Ramadhan bulan keberkahan dengan limpahan pahala Allah sebentar lagi akan tiba. Tentunya hal tersebut membuat umat Muslim dimana pun berada menjadi semangat dan bahagia menyambutnya.

Selain melakukan banyak persiapan secara fisik agar kuat dalam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, umat Muslim juga melakukan persiapan ruhani dengan peningkatan kualitas amal dan ibadah.

Namun selain persiapan secara fisik dan ruhani, biasanya memang akan ada beberapa tradisi unik menjelang Ramadhan yang dilakukan oleh masyarakat.

Seperti 3 tradisi unik yang dilakukan di 3 negara ini. Yang bukan sekedar perayaan biasa, namun perayaan ini telah menjadi tradisi secara turun temurun. Yuk intip apa saja tradisi unik tersebut!

1Tradisi Mayha di Negara Turki

rajalampu.wordpress.com

Tradisi Mayha memiliki nama sebagai tradisi Hiasan Lampu Masjid, karena lampu masjid sendiri dalam bahasa Turki disebut Mayha.

Konon tradisi penyambutan bulan suci Ramadhan ini sudah ada sejak masa Kesultanan Utsmani. Tepatnya pada saat masa kepemerintahan Sultan Ahmad I, yaitu sekitar tahun 1603 sampai tahun 1617.

Waktu itu, Sultan Ahmad I membuat sebuah kejutan bagi para Mudzin (orang yang mengumandangkan adzan) dengan memasang hiasan lampu-lampu yang cantik di masjid.

Karena menarik dan membuat senang hati warganya, kemudian Sultan Ahmad I memerintahkan untuk semua masjid memasang hiasan lampu yang cantik itu.

Kemudian warga mulai berbondong-bondong membuat hiasan lampu secantik mungkin untuk dipasang di masjid-masjid. Tentunya lampunya dari lampu minyak, karena pada masa itu belum ada listrik.

Hiasan dari lampu-lampu tersebut beraneka macam. Ada yang membentuk bunga mawar, bintang-bintang, binatang, tumbuhan, dan masih banyak lagi.

Hingga sekarang, tradisi Mayha ini masih rutin dilakukan di masyarakat Turki untuk menyambut bulan Ramadhan. Namun bedanya, sekarang lampu minyak telah jarang digunakan dan digantikan dengan lampu-lampu listrik.

2Tradisi Lodra di Negara Albania

youtube.com

Albania adalah negara yang terletak di bagian tenggara benua Eropa. Negara ini memiliki penduduk muslim yang cukup banyak, bisa dikatakan sebagai mayoritas juga.

Penduduk Albania sendiri kebanyakan adalah keturunan dari muslim Mesir, Yunani, dan Turki yang pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah tersebut bermigrasi ke sana.

Sehingga berbagai macam tradisi islami juga mewarnai Albania. Termasuk tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebut salah satunya adalah tradisi Lodra. Tradisi yang telah dilakukan turun temurun ini memakai dua bedug besar yang ditabuh dan yang unik keduanya menghasilkan dua suara yang berbeda.

Bedug-bedug besar ini terbuat dari kulit kambing dan domba. Pemukulnya menggunakan stik yang berbeda. Itulah asalnya mengapa suara yang dihasilkan dari dua bedug ini juga berbeda.

Selain itu, tradisi ini juga menampilkan berbagai macam alat perkusi yang semakin menambah kaya suara bedug Lodra. Biasanya tradisi ini dilakukan warga Albania saat menjelang waktu berbuka dan sahur.

3Tradisi Fanus di Negara Mesir

www.republika.co.id

Di Mesir ada sebuah tradisi penyambutan bulan Ramadhan yang telah turun temurun dilakukan. Nama tradisi ini adalah Fanus.

Nama Fanus sendiri diambil dari sebutan untuk lampu hias di Mesir. Fanus atau lampu hias akan mulai banyak dijual belikan saat menjelang bulan suci Ramadhan.

Menjelang Ramadhan, setiap keluarga akan membeli Fanus dan di pasang di rumah masing-masing. Berbeda dengan tradisi Mayha di Turki yang memasang lampu di masjid-masjid, Fanus di Mesir ini dipasang di rumah-rumah.

Jika di Turki, Mayha awalnya diinisiasi dari lampu minyak, maka Fanus di Mesir ini awalnya diinisiasi dari lampu yang berbahan bakar lilin atau minyak zaitun.

Namun sekali lagi seiring berkembangnya zaman, maka Fanus yang sekarang banyak dibuat dari lampu listrik.

Itulah tiga tradisi unik menyambut bulan suci Ramadhan di Turki, Albania, dan Mesir. Seperti halnya tiga negara tersebut, Indonesia juga memiliki berbagai tradisi unik di berbagai daerahnya juga.

Seperti melakukan selamatan di masjid, menabuh bedug keliling, dan masih banyak lagi. Dan semoga dengan penyambutan seperti itu, fisik dan rohani kita pun juga siap menyambut dengan jauh lebih semangat.