Sebelum muncul demonstrasi taksi konvensional yang menolak keberadaan taksi berpelat hitam berbasis online di Indonesia, banyak negara yang ternyata sudah lebih dulu melakukan hal serupa.

Beberapa bulan lalu, di beberapa negara juga terjadi aksi penolakan yang sama. Hanya saja, aksi demo yang mereka jalankan berlangsung tertib dan tidak anarkis. Tidak seperti yang terjadi di Negara kita.

Tanpa adanya aksi anarkis, para sopir taksi ini menyampaikan aspirasinya secara elegan dengan duduk bersama di parlemen.

Salah satu perusahaan taksi online terbesar di dunia yakni Uber, rupanya telah berhasil memasuki pasar transportasi di lebih dari 300 kota di dunia.

Nyatanya, kehadiran Uber ini ditentang habis-habisan di 14 negara. Akhirnya, terjadi pengkajian ulang dari segi hukum mengenai operasionalisasi Uber. Namun, ternyata tidak sedikit pemerintah yang langsung tegas melarang Uber beroperasi.

Uber didirikan oleh dua pebisnis bernama Travis Kalanick dan Garret Camp pada tahun 2009 di San Fransisco, Amerika Serikat. Kini, mereka merambah ke 57 negara dengan capaian omzet Rp 237 triliun.

Namun, fenomena yang sama terjadi. Uber membuat bisnis taksi konvensional terdesak. Sehingga memunculkan aksi protes di banyak tempat. Negara mana sajakah itu?

Back

1. Thailand

Di Negeri Gajah Putih ini, taksi Uber juga dipaksa menghentikan operasinya. Terutama taksi online mereka yang berpelat hitam. Supir taksi konvensional menganggap Uber membawa dampak buruk bagi pemasukan mereka.

thaiblognews.com
Back