Wayang kulit adalah salah satu media hiburan sekaligus juga pada masa Wali Songo dulu dijadikan media dakwah Islam oleh Sunan Kalijogo.

Berbagai kisah pewayangan yang dibuatnya juga sarat kandungan nilai-nilai Islami, dan kala itu disesuaikannya dengan kondisi masyarakat, yang masih sangat tradisional dengan budaya hindu-budha yang kental.

Dakwah Islam pada masa dahulu tidak bisa dijalankan langsungan seperti sekarang, para Wali dan ulama dulu banyak mengalami berbagai kesulitan dan tantangan, serta harus pintar-pintar mengolah ide kreatifitas dalam berdakwah.

Dengan hiburan wayang kulit, dakwah yang ingin disampaikan pada masyarakat akhirnya bisa sampai dengan baik. Perlahan namun pasti, dakwah Islam mulai diterima dengan baik di tengah masyarakat.

Salah satu karakter favorit dalam cerita wayang kulit adalah sosok Semar. Semar memiliki beberapa versi dan filosofis, serta tentu sosoknya yang menarik dan sarat misteri selalu menjadi bahan cerita tersendiri.

Semar adalah salah satu tokoh punakawan, selai Gareng, Petruk, dan Bagong. Sosoknya gemuk dan selalu berjalan dengan tangan kiri melingkar ke belakang di atas pinggang.

Nah, tangan kanan Semar yang kanan selalu menunjuk dengan jari telunjuk saat berjalan atau berbicara. Ada filosofi yang mengatakan bahwa telunjuknya yang selalu menunjuk itu menegaskan bahwa hanya ada satu Tuhan.

Dari karakter sendiri, salah satu cerita dalam pewayangan bahwa sosok Semar adalah seorang Lurah, dan sering dipanggil dengan nama Kyai Lurah Semar Badranaya.

Nama Naya sendiri memiliki arti bijaksana, sesuai dengan penggambaran tokoh Semar yang selalu menjadi rebutan para Raja karena sosoknya yang bijaksana. Dan dia juga adalah pengasuh dari para Ksatria.

Ada satu ucapan khas Semar yang sarat makna, “Mbregegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng.”. Yang artinya: Diam, Bergerak, Makan,, Walaupun Sedikit, Abadi.

Maksud dari perkataan Semar tersebut bahwa daripada diam lebih baik seseorang itu berusaha/bergerak untuk lepas dan mencari makan walau hanya sedikit, karena hal tersebut bisa terasa abadi.