Oleh : Alfian Ali Murtadlo (Staff Departemen Syi’ar Islam Salam UI 19)

Waktu terus berlalu, meninggalkan kenangan yang lalu

Debu di dinding kalbu, terhapus dengan kenangan baru

Jumpa lalu ditengok sungai, membuyarkan angin senja menyapu

Istiqomahkan semangat diri, tetap utuh setiap waktu

Manusia sejatinya diciptakan oleh Allah dari dua unsur. Unsur materi berupa at-turab (tanah) dan unsur immateri berupa ar-ruh (roh). Unsur materi merupakan unsur pembentuk tubuh yang kasat mata, sedangkan unsur immateri merupakan unsur pebentuk tubuh yang tidak kasat mata. Kita sebagai manusia, diberikan beberapa potensi untuk menjadi makhluk yang terbaik disisinya. Setidaknya ada tiga potensi manusia, yaitu sam’u (pendengaran), bashru (penglihatan), dan fu’adu (pemahaman). Pendengaran manusia diberikan melalui sebuah organ yang bernama telinga. Organ ini dirancang dengan sangat baik oleh Allah SWT. Daun telinga dirancang untuk menghimpun dan memusatkan suara ke dalam saluran pendengaran, permukaan dalam saluran dilapisi oleh bulu-bulu halus yang mengeluarkan padatan lendir untuk melindungi telinga dari kotoran luar, terdapat gendang telinga, terdapat pula tiga tulang kecil (martil, landasan, sanggurdi), saluran eustasia berguna untuk menyeimbangkan tekanan udara, rumah siput mempunyai mekanisme pendengaran teramat peka.

Sama halnya dengan penglihatan yang disusun dari jaringan secara begitu kompleksnya. Maha besar Allah dengan segala penciptaannya. Organ mata sangatlah rumit. Bagaimana bisa organ yang panjangnya hanya 3-5 sentimeter itu bisa untuk melihat segala sesuatu. Organ ini mengungguli peralatan canggih di dunia ini dan akan tetap selalu mengungguli. Pemahaman merupakan keajaiban ketiga yang dimiliki oleh manusia. Af’idah adalah hati yang dengannya manusia mengenali beraneka benda, menghafaznya, dan memikirkan serta memahaminya (Tafsir At- Tobari). Itulah ketiga keajaiban potensi yang dimiliki oleh manusia.

Allah maha pengasih, sehingga semua manusia diberikan cukup kuota di dalam ketiga potensi tersebut. Jikalau ada suatu potensi yang tidak memenuhi kuota, niscaya Allah akan menyeimbangkannya dengan memberikan kuota lebih pada potensi yang lainnya. Allah juga maha penyayang, ia menyayangi makhluk-Nya yang bertaqwa. Ini lah perbedaan ar-rahman (maha pengasih) dan ar-rahim (maha penyayang). Sifat ar-rahman untuk seluruh makhluknya sedangkan sifat ar-rahim hanya untuk makhluknya yang beriman. Allah tidak meminta yang lebih kepada manusia atas pemberian dari-Nya. Allah hanya meminta mas’uliyah (tanggung jawab) yang harus dipenuhi oleh manusia. Tanggung jawab atau amanat ini sangatlah berat hingga makhluk Allah yang lainpun enggan menjadi manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 72,

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (tanggung jawab) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat (tanggung jawab)  itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Dalam ayat ini, yang dimaksud sebagai manusia yang amat zalim dan amat bodoh adalah mereka yang menerima tugas (tanggung jawab) dan tetapi melaksanakannya. Dalam surat Al-Isra’ ayat 36 disebutkan,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

Ketiga potensi manusia itu nantinya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Sehingga akan ada dua sifat manusia terhadap mas’uliyah tersebut, yaitu amanah atau khianah. Amanah adalah orang yang senantiasa melaksanakan setiap mas’uliyahnya sedangkan khianah adalah orang yang tidak melaksanakan mas’uliyahnya.

Dalam memaksimalkan potensi terebut untuk menciptakan sebuah tanggung jawab yang akan diterima oleh Allah SWT, kita diperintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap mu’min. Di dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 berbunyi,

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Oleh sebab itu, seharusnya seluruh kegiatan manusia harus didasari dengan niat untuk beramal dan beribadah kepada Allah SWT. Amalan manusia bisa berupa amalan qolbu (hati), amalan aqli (akal), dan amal jawarih (anggota badan). Amalan hati itu berupa ikhlas, senantiasa husnudzan, ridho, lapang dada, cinta dan benci karena Allah. Amalan akal bisa berupa menuntun ilmu, berijtihad setelah memenuhi syarat, tafakur dalam penciptaan langit dan bumi, memikirkan masalah umat. “Orang yang di waktu malam memikirkan permasalahan umat lebih baik daripada shalat sepenuh malam” (Imam Al-Ghazali). Sedangkan amal anggota badan bisa berupa amal yang dikerjakan oleh lisan, mata, telinga, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya.

Syarat diterimanya ibadah ada tiga, yaitu syuhbatulnayah (ikhlas karena Allah), masyhruiyah (disyari’atkan oleh Allah), dan kaifiyah (mengikuti tata caranya). Oleh karena itu, setiap amal kegiatan manusia diharapkan untuk senantiasa memenuhi ketiga syarat tersebut agar setiap kegiatan yang kita lakukan, setiap amal yang kita kerjakan diridhoi Allah SWT.

Dalam melaksanakan kegiatan kita, kita diberikan sebuah anugrah oleh Allah, yaitu semangat di dalam hati. Semangat ini bukanlah sebuah organ, bukan pula sebuah jaringan, atau sebuah sel. Semangat ini ada di dalam hati kita sebagai sebuah pentrigger yang akan memacu setiap keinginan kita untuk melaksanaan setiap aktifitas kegiatan kita. Semangat ini bukan masalah ada apa tidaknya, kuat atau lemahnya. Tapi, semangat ini akan tetap ada selama kita senantiasa percaya bahwa masih ada semangat di dalam hati kita. Semangat seharusnya tidak hanya muncul saat kita merancang sebuah aktifitas yang akan kita lakukan, namun semangat juga harus hadir ketika kita melaksanakan aktifitas itu hingga akhir. Semangat ini, harus didasari dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Semangat ini, nantinya akan mempengaruhi berhasil tidaknya aktifitas kita, semangat ini, nantinya memberikan dampak yang besar terhadap apa yang akan terjadi setelah melaksanakan aktifitas kita. Semangat merupakan hal yang abstrak, tidak kasat mata, namun benar adanya.

Wallahu A’lam bi-Shawaab

Jika melihat matahari, berharaplah untuk bisa melihatnya esok hari

Karena bulan tidak akan mati, dimana engkau mengasingkan diri

Jika semangat pudar hingga kini, berharaplah do’a pada illahi

Karena manusia harus mencari, dimana ridho Allah ia dapati

يَا مُقَلِّبُ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ

“Wahai sang pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu”

 

SHARE