Nama Lawang Sewu agaknya taka sing lagi bagi telinga masyarakat Negara Indonesia. Bangunan yang sekarang menjadi museum dan tempat wisata ini memang telah tersohor, bahkan sampai ke mancanegara.

Lawang Sewu tak hanya menawarkan sensasi kuno yang antik, namun juga sisi kemegahan pada masa penjajahan, dan kesan mistis yang melingkupinya karena faktor sejarah yang telah tercatat.

Bangunan ini merupakan saksi bisu terjadinya perjuangan hebat para Pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) yang berjuang mati-matian melawan Kempetai Jepang di Pertempuran Lima Hari Semarang.

Banyak dari pemuda AMKA yang akhirnya gugur, mayatnya bergelimpangan di sekitar Lawang Sewu dan Tugu Muda, serta ada yang dibuang ke sungai di bawah Tugu Muda, bahkan ada yang dipenjara sampai mati.

Bagi masyarakat sekitar, julukan Lawang Sewu bagi bangunan ini bukan tanpa arti. Bangunan yang dulunya adalah kantor administrasi perkereta-apian milik Hindia-Belanda ini memang memiliki banyak pintu.

Tak hanya pintu, namun juga ada banyak jendela yang tinggi serta besar-besar. Sehingga masyarakat menyebutnya Lawang Sewu atau Seribu Pintu. Walau kenyataannya pintunya tak berjumlah sebanyak itu.

Setelah Indonesia merdeka, Lawang Sewu kemudian diambil alih sebagai Kantor milik DKARI, Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia.

Setelah itu, Lawang Sewu juga pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Perhubungan Wilayah Jawa Tengah, dan sekarang resmi dijadikan museum dan tempat wisata.

Setelah mengalami revitalisasi, gedung yang mulai dibuat pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1919 ini dibuka untuk umum. Para pengunjung bisa menikmati isi gedung ini sepuasnya.

Di dalam Lawang Sewu, ada beberapa ruangan seperti layaknya kantor, ada kamar mandi, lapangan upacara beserta tiang benderanya, parkiran, dan sebagainya.

Yang menarik, ketika kamu memasuki gedung, kamu akan disambut arsitektur megah dari tangga besar di ruang utamanya.

Selain itu, sisi mistis juga bisa kamu temui di penjara bawah tanah yang berada di Lawang Sewu ini.