanya menggusur warga yang sudah lama tinggal di daerah itu. Namun juga menggusur sejarah yang turut bersama wilayah Luar Batang.

Sejarah perjuangan warga Jayakarta melawan pendudukan, termasuk sejarah syiar Islam di daerah Jakarta Utara. Luar Batang memiliki sejarah yang amat vital.

Mungkin tak banyak orang sadar. Kini yang tersisa dari Luar Batang adalah reruntuhan bangunan. Letaknya terhimpit terusan Pelabuhan Sunda kelapa dan kawasan perumahan elite Pluit. Maka saat Luar Batang digusur, yang tersisa hanya aroma ekonomi di Pelabuhan dan Kawasan Elit Pulit.

Letak Luar Batang

www.merdeka.com
www.merdeka.com

Kampung Luar Batang adalah kampung nelayan yang termasuk dalam Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Kawasan ini sebenarnya menjadi kawasan salah satu dari 12 Jalur Destinasi Wisata Pesisir di Jakarta Utara

Letak Kampung Kramat Luar Batang dekat dengan pantai laut Jawa sehingga banyak mempengaruhi iklim dan lingkungan hidup masyarakatnya. Dulu keadaan alam kampung ini masih berupa empang-empang dan lautan semak yang berawa-rawa. Rawa-rawa ini kemudian ditimbun untuk dijadikan tempat tinggal penduduk.

www.republika.co.id
www.republika.co.id

Tanah terbentuk dari endapan lumpur di muara sungai sehingga tidak padat. Air tanahnya mengandung garam sehingga tidak bisa digunakan untuk air minum.

Penduduk kampung terdiri dari orang asli Betawi dan pendatang dari Jawa Barat, Madura, Jawa Tengah, Bugis, dan Makasar. Para pendatang dari Sulawesi Selatan umumnya bekerja di bidang perkayuan. Sedang yang dari Jawa, Madura, Sunda, dan Betawi kebanyakan menjadi buruh pelabuhan atau industri.

Nama Luar Batang Versi Belanda

www.antarafoto.com
www.antarafoto.com

Nama Luar Batang sendiri memiliki dua versi cerita. Versi pertama soal kebijakan yang dikukuhkan Belanda saat itu.

Versi ini menyebutkan bahwa wilayah Luar Batang berada di luar batas pemisah berupa batang kayu yang dibuat Belanda di muara Sungai Ciliwung.

Batang kayu ini dibuat untuk mernisahkan kegiatan perdagangan Belanda di Pelabuhan Sunda Kelapa dengan para nelayan. Perahu nelayan harus berlabuh di luar batang kayu, di sebelah barat sehingga daerah ini kemudian dinamakan Luar Batang.

sportourism.id
sportourism.id

Menurut buku Oud Batavia yang ditulis Frederik de Haan mengungkap, kawasan ini disebut Luar Batang karena terletak di luar batang penghalang yang diletakkan melintang di muara Ci Liwung. Penghalang tersebut terbuat dari batang kayu dan diperkuat dengan besi.

Dalam bahasa Belanda batang kayu disebut boom. Kata boom sudah tertera pada peta yang diperkirakan dibuat pada 1623. Jika perahu ingin melintasi penghalang tersebut, mereka wajib membayar bea masuk.

Kawasan yang berada di luar penghalang inilah yang kemudian disebut dengan Luar Batang atau dalam bahasa Belanda disebut buiten de boom.

Versi Kedua

khazanah.republika.co.id
khazanah.republika.co.id

Pendapat kedua, berawal dari makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Habib Husein adalah seorang penyebar agama Islam yang berilmu tinggi.

Ulama yang bernama lengkap SayidHusein bin Abubakar bin Abdullah al-Aydris ini juga diyakini sebagian besar orang sebagai keturunan Nabi Muhammad.

Puluhan tahun Sayid Husein berdakwah di kota-kota pesisir utara Pulau Jawa, dari Batavia sampai Surabaya.

news.merahputih.com
news.merahputih.com

Dirinya wafat sekitar tahun 1796, dan dimakamkan di luar masjid yang dibangun di tahun yang sama. Saat Masjid Luar Batang mengalami renovasi dan diperluas pada 1827, makam keramat Sayid Husein menjadi berada di dalam ruangan masjid.

Nama “Luar Batang” sendiri tidak lepas dari peristiwa ajaib yang terjadi pada jenazah Sayid Husein. Saat keranda, atau kurung batang dalam istilah Betawi, tempat jenazah Sayid Husein dibuka, jenazahnya raib dari kurung batang tanpa dilihat seorang pun.

Bagian dari Perjuangan Fatahillah

megapolitan.kompas.com
megapolitan.kompas.com

Sejarah Luar Batang menurut kuasa hukum warga Luar Batang, Yusril Ihza Mahendra tak lepas dari perjuangan Fatahillah merebut Jayakarta.

Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis dan mengubahnya menjadi Jayakarta pada 1527. Sejarah Jakarta terkait dengan Islam dan nasionalisme di mana Kampung Luar Batang dan Pasar Ikan menjadi bagian penting dari sejarah itu.

”Sekali-kali jangan melupakan sejarah karena masa kini kita terbentuk oleh berbagai peristiwa sejarah masa lalu yang panjang. Kini, tiap kali kita mendengar Jakarta perlu ruang terbuka hijau, kampung-kampunglah yang jadi sasaran untuk dihabisi,’’ ujarnya seperti dikutip dari Republika.

Yusril menegaskan, rakyat di Kampung Luar Batang itu memang sederhana dan hidup apa adanya. Mereka tentu tak berdaya berhadapan dengan penguasa yang sering kali bersekongkol dengan pengusaha.

”Kampung Luar Batang dengan makam seorang yang diyakini oleh sebagian umat Islam sebagai waliyullah kini tengah jadi sasaran. Kita seperti kehilangan kepekaan akan hal-hal  yang jauh berada di luar