Dongeng orde baru tentang pembangunan ekonomi terbongkar kerapuhannya di pertengahan 1997. Krisis moneter ditandai dengan anjloknya mata uang rupiah terhadap dolar secara drastis.

Dari yang awalnya Rp 2.500/dollar nilainya turun dalam beberapa bulan hingga Rp 15.000/dollar. Kontan masyarakat Indonesia dilanda kepanikan mendalam. Sangat masuk akal jika kemudian menimbulkan banyak chaos.

Presiden Soeharto mencoba mengendalikan dengan pengetatan anggaran, proyek-proyek bernilai triliunan dihentikan. Namun, rupiah yang terus merosot tajam membuat pemerintah kehabisan akal, maka pilihan mudah pemerintah dengan “mengemis“ bantuan IMF.

ggfd
print.kompas.com

Bukan tanpa konsekuensi, paket bantuan senilai $43 Miliar menelurkan 50 butir kesepakatan yang harus dijalankan pemerintahan Soeharto.

Beberapa butir kesepakatan selain pengetatan anggaran, pemerintah dipaksa menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik yang merupakan sendi kehidupan rakyat.

Seperti senjata makan tuan kebijakan turunan dari IMF ini semakin menyekik kehidupan ekonomi rakyat. Banyak PHK akibat Industri gulung tikar, harga-harga melonjak, pengangguran membengkak. Hal ini justru berakibat mempercepat laju reformasi.

Mahasiswa yang tertidur lama mulai bergerak perlahan. Menjadi pioneer pada 22 Agustus 1997 digelar aksi keprihatinan oleh Aliansi Muda Islam Yogyakarta untuk Keadilan (Amika) yang menuntut reformasi ekonomi.

rintonamang.blogspot.com

Dari Yogyakarta memancing sejumlah aksi mahasiswa di daerah lain di Bandung (ITB) dan paling signifikan di Jakarta (UI).

Nampaknya mahasiswa yang hidup di tengah-tengah masyarakat paling mudah terpantik karena turut pula merasakan dampak krisis secara langsung.

Seperti bola salju, aksi-aksi mahasiswa semakin menggelinding ke semua kampus. Bahkan bukan hanya mahasiswa, semua civitas akademik turut pula ambil bagian.

Tokoh-tokoh akademis, budayawan tak ketinggalan ikut memprovokasi perubahan. Tak heran aksi massa saat itu mampu menghimpun ribuan orang dalam sekali aksi.

kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Stabilitas politik yang semu hasil represi dan rekayasa orde baru. Menyimpan potensi yang siap meledak kapan saja. Sejumlah oposan politik prodemokrasi menemukan momentum besar untuk menggulingkan rezim dan menggulirkan reformasi.

Bahkan orang-orang yang selama ini secara politik seirama dengan orde baru, balik melawan Soeharto seolah-olah bagian dari kaum reformis.

Lembaga DPR yang mayoritas adalah Golkar, notabennya adalah partainya Seoharto, justru menyudutkan presiden sendiri. Pada 18 Mei 1998, melalui ketuanya Harmoko yang dikenal dekat dengan Soeharto, DPR mendesak presiden untuk segera mundur.

Para menteri kabinet pembangunan VII satu persatu mengundurkan diri dari jabatannya, semakin melemahkan pemerintahan.

Pada awalnya Soeharto bersedia memenuhi tuntutan reformasi, dan ingin membentuk komite reformasi untuk menyusun struktur kabinet baru.

Para tokoh agama, budayawan, akademisi pun diundang ke Istana untuk dilantik menjadi anggota komite reformasi pada 19 Mei 1998. Kebanyakan menolak niatan dari Presiden Soeharto tersebut.

kenduricinta.com

Para tokoh melihat tuntutan makin meluas menghendaki reformasi total meliputi sistem politik, ekonomi, hukum, sosial, dan pemerintahan. Mengotak-atik kabinet tak akan memuaskan rakyat dan tak mampu menyelesaikan krisis.

Peristiwa Trisakti yang menewaskan 4 mahasiswa Trisakti terkena desingan peluru adalah bahan bakar utama. Martir yang memantik aksi-aksi lebih besar selanjutnya. Jakarta berkobar menumpahkan banyak darah anak bangsa.

en.wikipedia.org

Pasca peristiwa Semanggi, tentara yang berhasil menggebuk mahasiswa, menyanyikan mars-mars TNI seakan telah memenangkan pertempuran melawan “musuh besar” bernama mahasiswa.

Masyarakat juga frustasi dengan kondisi sosial dan ekonomi yang memburuk. Pembakaran di mana-mana, penjarahan, bahkan paling memilukan bagaimana wanita etnis Tionghoa jadi korban pemerkosaan.

Asiaweeks dalam judul ‘Sepuluh Hari yang Mengoyak Indonesia’, mengungkap ada 1.188 orang tewas, 468 wanita diperkosa, 40 mall, dan 2.470 toko ludes dimakan api, serta tidak kurang dari 1.119 mobil dilaporkan dibakar atau dirusak pada masa itu.

kaskus.co.id

Sebuah gambaran tribulasi yang semakin parah dan menunggu penyelesaian mendasar. Pak Harto yang masih memiliki hati nurani tentu sangat terpukul dengan kejadian demi kejadian yang silih berganti.

Bagi Soeharto, beribu mahasiswa yang demo tidak terlalu merisaukannya. Tapi ketika rakyat secara massif sudah turun ke jalan untuk menjarah toko dan mall, bahkan diselingi dengan pembakaran, dan pemerkosaan, disitulah titik terakhir Soeharto tak kuat lagi melihatnya.

21 Mei 1998 tepat pada pukul 09.05 WIB, sebuah peristiwa penting yang akan mengubah arah perjalanan bangsa. Soeharto memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Presiden.

id.wikipedia.org

“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21 Mei 1998,” Soeharto dalam pidato terkahirnya sebagai presiden Indonesia.

Kini menjelang 18 tahun reformasi, peristiwa ini tetap tidak pernah terlupakan. Soeharto, presiden terlama yang memimpin Indonesia selama 32 tahun akhirnya lengser.

Sesalah apapun Soeharto dalam jabatannya, rakyat tetap mengenang jasa beliau sebagai bapak pembangunan Indonesia.