Buku-buku pelajaran sejarah anak sekolah tentu sudah banyak mencatat tentang nama dr. Radjiman Wedyodiningrat, seorang tokoh yang ikut menyumbangkan diri dalam pembentukan Republik Indonesia.

Dan dalam catatan kenegaraan juga telah mencatat nama dr. Radjiman Wedyodiningrat ini sebagai salah satu Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia sekaligus Tokoh Pergerakan Nasional.

Siapakah dr. Radjiman Wedyodiningrat ini? Banyak warga Negara Indonesia yang hanya sekedar tahu nama, namun tak betul-betul tahu sepak terjang tokoh hebat yang satu ini.

Dr. Radjiman bukanlah keturunan bangsawan, bahkan ayahnya hanya seorang penjaga toko di masanya dahulu.

Gelar KRT (Kanjeng Raden Tumenggung) didapatkannya dari Kesultanan Yogyakarta atas jasanya dalam mengabdi di sebuah rumah sakit di Yogyakarta pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Dr. Radjiman lahir di Yogyakarta pada tanggal 21 April 1897. Walau berasal dari keluarga menengah ke bawah, semangat belajar dr. Radjiman sangat tinggi, dan hal tersebut didukung dengan kecerdasannya yang luar biasa.

Dr. Radjiman kemudian menempuh pendidikan di Belanda bahkan sampai di Perancis, sehingga dia mendapatkan gelar dokter.

Dr. Radjiman juga salah satu tokoh pendiri Boedi Oetomo pada tahun 1908, dan menjadi Ketuanya pada tahun 1914-1915. Kita semua tahu, Boedi Oetomo adalah cikal bakal pergerakan pemuda di Indonesia.

Kemudian saat dibentuk BPUPKI, dr. Radjiman ditunjuk sebagai ketuanya. Dan dia juga menanyakan dasar Negara Indonesia, yang kemudian dijawab oleh Ir. Soekarno dengan penjabaran Pancasila.

Pada tahun 1934 dr. Radjiman pindah ke Ngawi. Dia memilih menetap di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, karena keprihatinan yang tinggi tentang kemiskinan dan rendahnya kualitas kesehatan di Ngawi.

Kala itu di Ngawi banyak warga meninggal karena wabah penyakit pes. Dr. Radjiman mengadakan terapi dan pengobatan besar-besaran pada warga.

Selain itu dr. Radjiman juga menyumbang jasa besar dalam pemaksimalan peran bidan/dukun bayi, dengan membantu edukasi bagi mereka dalam menolong proses kelahiran bayi di masyarakat Ngawi.