Sebagai negara yang bermayoritas penduduk muslim, Indonesia memiliki banyak perayaan dan tradisi di sepanjang bulan Ramadhan hingga Lebaran. Salah satu tradisi yang paling melekat adalah cara membangunkan sahur di berbagai daerah.

Saat waktu sahur datang, biasanya sekelompok anak-anak atau pemuda berkeliling daerahnya masing-masing untuk membangunkan warga untuk sahur. Nah, di setiap daerah ternyata punya cara sendiri-sendiri untuk membangunkan sahur.

Dengo-dengo, Sulawesi Tengah

menabuh-bedug-1024x680
m.dailymoslem.com

Tradisi membangunkan sahur di Sulawesi Tengah ternyata bukan dengan cara membunyikan tetabuhan dan berkeliling kampung, melainkan melalui sebuah bangunan tinggi yang terbuat dari bambu yang disebut dengo-dengo.

Bangunan ini dibuat oleh warga secara gotong royong saat memasuki bulan Ramadhan. Kemudian di bulan Ramadhan ada 8 orang warga yang bergantian menunggui bangunan ini dan membangunkan warga untuk sahur dengan cara menabuh gong, gendang dan juga rebana yang terdapat di bangunan ini.

Bangunan dengo-dengo ini memang sengaja dibuat tinggi agar suara yang dihasilkanya bisa terdengar sampai jauh. Di sore hari, dengo-dengo juga digunakan warga sebagai tempat beristirahat sambil menunggu waktu buka.

Tradisi ini mulai dikenal sejak abad ke-17 saat penyebaran Islam pertama kali di daerah Sulawesi Tengah.

Arak Pengantin, Riau

120937_pengantin-sahur_663_382
nasional.news.viva.co.id

Meski tradisi arak pengantin ini mulai luntur, kamu masih bisa menemukan tradisi ini di Riau. Warga bisa dipastikan bakal bangun. Karena selain ramai, arak-arakan Pengantin Sahur juga diiringi lagu Islami menggunakan alat pengeras suara.

Bila dulu diselenggarakan hampir setiap malam, sekarang arak pengantin hanya dilakukan pada Minggu malam saja.

Parcalan, Salatiga

cMr25oW3JI
ramadan.metrotvnews.com

Warga Salatiga membangunkan sahur dengan cara menabuh bebunyian dan berkeliling kampung. Bedanya, warga Salatiga menggunakan tabubhan seperti ember bekas, kentongan dari bambu, bedug dan juga besi bekas yang ditabuh dengan irama yang beraturan.

Tabuh Bedug Keliling Kampung, Jakarta

kiki widyasari bedug
negerihamesha.blogspot.com

Tradisi berkeliling kampung sambil membawa bedug di waktu sahur ternyata di mulai dari kebiasaan masyarakat betawi sejak ratusan tahun silam.

Konon, pada zaman Jakarta masih berupa hutan,warga membangunkan sahur dengan berkeliling kampung menggunakan bedug. Bukan hanya sahur, ngarak bedug ini juga digunakan sebagai penanda waktu imsyak dan buka puasa.

Di abad 19, warga betawi mulai mengenal petasan yang datang dari budaya Cina. Sejak saat itu, warga Jakarta mulai berpindah menggunakan petasan untuk membangunkan sahur.

Kemudian seiring perkembangan zaman, peralatan masyarakat pun dilengkapi dengan alat musik seperti rebana, kentungan dan genjring yang dipadukan dengan bedug.

 

SHARE