Perang Jawa atau juga dikenal dengan Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825 – 1830 merupakan salah satu peristiwa besar dalam periode perang pra-kemerdekaan Indonesia. Tanah Jawa yang makmur menjadi berubah pasca perang besar ini.

Perang ini menjadi penanda awal perlawanan lintas bidang menuju kemerdekaan Indonesia. Tokoh pemimpinnya pun, Pangeran Diponegoro, namanya diabadikan menjadi simbol salah satu universitas ternama, museum, pameran seni, manuskrip sejarah, juga ribuan jalan di seantero Indonesia.

Banyak hal yang ternyata belum tersampaikan secara umum mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Perang Jawa atau Perang Diponegoro ini. Beberapa hal diantaranya bisa kamu ketahui dari ulasan singkat berikut ini.

1Perusahaan VOC Bangkrut Menjelang Perang Jawa

koinkuno.com

Tepatnya pada tanggal 1 Januari 1800 seluruh aset perusahaan VOC diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda karena dinyatakan bangkrut. Semula VOC diberikan kepercayaan oleh kerajaan untuk mengelola Hindia Belanda (Indonesia ketika itu).

Saat itu VOC menumpuk hutang hingga mencapai 134 juta gulden atau setara dengan 12 miliar dollar AS saat ini. Kebangkrutan ini dipicu karena perang Inggris – Belanda ke-4 pada tahun 1780 – 1783.

2Kepulauan Nusantara Jatuh ke Tangan Inggris

wikipedia.org

Revolusi Perancis yang dilanjutkan dengan peperangan yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1791 – 1815 di Eropa rupanya berimbas pada status penguasaan Nusantara. Imbasnya, dalam waktu tujuh tahun, yaitu pada tahun 1804 – 1811 terakuisisi oleh Angkatan Laut Inggris.

3Perang Jawa Didanai dan Diupayakan oleh Seluruh Masyarakat

visitbandaaceh24.wordpress.com

Para pangeran dan priayi yang berada di Yogya ketika itu banyak menyumbang emas, permata dan uang untuk dana perjuangan perang. Seluruh sumbangan dibawa ke medan perang oleh istri-istri dan putri-putri mereka.

Senjata yang digunakan pun bervariasi. Seperti katapel, gada, bambu runcing, termasuk juga senjata api dari hasil rampasan perang. Para serdadu pribumi ini pun mengisi peluru dan mesiu berkualitas tinggi yang didapatkan dari hasil produksi para wanita desa di daerah Bantul dan Kulon Progo.

Strategi sabotase seperti menebang pohon untuk merintangi jalan yang akan dilewati tentara Belanda kemudian menyergapnya. Membakar jembatan kayu. Dan juga membuat lubang jebakan yang berisi bambu runcing menjadi cara mereka melakukan perlawanan.

4Kaum Perempuan Ikut Bertempur

kompasiana.com

Saat Perang Jawa, tersebutlah seorang pemimpin suatu pasukan yang bernama Raden Ayu Serang atau sering dikenal dengan Nyi Ageng Serang. Beliau adalah istri dari Pangeran Serang I yang juga merupakan keturunan Sunan Kalijaga.

Selain itu, salah satu putri Sultan Hamengku Buwono I pun turut dalam pasukan. Saat itu Raden Ayu Serang memimpin pasukan sejumlah 500 orang dengan wilayah perlawanan di sekitar Serang – Demak dan Pantai Utara Jawa.

5Perang Terbesar Sepanjang Sejarah Perjuangan Pra-Kemerdekaan

luk.staff.ugm.ac.id

Dalam catatan sejarah, lebih dari 200.000 orang Jawa tewas. Sepertiga dari seluruh penduduk Jawa merasakan langsung dampak perang. Seperempat lahan pertanian di Pulau Jawa juga mengalami rusak parah.

Walaupun pada akhirnya Belanda memenangkan peperangan dengan cara liciknya. Mereka tetap harus membayar dengan pahit dan mahal. Sebanyak 7000 serdadu pribumi dan 8000 tentara Belanda tewas. Biaya perang mencapai 25 juta gulden atau saat ini sama dengan 2,2 miliar dollar AS.