Yusril Ihza Mahendra dikenal sebagai penulis pidato 3 presiden. Ia sudah bekerja di Istana Negara guna menulis pidato sejak pemerintahan Presiden Soeharto.

Ia juga masih dipercaya sebagai penuis pidato presiden di era kepemimpinan BJ Habibie dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Ada yang menarik dari pengalaman seorang Yusril saat ditarik menjadi salah satu penulis pidato presiden. Ia mengakui, menjadi penulis pidato presiden Soeharto adalah sesuatu yang ganjil bagi dia.

1Penentang Soeharto

www.viraliva.com

Yusril, seperti dikisahkannya sendiri, adalah seorang aktivis mahasiswa di UI. Sebagai aktivis ia terlibat dengan bayak demonstasi yang menentang pemerintahan Soeharto waktu itu. “Saya aktivis kampus UI sejak 1978,” kata dia

Bahkan Yusril pernah mengakui saat demo ia sering berurusan dengan aparat keamanan. Pasalnya, ia kerap menuliskan dalam sebuah spanduk besar kata-kata yang melawan Soeharto. “Saya bahkan pernah membakar patung Pak Harto saat demo,” ujarnya mengenang.

2Ditawari Istana

kanalhukum.id

Meski vokal melawan Pak Harto, ternyata gerak-geriknya diawasi istana. Ia ditawari bergabung dengan Sekretariat Negara untuk posisi penulis pidato presiden.

Menteri Sekretaris Negara waktu itu, Moerdiono mengaku tidak kenal Yusril secara pribadi. Namun melihat tulisan-tulisan Yusril di berbagai media, Moerdino mengaku kepincut. Tata bahasa, idiom yang dipakai Yusril membuat Moerdiono ingin merekrut Yusril sebagai penulis pidato presiden.

3Ragu-Ragu

m.harianindo.com

Awalnya Yusril ragu. Jelas, karena sebelumnya ia adalah seorang aktivis yang vokal menyerukan perlawanan terhadap pemerintah. Namun kini ia ditawari menjadi orang yang paling dekat dengan presiden.

Ia pun mengadukan masalah ini kepada seniornya, Anwar Haryono. Ternyata sang senior justru mendorong Yusril menerima tawaran istana. Alasannya sebagai media belajar. Merasa mendapat restu dari senior, Yusril memantapkan diri menerima tawaran menjadi penulis pidato presiden.

Selain restu dari senior, Yusril mengaku menerima tawaran di istana karena mendapat kebebasan dari Moerdiono. Moerdiono tak mempermasalahkan sikap vokal Yusril selama dilakukan di luar Istana dan dalam batas yang bisa dipertanggung jawabkan.

“Dia luar pagar istana ini anda orang bebas, silahkan menulis apa saja asal bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Yusril menirukan pesan Moerdiono tersebut.Merasa mendapat angin, ia pun makin mantap menjajal tawaran istana tersebut.

4Memahami Soeharto

www.teropongsenayan.com

Yusril bekerja menjadi penulis pidato presiden Soeharto selama 4 tahun dari 1994-1998. Tugas pokoknnya

membuat pidato presiden Soeharto serta surat-surat yang dibuat istana untuk urusan luar negeri maupun kepada lembaga negara.

Yusril mengaku menikmati pekerjaan barunya. Ia bisa memahami jalan pikiran Soeharto. “Saya menikmati, saya dapat memahami wawasan seorang presiden, saya mengerti apa kebijakan yang harus diambil dalam menanggapi isu,” ujar dia.

Dalam membuat pidato ia harus memahami bagaimana seorang Soeharto itu. Yusril harus memahami alam pikiran presiden, piliha kata, kultur, latar belakang.

“Saya harus belajar menggunakan idiom-idiom yang sering digunakan pak harto. Istilah asing jarang dipakai namun istilah jawa yang sering digunakan Pak Harto kita masukkan,” kisahnya.

