Yusril Ihza Mahendra. Nama lengkap lelaki kelahiran 5 Februari 1956 ini mungkin harus ditulis Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc. Lebih lengkap lagi dibubuhkan dengan gelar adatnya, Datuk Maharajo Palinduang.

Namanya sudah berkibar sebagai mantan menteri kehakiman dan menteri sekretaris negara. Seorang guru besar hukum, pengacara handal dan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB). Namanya semakin berkibar-kibar setelah mendeklarasikan diri sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta.

Yusril memang sudah punya nama besar. Namun selalu ada sisi lain dari pejabat yang belum banyak diketahui seseorang. Seorang Yusril pun memiliki banyak sisi lain yang amat humanis. Ia benar-benar menjadi manusia biasa. Seperti halnya selalu ada tawa dan tangis dalam kehidupan. Amat biasa.

4Ditilang Polisi

m.harianindo.com

Salah satu kisah yang cukup unik adalah perjuangannya saat ditilang oleh polisi. Kisahnya memang sudah terjadi lama, kira-kira tahun 1991 lampau.

Awalnya Yusril yang mengendarai mobil diberhentikan seorang polantas di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Ia pun menuruti perintah sang polisi saat diminta menunjukkan surat-suratnya.

“Saya bawa STNK dan SIM lengkap, lalu saya bertanya salah saya apa?” kisahnya mengenang kejadian tersebut.

Sang polisi pun mengatakan jika Yusril telah melanggar marka jalan. Yusril tak mau kalah, ia merasa tidak bersalah. “Saya bilang saya tidak salah karena kalau garis-garis putus itu boleh belok ke kiri, saya tidak salah,” ungkap dia.

Yusril mengaku sang polisi tetap bersikeras. Akhirnya ia ditilang dan harus menjalani persidangan. Di sisi lain, ia bersikeras tidak salah. Yusril bertekad dalam hati akan menjalani sidang dan membuktikan dirinya tidak salah. “Datanglah saya ke PN Jakarta Timur buat mengikuti sidang, ada banyak orang sopir angkot, sopir taksi dan lain-lain,” paparnya.

3Sempat Ditawari Calo

kanalhukum.id

Yusril pun berbaur dengan orang-orang biasa yang mengantri. Sejak datang jam 9 pagi, sidang belum juga dimulai hingga jam 1 siang. “Sampai saya ditawari calo suruh bayar 50 ribu sudah beres. Saya tidak mau, saya tetap mau ikut sidang.”

Saat menunggu pun ada kejadian yang menarik. Saat minum di sebuah warung, ia ditanya seseorang yang juga sedang menunggu sidang. “Biasa mangkal dimana ente?” ujar lelaki itu. Tanpa pikir panjang Yusril menjawab, “Di Senayan.”

Rupanya Yusril dikira sebagai seorang sopir taksi. Ia mengganggap biasa saja hal tersebut. Meningat memang banyak sopir sopir angkot dan taksi yang antri untuk sidang.

Setelah jam 2, Yusril pun dipanggil masuk sidang. Ia ditanya hakim apakah saya mengaku bersalah. “Saya jawab tidak, saya tidak salah.” Hakim menjawab kalau tidak mengaku salah bisa bertele-tele. Yusril pun tak gentar. “Ya tidak apa-apa akan saya ikuti prosesnya,” kenangnya.

www.teropongsenayan.com
www.teropongsenayan.com

Akhirnya sang hakim memutuskan memanggil polisi yang menilangnya dan menunda sidang pekan depan. Lantas sepekan kemudian, saat sidang si polisi yang menilang Yusril dihadirkan beserta temannya. Yusril protes kenapa polisi yang menilang satu yang dihadirkan dua.

Sang hakim pun bertanya kepada Yusril, apakah tetap merasa tidak bersalah? Yusril mengaku tetap tidak merasa bersalah.

2Tantang Hakim Sampai ke MA

klikkabar.com

Ia pun menantang sang hakim, jika ia diputus bersalah maka ia akan mengajukan kasasi hingga MA. Mendengar jawaban Yusril, sang hakim kaget bukan kepalang. Pasalnya tidak pidana yang dijalani Yusril termasuk tindak pidana ringan soal pelanggaran lalu lintas. Namun prosesnya harus diurus sampai MA.

Akhirnya diputuskan perkaya Yusril yang amat kecil itu dibawa ke MA. Yusril pun mengurus berkas ke panitera untuk banding. Ia hanya diberikan waktu selama dua minggu untuk menyiapkan memori kasasi.

Dalam memori kasasi Yusril pun mengajukan SIMnya sebagai barng bukti. Karena sebagai barang bukti, Yusril pun meminta keterangan jika SIMnya ditahan sehingga menjadi pegangannya agar tidak ditilang lagi.

1Sempat tak Punya SIM 9 Tahun

www.viraliva.com

Petualangannya tak berhenti disitu. Ternyata proses kasasi di MA memakan waktu bertahun-tahun. Yusril pun sampai menunggu 9 tahun dalam proses ini.

Selama 9 tahun itu pulalah ia tak punya SIM. Kemana-mana ia hanya membawa surat keterangan jika SIMnya dijadikan barang bukti. Baru saat ia akan dilantik jadi menteri kehakiman, ia mendapat kabar jika perkaranya baru saja diputuskan. Dan tebak, Yusril dinyatakan memang oleh MA dalam perkara tilang tersebut.

Bagi Yusril, kenapa ia tetap ngotot sampai menempuh ke MA pada perkara ringan seperti tilang STNK. Tak lain tak bukan karena ia ingin mempertahankan kebenaran meski sampai kiamat. “Apapun akan saya tempuh risikonya termasuk 9 tahun tak punya SIM tak masalah,” tutupnya.