Warga Jakarta, atau warga di luar Jakarta yang menggilai sepakbola tentu pernah mendengar beberapa berita tentang pro dan kontra yang mewarnai pembangunan sebuah stadion di Jakarta.

Ya, stadion tersebut bernama stadion BMW. Stadion ini pertama kali direncanankan akan dibangun pada masa Gubernur Fauzi Bowo, dan rencana akan diselesaikan sebelum ASEAN Games 2018 mendatang.

Stadion ini menuai beberapa protes dari pihak-pihak tertentu termasuk beberapa warga Jakarta sendiri. Banyak sekali yang melatar-belakangi protes ketidak setujuan tersebut.

Salah satunya adalah karena dikhawatirkan adanya ancaman konflik horizontal yang datang dari NJ Mania (North Jakarta Mania).

Hal ini terkait adanya rencana dari Persija yang akan menggunakan stadion ini sebagai base camp nya kelak. Hal ini dianggap sebagai ketidaktoleranan oleh kelompok NJ Mania.

Selain itu, usul pemberian nama dari stadion yang seharusnya bisa diakses oleh warga Jakarta manapun saja ini juga dianggap diskriminatif oleh beberapa kelompok.

Awalnya stadion ini akan dinamakan Stadion Persija BMW, padahal stadion ini kelak akan menjadi milik semua warga Jakarta, dan beberapa kelompok tak setuju jika nama itu dipakai.

Karena dianggap bahwa stadion ini milik bersama maka harusnya namanya adalah Stadion Jakarta.

Terkait anggaran sendiri, stadion ini direncanakan akan meraup sekitar 37 Milyar Rupiah dalam proses pembangunannya sampai selesai kelak.

Kontra lainnya yang mewarnai pembangunan stadion yang berada di wilayah Jl. RE Martadinata ini adalah terkait masalah tanah seluas 3 Hektar yang sedang melewati masa sengketa.

Dimana tanah ini sebenarnya dalam putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) masih sah masuk dalam bagian 7 Hektar tanah milik PT Buana Permata Hijau, namun diklaim milik Pemprov DKI Jakarta.

Sampai pembangunan terus berlanjut, stadion yang calonnya kelak akan memiliki kapasitas lebih dari 50.000 orang ini, belum ada proses banding dari Pemprov DKI Jakarta.

Hmm, kita tunggu saja, apakah stadion ini benar akan rampung sebelum 2018 nanti.