5Kerja Tepat Waktu

www.teropongsenayan.com

Menulis pidato presiden diakui Yusril membutuhkan ketepatan waktu. Draf pidato harus ia selesaikan maksimal 1 hari sebelum pidato tersebut dibacakan.

Biasanya draf pidato selesai sore hari satu hari sebelum presiden pidato. Draf yang Yusril buat disampaikan ke atasanya dan ke Moerdiono untuk dikoreksi. Lalu setelah diperbaiki dikirim ke Presiden lewat ajudannya.

Yusril mengakui sosok Pak Harto adalah sosok presiden yang amat jarang mengedit banyak tulisan yang dibuat Yusril.

Pak Harto percaya saja dengan isi pidato yang dibuat Yusril. Bahkan Presiden jarang terlibat memberikan masukan. “Hanya pidato penting seperti saat  Agustus saja Pak Harto terlibat, selebihnya percaya sama kita,” paparnya.

6Misi Lewat Pidato

klikkabar.com

Yusril mengakui, setelah masuk istana, banyak kawa-kawan aktivis yang mencibirnya. Ia dianggap sudah lupa perjuangan saat ditawari jabatan di istana.

Bagi Yusril, ia menolak anggapan tersebut. Ia merasa justru saat menjadi penulis pidato presiden, ia bisa menuangkan gagasan secara langsung kepada presiden.

Apalagi saat itu setiap ucapan Pak Harto sangat didengar oleh rakyat, pemerintahan, militer maupun lembaga negara lain.

Yusril mengaku saat menulis pidato sebenarnya ia sedang menuliskan gagasannya. Lalu disampaikan ke masyarakat lewat kata-kata Presiden. Yusril juga diuntungkan. Sebabnya Presiden Soeharto adalah sosok yang amat jarang mengoreksi tulisan pidatonya.

Ia mengaku mulai banyak menyisipkan pesan-pesan Keislaman dalam pidato Presiden. Jika sebelumnya,Soeharto banyak menguatarakan gagasan yang sangat kejawen, kini Yusril mewarnainya dengan gagasan Islam.

“Jadi kalu bicara Pancasila kita sangkutkan dengan Islam dalam bab Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya,” papar Yusril mencontohkan.

Selain Islam, ia juga menggulirkan ide demokratisasi. Sesuatu yang nampaknya tidak berjalan penuh dalam pemerintahan Presiden. Pernah suatu saat saat membuka kampus Unversitas Andalas di Padang, Presiden

Soeharto menyampaikan tentang konsep demokratisasi dan keterbukaan semua aspek yang dimulai dari kampus.”Demokratisasi dan keterbukaan adalah hal yang amat jarang diungkapkan Presiden sebelumnya. Saya masuk lewat itu,” aku Yusril.

7Pidato Terakhir Soeharto

yimweb.blogspot.com

Meurut Yusril, pidato presiden Soeharto yang paling berkesan adalah pidato pengunduran dirinya yang dibacakan 21 Mei 1998.

Yusril mengaku membuat draf pidato tersebut sampai malam harinya. Saat ia sodorkan ke Presiden, Pak Harto minta ada tambahan soal kabinet ia bubarkan.

Yusril sebagai ahli hukum tata negara menolak ide presiden tersebut. Ia mengungkapkan alasan jika kabinet tak perlu bubar karena akan dilanjutkan oleh BJ Habibie.

Namun Soeharto tetap ngeyel dan minta ada hal soal pembubaran kabinet. “Ya sudah kalau kamu nggak mau nulis sini aku yang nulis,” kata Soeharto waktu itu.

Akhirnya draf tulisan tersebut ditambahkan soal pembubaran kabinet dan permintaan maaf kepada rakyat Indonesia memakai tulisan tangan.

Pidato pengunduran presiden itu dibuat 3 rangkap. Salah satunya dibawa oleh Yusril. Setelah Soeharto mundur, ia menyerahkan kopi pidato tersebut ke Arsip Nasional.

Tujuannya sebagai bukti sejarah bahwa Presiden Soeharto sudah mengungkapkan permintaan maaf lewat bukti otentik tulisan tangan dalam pidatonya.